Tahun 2008

Seminar Internal: “Pra-Pemilu Presiden 2008 di Amerika Serikat”

Seminar internal Puslit Politik LIPI kembali diadakan. Seminar kali ini menjadi sebuah prolog diskusi ilmiah internal Puslit Politik di tahun 2008. Tema yang diangkat pun cukup menarik dan aktual, yaitu “Pra-Pemilu Presiden 2008 di Amerika Serikat”. Hadir sebagai pembicara, Suzie Sudarman, Direktur American Studies Centre, Universitas Indonesia dengan moderator Drs. Siswanto, M.Si. Diskusi yang digelar tanggal 4 Februari 2008 ini tentu terasa pas menjelang Super Tuesday di Amerika Serikat (AS) hari Selasa tanggal 5 Februari 2008, yaitu pemilihan serentak di 22 negara bagian.

Pembahasan Suzie diawali dengan memaparkan kondisi perpolitikan di AS saat ini. Kondisi demokrasi di AS saat ini sedang mengalami penurunan dalam hal kepercayaan, peningkatan sinisme, serta diikuti penurunan partisipasi politik dan keterlibatan sipil. Dinamika politik AS telah mengalami perubahan sejak tahun 1960-an. Saat itu, critical election masih memegang peran yang sangat penting. Namun, seiring perkembangan informasi dan teknologi, proses pemilihan sangat dipengaruhi oleh apa yang disebut “kesan”. Kesan dari sang calon tersebut dapat dinikmati dengan mudah lewat berbagai fasilitas yang disediakan oleh jaringan internet, sebut saja youtube, myspace, dan lain-lain.

Media saat ini tengah sibuk menyuguhkan ajang pertarungan kandidat dari partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary Clinton. Keduanya memang sama-sama berpotensi memenangi konvensi Partai Demokrat. Kubu Obama cenderung “mewakili” milennium generation (college kids)dan kelompok kulit hitam di mana Obama sebagai calon presiden berkulit hitam pertama di Amerika. Di sisi lain, Hillary tampil mewakili kelompok new democrat dan kelompok perempuan di mana ia pun sebagai calon presiden wanita pertama di AS. Menurut Suzie, orang saat ini terstimulasi oleh “star syndrome” atau “star power” yang dimiliki Obama. Sedangkan bagi Hillary, bila ia nanti menjadi presiden, hal ini sebagai business as usual. Hal ini sebenarnya menjadi kurang bermakna karena yang lebih penting adalah bagaimana keduanya mampu menerjemahkan dalam kebijakan, baik ekonomi, politik, pertanian, dan lain sebagainya.

Media memang tengah sibuk mengiringi persiapan ajang empat tahunan rakyat AS ini. Suzie mengingatkan bahwa hal ini jangan dipandang sebagai sebuah tontonan semata. Yang patut kita sikapi adalah bagaimana implikasi praktek di dalam negeri Amerika Serikat yang tidak ter-translate dalam kebijakan luar negerinya serta bagaimana konsekuensi kepada bangsa Indonesia sendiri jika masing-masing calon tersebut menang. Kita juga perlu membangun kesadaran lewat komunikasi dengan masyarakat Amerika bahwa kebijakan pemerintahnya, terutama kepada negara-negara dunia ketiga tidak berbanding lurus dengan apa yang dikerjakan di dalam negeri mereka.(Lidya Sinaga)