Antara Cai Gunung Karang dan Teluk Benoa: Perbedaan Strategi Penolakan Warga Terhadap Perusahaan Swasta

Kategori: Berita Terkini

Pada Bulan Mei 2016 saya bersama tim penelitian Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI melakukan kunjungan lapangan di Banten dan Bali sebagai metode pencarian data. Tepatnya antara 2 sampai 4 Mei 2016 kami berkesempatan untuk terlebih dulu ke Banten, baru pada minggu terakhir (15-22 Mei 2016) melakukan pencarian data di Bali. Sebelum mencapai kedua lokasi tersebut kami telah melakukan inisiasi kontak dengan nara sumber melalui jaringan peneliti maupun aktivis NGO yang terlibat dan atau mengetahui mengenai persoalan terkait dengan konflik air, selain memiliki pemahaman mengenai konteks lokalnya.

Di kedua lokasi tersebut, kami melihat dari dekat bagaimana masyarakat mengekspresikan penolakan mereka terhadap perusahaan swasta yang berkepentingan terhadap penguasaan akses pada sumber mata air. Jika di Banten, masyarakat Desa Cadasari “berhadapan” dengan PT Tirta Fresindo Jaya, anak perusahaan Mayora, maka di Bali, masyarakat di Kabupaten Badung “berhadapan” dengan PT Tirta Wahana Bali Internasional.

Terdapat fenomena menarik dari bentuk-bentuk ekspresi penolakan warga lokal terhadap kehadiran “pihak luar” yang dianggap mengganggu akses pada sumber daya (mata) air. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan bahwa pada tataran tertentu, meskipun sama-sama memprotes perusahaan, namun ada perbedaan strategi.

septi 1

 septi 2

 

 

 

 

 

 

            Credit photo by Yogi                              Credit photo by Irine

Di foto sebelah kiri, tampak spanduk yang ditulisi kalimat-kalimat penolakan oleh Masyarakat Cadasari menggunakan media yang sederhana. Sebagai warga yang mayoritas beridentitas Muslim, para pemrotes menggunakan atribut yang mencerminkan identitas kesantrian mereka seperti sarung, baju koko dan peci. Dalam rangkaian protes di Pandeglang, kaum santri dan ulama tampaknya satu suara dalam ‘melawan’ PT Tirta Fresindo Jaya. Namun demikian, tidak semua kelompok mempunyai kesamaan metode atau strategi melawan. Ada yang secara total menolak, namun ada pula yang menolak dengan metode yang ‘tidak langsung’ karena alasan tertentu.

Hal ini agak berbeda dengan ekspresi penolakan reklamasi Teluk Benoa di Bali. Rangkaian protes yang semakin masif sejak dilakukan kurang lebih tiga tahun terakhir ini telah berhasil menyatukan hampir seluruh lapisan warga di kota maupun di desa-desa adat. Hampir semua warga yang menolak tergabung dalam satu identitas ForBali. ForBali adalah aliansi masyarakat sipil Bali lintas sektoral yang terdiri dari lembaga dan individu baik mahasiswa, LSM, seniman, pemuda, musisi, akademisi, dan individu-individu yang peduli lingkungan hidup dan mempunyai keyakinan bahwa Reklamasi Teluk Benoa adalah sebuah kebijakan penghancuran Bali.[1] Dalam setiap aksi, mereka mengenakan pakaian adat berupa kain dan ikat kepala khas Bali (udeng) yang dilengkapi bendera maupun kaos beragam warna bertuliskan ‘Bali Tolak Reklamasi’ selain tulisan ForBali. Hanya tulisan yang tertera di kaos mereka yang menjadi penanda perbedaan asal wilayah mereka, yang umumnya mencerminkan asal wilayah banjar atau desa adat.

Meskipun dalam format yang berbeda, dan dampaknya pun berbeda, aksi-aksi protes warga di Banten maupun Bali telah menggunakan media komunikasi yang canggih.Warga Pandeglang umumnya menggunakan telepon genggam ketika mendokumentasikan setiap aksinya, untuk disebarkan melalui fitur semacam whatsapp. Sementara, warga dari berbagai Banjar yang tergabung dalam ForBali menggunakan perangkat drone untuk mengabadikan setiap aksinya. Penggunaan drone ini mempengaruhi jangkauan pesan protes mereka untuk tersebar secara lebih masif di ranah lokal, nasional bahkan internasional melalui media sosial.

