Data Storytelling Workshop

Kategori: Kegiatan
Ditulis oleh Yusuf Maulana

Di era serba data dan informasi saat ini, semua informasi harus berdasarkan data yang valid dan konkret. Beragam data tersedia baik yang bersifat personal, jurnalistik, maupun statistik merupakan tantangan tersendiri di tengah tuntutan penerapan data secara masif dalam penelitian. Selain itu, tidak semua dari kita mempunyai tingkat literasi data yang mumpuni, termasuk bagaimana menyampaikan data secara efektif. Untuk itu, Pusat Penelitian Politik (P2Politik) LIPI pada Selasa, 23 Juli 2019 mengadakan workshop mengenai “Data Storytelling”. Menghadirkan Purnama Alamsyah, S.E, M.Ilkom (Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi) sebagai pembicara, workshop yang mengambil tempat di Ruang Seminar Utama P2Politik ini  dimoderatori oleh Mario Surya Ramadhan, S.Sos, M.NatSecPol (peneliti P2Politik LIPI).

Dalam paparannya, Purnama menjelaskan bahwa data storytelling adalah cara mengkomunikasikan data dengan membangun sebuah cerita yang mudah dimengerti dan mampu meyakinkan audiens bahwa ada nilai action plan yang dapat dilakukan. Cerita tersebut harus didukung dengan data/fakta dan analisa yang sesuai, sehingga kita dapat memberikan rekomendasi dan action plan yang sesuai kepada audiens. Dengan kata lain, inti dari data-storytelling adalah meyakinkan audiens atas hasil data science yang telah dilakukan.

Saat ini data-storytelling adalah salah satu kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh setiap peneliti sebagai data scientist/data analyst. Tanpa data-storytelling yang baik, banyak hasil analisa dan penelitian yang dilakukan akan terbuang percuma karena pihak pemerintah atau pemangku kepentingan tidak dapat menjalankan hasil rekomendasi kita. Fokus utama data storytelling dalam penelitian sosial adalah untuk membujuk pemerintah atau pemangku kepentingan terkait dengan rekomendasi kebijakan berbasis penelitian.

Dengan menggunakan data storytelling, diharapkan sesuatu yang kompleks seperti hasil penelitian menjadi lebih sederhana, sehingga data yang sudah dikemas dalam bentuk cerita akan lebih melekat pada audiens. Secara psikologis, cerita adalah sesuatu yang mengandung emosi sehingga mempunyai dampak yang akan lebih mudah diingat dan dimengerti oleh audiens. Purnama juga mengatakan di era sekarang membuat story telling yang kreatif menjadi salah satu kunci penting kesuksesan pemasaran sebuah produk atau jasa, sebagaimana yang disebutkan pakar pemasaran Seth Godin, “People don’t buy your product or services. They buy your stories.”

Selain menyampaikan materi mengenai data storytelling, Purnama juga mengajak peserta untuk langsung mempraktikkan bagaimana membuat data storytelling yang menarik  bagi audiens. Dengan tujuan agar lebih mudah dalam mempelajarinya, workshop kali ini diawali dengan  penggunaan software yang biasa digunakan sehari-hari yaitu microsoft office dan dilanjutkan dengan pengenalan terhadap beberapa aplikasi pendukung data storytelling, seperti Power BI, Tableau, Micro Strategy, Open Street Map, dan aplikasi pendukung pengolah data statistik yang lebih mudah secara user interface seperti Jamovi dan JASP.

Dalam praktiknya, pembuatan data storytelling biasanya membutuhkan dua orang, yaitu data scientist dan data visualization expert. Hal tersebut diperlukan karena dalam membuat data storytelling, bahan yang perlu dipersiapkan biasanya berupa narasi, struktur dan alur, serta komunikasi visual. Dengan demikian, akan dihasilkan narasi dan komunikasi visual yang baik dalam membuat suatu cerita. Dalam workshop ini, banyak pembelajaran-pembelajaran baru yang diterima oleh peserta terutama bagi peneliti mengingat pada era modern sekarang perlu banyak modal yang harus diusahakan agar pesan dari produk penelitian bisa diterima di kalangan pemerintah maupun publik secara luas. Salah satu modal pentingnya adalah melalui data storytelling. (Yusuf Maulana)