Diskusi Publik “Perubahan Politik Malaysia dan Integrasi ASEAN”

Kategori: Kegiatan
Ditulis oleh Anta Nasution

Turbulensi politik di Malaysia yang berujung pada mundurnya Mahathir Mohamad dari jabatannya sebagai Perdana Menteri beberapa hari lalu, merupakan perkembangan terkini di kawasan yang cukup menarik untuk dibahas. Terkait dengan hal tersebut, Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI mengadakan Diskusi Publik berjudul “Malaysia’s Political Change and ASEAN Integration” pada tanggal 3 Maret 2020. Diskusi ini dilaksanakan di Ruang Seminar Utama P2P-LIPI dengan menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Mohd Rizal Yaakop sebagai pembicara dan Pandu Prayoga, MA dari P2P-LIPI sebagai moderator. Dr. Rizal merupakan seorang akademisi dari Universitas Kebangsaan Malaysia dengan fokus riset pada bidang politik Malaysia dan keamanan lingkungan.

Rizal memulai presentasinya dengan menjelaskan bahwa perubahan politik Malaysia sudah terjadi selama dua tahun, yaitu sejak pemilihan umum Malaysia tahun 2018 silam yang memilih kembali Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri. Terpilihnya Mahathir sekaligus mengakhiri enam dekade kekuasaan Barisan Nasional di Malaysia. Pakatan Harapan pimpinan Mahathir Mohamad yang terdiri dari Partai Keadilan Rakyat (PKR), Partai Aksi Demokratik (DAP), dan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) berhasil mengalahkan Barisan Nasional dan menempatkan Mahathir sebagai Perdana Menteri.

Lebih lanjut Doktor dari University of Hull-Inggris ini menyatakan bahwa salah satu faktor penting kemenangan Pakatan Harapan tidak lepas dari adanya people power. Masyarakat jenuh terhadap rejim sebelumnya yang dinilai tidak bisa menepati janji dan juga korup. Untuk mendapatkan suara rakyat sebelum Pemilihan Umum, Pakatan Harapan memberikan 100 janji atau 100 manifestos yang akan direalisasikan jika memenangkan Pemilihan Umum. Rizal menilai bahwa selama dua tahun berkuasa, Pakatan Harapan hanya bisa merealisasikan kurang lebih 10% dari janji-janji (100 manifestos) tersebut. Selain itu, Pakatan Harapan justru menghadapi ketidakstabilan politik akibat konflik internal di dalam kubu mereka sendiri. PPBM dan beberapa anggota PKR bahkan keluar dari koalisi Pakatan Harapan. Hal inilah yang akhirnya berujung pada mundurnya Mahathir sebagai Perdana Menteri.

Terkait surat pengunduran diri Mahathir sebagai Perdana Menteri kepada Raja Malaysia pada tanggal 24 Februari 2020, Rizal menekankan bahwa hal ini adalah akhir dari kejayaan Pakatan Harapan yang baru berumur dua tahun. Terbukti pada tanggal 29 Februari 2020, Raja Malaysia memilih Muhyiddin Yassin, yang tidak lain adalah ketua PPBM, menjadi Perdana Menteri Malaysia. Muhyiddin yang dilantik pada 1 Maret 2020 telah mendapatkan dukungan dari beberapa partai yang bergabung membentuk koalisi politik bernama Perikatan Nasional. Koalisi ini terdiri dari PPBM, UMNO, PAS, MCA, MIC, dan PAS. Meski begitu, Mahathir masih belum menerima rekan satu partainya di PPBM dilantik menjadi Perdana Menteri dan berharap bahwa dirinya akan ditunjuk kembali sebagai Perdana Menteri, walaupun sebelumnya sempat mengundurkan diri. Rizal memprediksi bahwa Mahathir Mohamad dan sisa koalisinya di parlemen akan mengajukan mosi tidak percaya untuk menjegal Muhyiddin melanjutkan posisinya sebagai Perdana Menteri.

Menambahkan penjelasannya, bagi Rizal, Mahathir atau Muhyiddin yang menjabat sebagai Perdana Menteri keduanya mempunyai sisi positif. Pertama, jika Mahathir kembali menjabat sebagai Perdana Menteri, maka artinya ia akan dapat melanjutkan program yang telah dijalankan dan direncanakan. Kemudian, Mahathir juga dinilai cakap dalam mengatur kabinet dan partai koalisi di bawahnya. Kedua, jika Muhyiddin tetap menjabat sebagai Perdana Menteri, maka ia akan mebuat orang Melayu menjadi mayoritas penuh dalam pemerintahan. Muhyiddin juga dinilai sebagai orang yang moderat dalam pemerintahan.

Sebagaimana umumnya terjadi, perubahan politik di suatu negara akan berdampak terhadap negara lain. Pada bagian akhir presentasinya, Rizal mengemukakan ada beberapa efek dari perubahan politik di Malaysia terhadap ASEAN, terutama dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan. Di bidang ekonomi, misalnya, Rizal memperkirakan adanya penurunan tingkat kepercayaan untuk berinvestasi di Malaysia. Namun khusus untuk Indonesia, Rizal menilai hubungan Malaysia dan Indonesia akan berjalan seperti yang sudah direncanakan dan dikerjakan sebelumnya meski adanya pergantian perdana menteri. Diskusi diakhiri dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari peserta yang hadir. (Anta Nasution)