ForBali juga  menggunakan media change.org untuk menggalang opini seluas mungkin tentang tolak reklamasi Teluk Benoa. Sebagai bagian dari penarik massa, ForBali sejak awal mengundang keterlibatan artis Superman Is Death (SID) dalam mengkampanyekan penolakan mereka terhadap reklamasi Teluk Benoa. SID adalah musisi asal Bali yang telah sangat  tenar, dan memiliki penggemar di dalam serta luar negeri. Oleh sebab itu peran SID cukup strategis pada setiap aksi-aksi protes ForBali dalam menyebarluaskan pesan Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Selain itu ForBali juga memiliki situs web yang beralamat di http://www.forbali.org/id/. Dalam situs tersebut, masyarakat luas dapat setiap saat mengakses informasi terkait aksi mereka dalam tolak reklamasi teluk Benoa. Situs ini juga berisi penjelasan tentang ForBali, kajian dan argumentasi mengapa mereka menolak reklamasi teluk Benoa hingga donasi dukungan untuk ForBali.[2] Ini juga yang menyebabkan aksi penolakan teluk Benoa relatif terorganisir dan sustain.

Berbeda dengan di Bali, penolakan masyarakat Desa Cadasari tidak sampai terwadahi dalam satu forum bersama (identitas penolakan) yang mampu menghimpun aksi-aksi mereka. Memang aksi mereka bisa dilihat dalam pemberitaan media lokal maupun nasional namun tidak ada situs ‘resmi’ yang mampu menjadi corong informasi setiap aksi mereka. Dalam setiap aksi, juga tidak ada kejelasan mengenai sumber dukungan materi dan non materi bagi aksi mereka.[3] Tidak dengan ForBali. Dalam situsnya, ForBali dengan terang menghimbau untuk memberikan donasi bagi perjuangan mereka. Wacana yang dibangun oleh ForBali adalah pihak perusahaan yang mereka hadapi memiliki sumber daya dan dana yang tidak terbatas sehingga mampu melakukan apa pun dengan biaya berapa pun untuk memastikan reklamasi terus berlangsung[4] sehingga dengan berdonasi berarti juga turut mendukung penolakan terhadap perusahaan yang akan melakukan reklamasi di Teluk Benoa tersebut.

septi 3

    septi 5septi 4

 

 

 

 

 

 

           Credit photo by Yogi                                   Credit photo by Irine                        Credit photo by Irine

Dilihat dari aspek wacana, aksi-aksi protes di Banten maupun Bali hampir serupa. Keduanya mengaktifkan unsur-unsur identitas reliji yang dominan untuk mengeskpresikan ketidaksetujuan mereka pada pihak luar yang dianggap mengganggu keseimbangan ekosistem sumber daya alam. Jika ForBali menggunakan simbol-simbol dari agama Hindu sebagai argumen untuk menolak reklamasi Teluk Benoa, maka warga Pandeglang menggunakan nilai-nilai dan simbol-simbol yang merepresentasikan agama Islam. Maka bentuk-bentuk kolaborasi yang muncul pada aksi protes di kedua lokasi tersebut juga serupa, dengan cara ‘menggandeng‘ desa adat dalam gerakan tolak reklamasi di Bali; sementara aksi-aksi protes di Pandeglang, Banten menonjolkan kolaborasi antara ulama, para pemimpin pondok pesantren dan santri-santri.

Satu aspek berbeda yang agak menonjol adalah ‘kesamaan’ pandangan mengenai penolakan di kalangan elemen gerakan di dua lokasi. Dalam gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa di Bali, desa-desa adat yang dipimpin bendesa tampak telah solid dalam menyetujui gerakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Sedangkan, pada konteks aksi-aksi protes melawan anak perusahaan PT Mayora, para ulama dan pemimpin pondok pesantren di Pandeglang tampaknya ‘belum’ memiliki pandangan yang sama dalam mensikapi kasus di Desa Cadasari.

Perbedaan di atas dapat saja disebabkan oleh seberapa jauh internalisasi mengenai urgensi isu yang diperjuangkan diterima oleh warga di dua lokasi. Selain itu, tergantung juga pada jangkauan atau gaung isu-isu yang tergantung pada luasnya jaringan. Salah satu faktornya adalah di Bali, jejaring aktivis lingkungan hidup dan aktivis pro demokrasi 98 yang secara masif menularkan wacana mereka ke masyarakat luas.

Sementara itu, pesan dari rangkaian aksi protes warga Pandeglang terhadap PT Tirta Fresindo Jaya di Desa Cadasari belum tersampaikan secara sustain dan kuat, atau belum dapat menembus hingga level nasional. Isu penolakan ini hanya terdengar keras di wilayah Kabupaten Pandenglang, Serang dan  paling jauh di kalangan dinas terkait, di Provinsi Banten. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh ketidakmenyatuan pemahaman warga pada wacana  penolakan.

Endnote:

  1. http://www.forbali.org/id/tentang-kami/
  2. http://www.forbali.org/id/
  3. Berdasarkan wawancara dengan salah satu narasumber di Pandeglang, sumber dana aksi mereka datang dari empat perusahaan air isi ulang yang berada di sekitar lokasi yang merasa terancam dengan hadirnnya PT Tirta Fresindo Jaya.
  4. http://www.forbali.org/id/donasi-dukungan/