Seminar Akhir Hasil Penelitian Pusat Penelitian Politik LIPI Tahun 2018 (1)

Kategori: Kegiatan
Ditulis oleh Lidya Christin Sinaga

Selama tiga hari, 6-8 November 2018, Pusat Penelitian Politik LIPI mengadakan Seminar Akhir Hasil Penelitian Pusat Penelitian Politik LIPI. Bertempat di Widya Graha LIPI lantai 11, seminar ini menghadirkan presentasi dari 11 perwakilan tim penelitian yang selama kurang lebih 10 bulan ini telah melaksanakan proses penelitiannya masing-masing.

 

Hari pertama, 6 November 2018, terdapat empat sesi presentasi. Pertama, Drs. Heru Cahyono mewakili Tim Penelitian Desa mempresentasikan hasil penelitiannya berjudul “Pengelolaan Dana Desa: Studi dari Sisi Demokrasi dan Kapasitas Desa”. Hadir sebagai pembahas naskah tim ini adalah Gema Satria Mayang Sedyadi dari SMERU dengan moderator Yogi Setya Permana, SIP, MA. Menurut tim ini, kendati menerapkan perundangan yang sama, pengelolaan dana desa di dua desa yang menjadi objek penelitian, sangatlah berbeda. Hal ini terjadi karena sejumlah distorsi, seperti ketergantungan pada gaya kepemimpinan dan kapasitas kepala desa; masyarakat yang masih belum sepenuhnya terbiasa untuk berpartisipasi baik dalam bentuk menyampaikan aspirasi maupun mengkritisi kepala desa; dan peran kabupaten yang belum mempunyai standard yang sama antara satu dengan lainnya.

 

Sesi kedua dibawakan oleh Lidya Christin Sinaga, SIP, MA sebagai wakil dari tim penelitian Minoritas Tionghoa. Dalam laporannya yang berjudul “Respons Etnis Tionghoa Mengenai Kebijakan Negara terhadap Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru, tim ini menyimpulkan bahwa etnis Tionghoa, yang dalam penelitian ini diwakili oleh organisasi etnis Tionghoa, telah merespon dengan baik terkait tersedianya ruang yang kondusif untuk mengekspresikan tradisi dan budaya Tionghoa pasca Orde Baru, demikian pula halnya dari aspek representasi dan partisipasi. Namun, strategi organisasi belum beranjak dari pola tidak menampilkan dimensi politik organisasi secara eksplisit dikarenakan persoalan keamanan yang belum sepenuhnya terpenuhi, meskipun periode reformasi telah berjalan lebih dari dua dekade. Sesi ini menghadirkan Johanes Herlijanto, PhD., dosen Universitas Pelita Harapan sebagai pembahas, dengan moderator Sutan Sorik, SH.

 

Sesi ketiga, Imam Syafi’I, S.Hum, M.Hum mewakili tim Sumber Daya Alam menyampaikan hasil penelitian yang berjudul “Penyusunan Indikator Indeks Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam”. Menghadirkan Ir. Gunawan, MA sebagai pembahas, tim pada tahun ini menawarkan empat variabel dalam penyusunan indeks kapasitas pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya alam, yaitu perizinan, akses informasi, pelibatan publik, maupun pengelolaan dampak dilihat dari perspektif regulasi/situasi ideal maupun di level praksisnya, yang kemudian diturunkan ke dalam dua indikator utama, yakni terkait dengan kelembagaan dan sumber daya manusia.

 

Sesi terakhir pada hari pertama ini ditutup dengan presentasi dari tim Otonomi Daerah yang dipaparkan oleh Dini Suryani, SIP, MA. Dalam laporannya yang berjudul “Aktor di Balik Tuntutan Otonomi Khusus: Studi Kasus Bali dan Maluku Utara”, tim menyimpulkan dua hal utama. Pertama, aktor yang menuntut otonomi khusus didominasi oleh kalangan elite yang memanipulasi kepentingan, sehingga seolah-olah untuk kepentingan masyarakat. Kedua, dinamika antar aktor menunjukkan terjadinya persaingan internal antar elite yang menuntut otonomi khusus. Sesi ini dimoderatori oleh Pandu Yuhsina Adaba, SIP., dengan pembahas Panji Anugrah Perdana, PhD., dari Universitas Indonesia. (Lidya Christin Sinaga)

akhir1

akhir3

akhir2