Welcome to Our Site.

Antoine de Rivarol once said  "familiarity is the root of the closest friendships".
And we have provided you with this Website so that you can get to know us better, to learn about our research activities and all the research topics that we are currently working on.
Please contact us if you need further information and if you would like to order any of our publications.

Home Events Kunjungan Mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia
Kunjungan Mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia PDF Print
Written by Lidya Christin Sinaga   
Tuesday, 11 December 2012 11:29
There are no translations available.

Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI pada 21 November 2012 mendapat kunjungan dari mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Berjumlah lebih kurang 25 orang, mahasiswa Program Strategi dan Hubungan Antarabangsa ini dipimpin oleh Prof. Madya Dr. Zarina Othman, Ketua Program Strategi dan Hubungan Antarabangsa Pusat Pengajian Sejarah, Politik dan Strategi Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan UKM. Kunjungan akademis dalam bentuk Regional Graduates Network atau Jaringan Siswazah Nusantara ini bertujuan untuk melakukan Round Table Discussion dengan tema “Isu Keselamatan Bukan Tradisional dan Implikasinya Terhadap Kestabilan Rantau Asia Tenggara”.

Acara dibuka dengan sambutan selamat datang dari Prof. Dr. Syamsuddin Haris, MSi, Kepala P2P LIPI dan sambutan dari Prof. Zarina Othman. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang dipimpin oleh Dr. Adriana Elisabeth, Kepala Bidang Perkembangan Politik Internasional P2P-LIPI.
 
Presentasi dari P2P LIPI dibawakan oleh Tri Nuke Pudjiastuti, MA, peneliti senior P2P-LIPI dengan judul “Non-traditional Security Issues and the Implication toward Southeast Asia Stability”. Ada beberapa isu keamanan non-tradisional di Asia Tenggara, diantaranya penyelundupan dan perdagangan narkoba, penyelundupan senjata, terorisme, displacement persons (IDPs, pengungsi, asylum seekers), penyelundupan dan perdagangan manusia, cyber crime, krisis kesehatan (flu burung), degradasi lingkungan (polusi asap), dan korupsi. Dari isu-isu tersebut, Nuke memfokuskan paparannya pada isu migrasi internasional sebagai faktor keamanan non-tradisional di Indonesia. Sebagaimana diketahui, dalam hal migrasi internasional, Indonesia merupakan negara sumber, tujuan, sekaligus transit. Indonesia pada dasarnya telah memiliki prosedur dan regulasi, namun permintaan yang tinggi di luar negeri seringkali membuat peraturan dan prosedur ini diabaikan. Di tingkat regional, hanya Filipina yang meratifikasi International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers (ICRMW). Indonesia dan Vietnam hanya menandatanganinya.

Presentasi dari UKM dibawakan oleh tim yang terdiri dari Nur Ruhana Nasuha binti Abdullah Jian , Abdul Halim bin Mahamud, dan Hasma binti Hashim. Dalam makalahnya yang berjudul “Keselamatan Non Tradisional dan Kestabilan Rantau Asia Tenggara”, tim dari UKM ini memfokuskan pembahasannya pada isu terorisme, penyelundupan narkoba, dan penyelundupan senjata kecil dan ringan. Peristiwa Bali Bombing tahun 2002 merupakan peristiwa penting yang memperlihatkan bagaimana rangkaian Al-Qaeda memberi dampak terhadap kestabilan negara dan Asia Tenggara. Amerika Serikat meletakkan Asia Tenggara sebagai ‘second front’ dalam  perang terhadap terorisme. Terkait isu perdagangan narkoba, mengutip World Drug Report Tahun 2012, terjadi peningkatan illicit manufacturing bagi amphetamine-type stimulants (ATS) di wilayah Asia Tenggara, seperti Kamboja, Indonesia, dan Malaysia yang menjadi negara transit utama hinga kini. Sindikat narkoba biasa dikaitkan dengan isu lainnya, seperti  penyeludupan manusia, senjata, dan buruh anak-anak. Penyeludupan senjata kecil dan ringan dilakukan oleh aktor nonnegara, berkembang dari negara gagal/lemah kepada negara gagal/lemah yang lain dengan dana dari luar, baik dari kegiatan terorisme ataupun hasil kejahatan nontradisional lainnya. Di akhir paparannya tim dari UKM ini menyimpulkan bahwa isu keamanan nontradisional mempengaruhi kestabilan wilayah Asia Tenggara. Prinsip non-interference yang masih dijunjung tinggi di ASEAN menjadi hambatan dalam kerangka keamanan Asia Tenggara.
 
Setelah pemaparan dari kedua narasumber, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Acara yang berlangsung selama hampir dua jam ini kemudian diakhiri dengan tukar menukar cindera mata antara kedua belah pihak dan foto bersama. (Lidya Christin Sinaga)
 

 

 
HAK CIPTA: Seluruh artikel yang ada di website ini Boleh diperbanyak atau dikutip dengan menyebutkan sumbernya.

Pusat Penelitian Politik - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI)
Gedung Herbarium Bogoriense LIPI, Lantai IV
Jl. Ir. H. Juanda No. 22, Bogor, Jawa Barat 16122
Telp/Fax: (0251) 8321038  | Email: politik@mail.lipi.go.id
Copyright © 2009. All Rights Reserved.