Catatan dari Diskusi “Situasi Keamanan di Asia Tenggara dan Dampaknya pada Pembangunan “Belt and Road”

Kategori: Kegiatan
Ditulis oleh Irine H. Gayatri

irine2Salah satu peneliti senior P2Politik LIPI, Irine Hiraswari Gayatri, MA, baru saja kembali dari menghadiri Seri Diskusi Yunshan Academy yang ke-196 dengan tema “Situasi Keamanan di Asia Tenggara dan Dampaknya pada Pembangunan Belt and Road Initiative". Diskusi yang diadakan di Ruang 304 Institut Studi Strategis Internasional Guangdong-Tiongkok pada tanggal 3 April 2018 ini menghadirkan dua orang pembicara dari Indonesia, yaitu Irine Hiraswari Gayatri, MA, peneliti senior dari Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2Politik-LIPI) dan Dr. Munajat Stain, Staf Ahli Deputi 5 dari Kantor Staf Presiden Republik Indonesia. Sebagai moderator diskusi ini adalah Profesor Zhou Fangyin dari Institut Studi Strategis Internasional Guangdong.

Dalam presentasinya, Irine menganalisis situasi di dunia dan Asia Tenggara, serta  merangkum lingkungan yang dihadapi Indonesia saat ini. Ia menunjukkan bahwa di bawah pengaruh terorisme global, Indonesia juga menghadapi berbagai masalah, seperti terorisme, keamanan siber, penanganan hubungan dengan kelompok-kelompok Islam, serta sejumlah serangan teroris yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menanggapi berbagai permasalahan ini, Irine mengusulkan ide-ide baru untuk menghentikan aksi-aksi kekerasan ekstrim. Dia percaya bahwa Tiongkok dan Indonesia harus terus mempererat kerja sama kedua negara di bawah kerangka "Belt and Road Initiative", dan bersama-sama berjuang melawan aksi-aksi teroris.

Sementara itu, Dr. Munajat menyampaikan gambaran umum mengenai “Belt and Road” dan proyek-proyek pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia, serta gambaran mengenai konsep “Indonesia Centris”. Menurut Munajat, “Indonesia Centris” adalah konsep yang diusulkan oleh pemerintah Indonesia untuk urusan maritim, pembangunan infrastruktur, pariwisata, dan lain-lain. Konsep ini bertujuan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi, serta mempromosikan keadilan dan kesetaraan. Dr. Munajat kemudian menganalisis terorisme di Asia Tenggara dan membandingkan karakteristik serta bentuk terorisme sebelum dan sesudah tahun 2005. Pada akhir presentasinya, Dr Munajat membuat prediksi tentang perkembangan situasi di Asia Tenggara.

Dalam sesi diskusi, Dr. Yan Caesar, Associate Professor pada Institut Studi Strategis Internasional, dan Dr. Wu Yan, peneliti pada Institut Studi Strategi Internasional Guangdong, serta dua pembicara utama melakukan diskusi yang hidup tentang bagaimana Indonesia dapat belajar dari pengalaman Eropa dan permasalahan Laut Cina Selatan dalam upaya melawan terorisme. (Irine H. Gayatri)

irine1