Seminar Intern “Analisis Recruitmen dan Kaderisasi Partai Politik pada Fenomena Calon Tunggal: Petahana: Studi Kasus Pilkada Kabupaten Pati 2017”

Kategori: Kegiatan
Ditulis oleh Septi Satriani

Pada Selasa, 13 Maret 2018, Pusat Penelitian Politik (P2Politik) LIPI mengadakan seminar intern dengan tema “Analisis Rekruitmen dan Kaderisasi Partai Politik pada Fenomena Calon Tunggal: Petahana: Studi Kasus Pilkada Kabupaten Pati 2017”. Bertempat di Ruang Seminar Besar Gedung Widya Graha Lantai 11, seminar kali ini menghadirkan Danny Widodo, mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Diponegoro, Semarang, yang sedang magang di P2Politik LIPI. Pada kesempatan tersebut, Danny menyatakan bahwa kemunculan calon tunggal petahana di pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Pati 2017 tidak lepas dari gagalnya proses kaderisasi dan rekruitmen di partai politik. Alih-alih mendukung pencalonan kader dari internal partai politik, partai politik yang ada justru memilih bermain aman dengan mendukung pasangan calon petahana, yaitu Haryanto dan Saiful Arifin. Menurut Danny, dukungan parpol kepada pasangan ini tidak lain karena tingkat elektabilitas yang dimiliki serta dukungan ekonomi dari pasangan tersebut. Danny menambahkan bahwa kuatnya dukungan partai politik kepada pasangan petahana dikarenakan petahana dianggap memiliki keunggulan dalam hal sumber daya politik dan jaringan yang telah dibangun selama periode kepemimpinan sebelumnya.

 

Lebih lanjut Danny menganalis bahwa delapan dari sembilan partai politik yang ada di DPRD Kabupaten Pati lebih memilih untuk mengusung petahana karena kalkulasi politik. Konfigurasi politik dan distribusi kekuatan partai politik yang ada di Kabupaten Pati memperlihatkan bahwa perolehan kursi yang ada di DPRD untuk Partai Nasdem, PKB, PKS, PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, PPP dan Hanura antara 3-8 kursi. Menurut Danny, Kabupaten Pati yang dulunya identik sebagai basis massa PDIP ternyata telah mengalami pergeseran pada pemilu tahun 2014 dengan hadirnya Partai Gerindra maupun Demokrat yang mampu mengimbangi suara PDIP di legislatif. Baik PDIP maupun Gerindra sama-sama  memiliki 8 kursi. Namun, meski sama-sama memiliki 8 kursi, kedua partai politik ini tidak mampu memperoleh dukungan di setiap daerah pemilihan (dapil) secara mutlak. Artinya, masing-masing partai politik memiliki kekuatan yang merata di setiap dapil. Hal inilah yang dibaca oleh Danny sebagai faktor yang memengaruhi dukungan partai politik pada pasangan petahana. Apalagi karakteristik masyarakat Kabupaten Pati yang menurut Danny bisa dikategorikan sebagai kaum santri, abangan, dan urban membuat partai politik yang berbasis ideologi nasionalis dan agama bisa bersanding. Hal ini berbanding lurus dengan perolehan suara untuk pasangan petahana yang mencapai 74,51%. Danny melihat pencapaian suara ini merupakan representasi dari kelompok abangan dan santri tersebut. Sementara kelompok urban direpresentasikan dalam suara kotak kosong yang mencapai 25,49% dan golput yang mencapai 31,35% dari total daftar pemilih tetap.

 

Menurut Danny, fenomena hadirnya kotak kosong ini karena adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Haryanto dan Saiful Arifin terutama dalam kasus pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng, penutupan potensi tambang batu di Gunungwungkal, serta naiknya ongkos pembuatan sertifikat tanah. Namun, narasi ketidakpuasan ini tidak mampu membendung keduanya untuk tetap terpilih kembali. Sayangnya pada titik ini, Danny kurang mengupas lebih dalam mengapa wacana ketidakpuasan ini kurang bisa bekerja maksimal untuk memengaruhi pandangan pemilih terutama di kelompok abangan dan santri.

 

Danny lebih memilih menyoroti dari perspektif organisasi kepartaian itu sendiri. Bagi Danny, suatu organisasi tidak akan berjalan dengan baik jika tidak dibarengi dengan proses kaderisasi dan rekruitmen yang baik, seperti halnya pada partai politik. Asumsi yang dibangun oleh Danny adalah ketika proses kaderisasi dan rekruitmen berjalan dengan baik, maka pengelolaan partai politik akan berjalan dengan baik pula, dan akhirnya partai politik mampu menyumbangkan kader-kader terbaiknya dalam jabatan-jabatan politik yang ada. Dukungan partai politik yang ada kepada calon petahana di Pilkada Kabupaten Pati, bagi Danny adalah gambaran tidak berjalannya proses rekruitmen dan kaderisasi di tubuh partai politik tersebut. (Septi Satriani)