Tahun 2009

Peluncuran Buku dan Diskusi Panel P2P- AIPI

Peluncuran Buku dan Diskusi Panel P2P-AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia)
“Kecenderungan Koalisi Pilpres 2009 dan Masa Depan Sistem Presidensial”

Bertempat di Widya Graha LIPI, Lantai I, pada Rabu 29 April 2009 Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI, bekerjasama dengan Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) menyelenggarakan acara peluncuran buku dan diskusi panel dengan tema : “Kecenderungan Koalisi Pilpres 2009 dan Masa Depan Sistem Presidensial”. Hadir sebagai pembicara dalam acara ini adalah Prof. Dr. Maswadi Rauf, guru besar FISIP UI, Prof. Dr. Syamsuddin Haris, A.P.U., Kepala Pusat Penelitian Politik P2P, LIPI, Dr. Daniel Sparingga, dosen FISIP Universitas Airlangga-Surabaya, dan Prof.Dr. Ikrar Nusa Bhakti dari P2P LIPI sebagai moderator diskusi. 

 

Acara peluncuran buku berjudul ”Sistem Presidensial dan Sosok Presiden Ideal” yang merupakan kumpulan makalah terpilih dalam Seminar Nasional AIPI ke 22 tahun 2008 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan dihadiri lebih dari 120-an peserta, baik dari kalangan partai politik, pemerintahan, TNI/Polri, akademisi, dan juga para peneliti yang ada di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pada pukul 10.00 WIB acara diawali dengan sambutan Ketua Harian PP AIPI, Dr. Alfitra Salamm, APU., yang diikuti dengan pembukaan oleh Prof. Dr. Lukman Hakim, Wakil Kepala LIPI. 

Diskusi panel sebagai bagian sentral dari peluncuran buku mengangkat tema koalisi politik. Para pembicara menyepakati bahwa diperlukan koalisi yang permanen dari partai-partai politik yang berorientasi jangka panjang, dengan platform dan kontrak politik antar peserta koalisi untuk menegakkan demokrasi substansiil berdasarkan kedaulatan pemilih, untuk tujuan kesejahteraan publik, dan bukan hanya untuk berbagi kekuasaan dalam jangka pendek semata. Isu lain yang mengemuka dalam diskusi panel adalah menurunkan gengsi diantara elit parpol. Hal ini disampaikan oleh salah satu pembicara, akademisi Dr. Daniel Sparingga. Menurut Daniel, tidak harus semua elit parpol menjadi ”RI 1”, namun akan lebih arif jika para elit parpol itu berkemauan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik dengan menurunkan ”bandrol politiknya” dari yang harus (menjadi RI 1) menjadi tidak harus. Dengan demikian, lanjut Daniel, akan lebih menarik jika Prabowo Subianto yang dalam iklannya selalu membawa isu kaum petani, menjadi menteri pertanian, tidak harus RI 1 atau R1 2. Daniel juga mencontohkan sosok Jusuf Kalla, yang dapat saja, ”kalau mau”, menjadi menteri perdagangan atau menteri keuangan.

Selain itu, Danel Sparingga juga merekomendasikan dibentuknya Akademi Politik, dengan tujuan menjadi ”rumah ilmu pengetahuan” yang dihuni serta dimotori oleh para professor, peneliti, cendekiawan, budayawan. Dengan berbekal ilmu pengetahuan politik, sosial, dan kemanusiaan, diharapkan mereka sebagai calon-calon pemimpin bangsa ini tahu bagaimana menjalankan tugas dan fungsinya, ”tidak dengan cara instant, seperti yang saat ini banyak terjadi”. (Prayogo)