Seminar Internal “When the Supporters Do Not Support: Politicizing a Soccer Fan Club in an Indonesian Election”

Kategori: Kegiatan
Ditulis oleh Lidya C. Sinaga

intern yogiPada tanggal 20 Maret 2018, Pusat Penelitian Politik LIPI kembali mengadakan seminar intern dengan menghadirkan salah satu peneliti dari Kelompok Peneliti Politik Lokal, Yogi Setya Permana, SIP, MA sebagai pembicara. Peneliti yang akrab dipanggil Yogi ini mendiseminasikan artikel terbarunya yang dipublikasikan di Contemporary Southeast Asia (Vol. 39, No.3, 2017) yang berjudul “When the Supporters Do Not Support: Politicizing a Soccer Fan Club in an Indonesian Election”.

 

Artikel ini didasarkan pada riset yang berangkat dari proposisi bahwa sebuah klub penggemar sepakbola dapat digunakan untuk mobilisasi elektoral. Dengan mengambil studi kasus pada pemilihan kepala daerah (pilkada) kota Batu, Jawa Timur tahun 2017, penelitian ini justru mempunyai temuan menarik yang membuat kita tidak lagi dapat secara sederhana mengasumsikan bahwa kelompok penggemar sepakbola dapat dengan mudah dikonversi menjadi bank suara.

 

Aremania merupakan sebuah kelompok pendukung tim sepakbola Arema, sebuah tim legendaris dari kota Malang, Jawa Timur. Kemunculan Arema sendiri sebagai sebuah tim sepakbola lokal pada tanggal 11 Agustus 1987 sangat terkait dengan tradisi perkelahian massal yang melibatkan kelompok anak muda (youth gangsters) di sekitaran wilayah Malang. Untuk mengatasi rivalitas antar kelompok yang pada masa itu kerap memicu bentrokan penuh kekerasan, A. Acub Zaenal, Lucky Acub Zaenal, dan Ovan Tobing, mendirikan Arema yang diharapkan dapat membangun sebuah identitas bersama bagi anak-anak muda Malang. Itu sebabnya dipilih nama Arema yang tak lain adalah singkatan dari Arek Malang. Sempat memiliki Arema Fans Club (AFC) tahun 1988, klub ini akhirnya bubar tahun 1994 karena dirasa terlalu eksklusif dan dikontrol oleh militer dan Partai Golkar. Semangat untuk bebas dari kooptasi pemerintah akhirnya membuat anak-anak muda ini membentuk kelompok baru tanpa struktur organisasi dan pemimpin formal. Istilah “Aremania” yang kerap digunakan para pendukung pada saat itu, akhirnya menjadi nama baru yang digunakan hingga kini. Aremania kini telah tumbuh bukan sekedar medium bagi penggemar Arema, melainkan juga sebuah identitas bagi penduduk Malang, bahkan bagi mereka yang bukan penggemar sepakbola.

 

Konteks lokal ini lah yang menurut master lulusan dari Australian National University ini sebagai faktor yang menentukan di balik tidak mudahnya menggunakan organisasi sosial semacam kelompok pendukung tim sepakbola ini untuk tujuan elektoral. Aremania dengan segala pengalaman historisnya sejak awal memang mempunyai aturan tidak tertulis untuk tidak terlibat dalam politik praktis. Dengan menjaga jarak dari politik formal, Aremania berharap akan mampu memelihara perannya dalam memfasilitasi terbentuknya identitas yang menyatukan dan melindungi bagi para pendukungnya. Itu sebabnya, meskipun salah satu kandidat dalam Pilkada Kota Batu tahun 2017 adalah istri dari mantan Walikota Batu selama 2 periode (2007-2012 dan 2012-2017), Eddy Rumpoko, yang notabene mempunyai rekam jejak yang panjang bersama Arema dan Aremania, kemenangan Dewi Rumpoko dalam Pilkada tersebut lebih karena faktor posisinya sebagai istri dari Eddy Rumpoko. Sebagai istri petahana saat musim kampanyenya, Dewi mempunyai kesempatan untuk memobilisasi sumber daya dan memanfaatkan birokrasi sebagai mesin politik yang kuat hingga pedesaan. Kemenangan Dewi akhirnya diperoleh tanpa menggantungkan pada jejaring Aremania. Hal ini tentu menjadi pilihan logis bagi Dewi daripada menggunakan Aremania dan akan dianggap merusak budaya organisasi yang telah terpelihara selama lebih dari dua dekade.

 

Sepakbola dan politik merupakan topik bahasan penting seiring popularitas olahraga ini pada tingkat global dan loyalitas penggemarnya yang berpotensi menjadi kekuatan elektoral yang kuat. Dalam konteks ini, riset yang dilakukan Yogi merupakan sebuah terobosan di tengah minimnya studi yang menganalisa secara terperinci bagaimana para pendukung sebuah klub sepakbola dimobilisasi pada level akar rumput selama kampanye politik. (Lidya C. Sinaga)