Tahun 2010

Acara “Tribute to Pak Luhu”

Kategori: Tahun 2010

Bertepatan dengan hari ulang tahun ke-80 Dr. CPF Luhulima, atau yang akrab dipanggil Pak Luhu, Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI mengadakan acara bertajuk ”Tribute to Pak Luhu” pada 30 November 2010. Acara yang mengambil tempat di Widya Graha LIPI lantai 1 ini dibuka oleh Dr. Muridan Satrio Widjojo, Pelaksana Harian Kepala P2P LIPI dan Dr. Aswatini, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI, dalam hal ini mewakili Kepala LIPI, Prof. Dr. Lukman Hakim yang berhalangan hadir. Acara yang didukung oleh KOMPAS dan Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) ini diawali dengan penayangan foto-foto Pak Luhu dan riwayat hidup beliau.

Pak Luhu merupakan salah seorang yang turut membidani lahirnya LRKN (Lembaga Riset Kebudayaan Nasional) tahun 1965. Beliau ikut membangun dan mewarnai kiprah lembaga ini. Pada waktu itu, Direktur LRKN adalah Dr. Lie Tek Tjeng dan Dr. CPF Luhulima sebagai wakilnya. Salah satu andalan utama LRKN saat itu adalah pengembangan studi wilayah, seperti studi Eropa, studi Timur Tengah, studi Pasifik Selatan, studi ASEAN, dan studi Cina. Pada awalnya, Pak Luhu menggeluti studi Eropa bersama tim kecilnya. Awal tahun 1980-an, beliau kemudian mengembangkan studi ASEAN bersama tim kecil yang juga dibentuknya. Pada tahun 1982, ada pergantian kepemimpinan di LRKN di mana Dr. Alfian menggantikan Dr. Lie Tek Tjeng sebagai Direktur LRKN. Sementara, Pak Luhu menjadi Direktur Teknologi di Sekretariat ASEAN selama 5 tahun. Tahun 1987, LRKN berubah nama menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Politik dan Kewilayahan (PPW) LIPI. Pak Luhu kemudian berperan besar dalam membangun kerjasama penelitian mengenai ASEAN bersama Departemen Luar Negeri Republik Indonesia dengan timnya yang baru dan solid. Tahun 2000, tim ASEAN kembali mengalami perubahan formasi dengan keanggotaan yang baru. Meskipun beliau telah pensiun sejak tahun 1996, namun tenaga dan pikiran beliau masih sangat diperlukan dalam Tim ASEAN yang berkembang hingga kini. Dengan adanya restrukturisasi LIPI, PPW kemudian berubah menjadi Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI. Meskipun lembaga ini telah berganti-ganti nama, integritas dan dedikasi beliau sebagai seorang peneliti sekaligus pendidik terus berlanjut hingga saat ini, membuat beliau patut dijadikan panutan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Usai penayangan galeri foto beliau, acara kemudian dilanjutkan dengan peluncuran buku “Dinamika Asia Tenggara Menuju 2015” yang merupakan kumpulan tulisan Dr. CPF Luhulima. Buku tersebut diberikan secara simbolis oleh Dr. Muridan Satrio Widjojo kepada Pak Luhu. Selanjutnya, Pak Luhu menyerahkan buku tersebut secara simbolis kepada beberapa koleganya, yaitu Dr. Aswatini selaku Deputi IPSK LIPI sekaligus mewakili Kepala LIPI; Agus Parengkuan mewakili Bapak Jacob Oetama dari KOMPAS; Drs. Hamdan Basyar, MSi mewakili Bapak S.H. Sarundajang selaku Ketua Umum Pengurus Pusat AIPI; Dubes Petronella Luhulima mewakili keluarga; Sharon Siddique mewakili sahabat Pak Luhu dari Singapura; Bapak Mar’ie Muhammad, Bapak A.B. Lapian, dan Bapak Arifin Siregar mewakili sahabat-sahabat Pak Luhu di dalam negeri; Bapak Ibrahim Ambong mewakili Keluarga Besar P2P LIPI; dan keempat pembicara yang akan mengisi diskusi hari ini, yaitu Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, Lina Alexandra, Makmur Keliat, dan Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti.

Selanjutnya, acara kemudian diisi dengan diskusi bertema “Dinamika Asia Tenggara Menuju 2015” yang menghadirkan empat pembicara, yaitu Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar (Deputi Bidang Politik Sekretariat Wakil Presiden), Lina Alexandra, MA (peneliti Centre for Strategic and International Studies/ CSIS), Dr. Makmur Keliat (pengajar di FISIP Universitas Indonesia), dan Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti (peneliti P2P LIPI).

Dalam paparannya, Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar menyatakan bahwa ASEAN (Association of South East Asian Nation) masih dilihat sebagai dependent variable, yaitu perubahan yang terjadi di ASEAN sangat tergantung pada perubahan di negara anggotanya. Sehingga, jika ASEAN tidak berkembang jangan salahkan ASEAN-nya, tapi negara-negara anggotanya. Menurutnya, kita tetap bersyukur bahwa ASEAN ada dan tujuan ASEAN masih relevan sebagai pemelihara perdamaian. Namun, apakah demi harmonisasi di lingkungan ASEAN kita harus mengabaikan nilai-nilai universal demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM)?, menjadi pertanyaan kritikal yang dilontarkan Dewi. Di samping itu, terkait kepemimpinan Indonesia di ASEAN tahun 2011 mendatang, Doktor lulusan Monash University-Australia ini menyatakan bahwa pada 2011 akan terjadi konfrontasi nilai dan Indonesia diharapkan mampu mentransformasi ASEAN sesuai dengan ASEAN Charter. Indonesia akan menghadapi tantangan di mana negara anggota lain akan sangat curiga bahwa ASEAN hanya akan menjadi proyek kebijakan luar negeri Indonesia dan hegemoni Jakarta saja.

Pembicara kedua, Lina Alexandra menyatakan bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa ASEAN saat ini telah mengalami perubahan. Topik yang hangat saat ini adalah bagaimana sentralitas ASEAN di tengah arsitektur regional. Sementara, sentralitas ASEAN ini pun kini menghadapi ancaman. Serangan Korea Utara atas Korea Selatan, November 2010, menjadi kritikal bagi ASEAN di mana ASEAN seharusnya berperan karena kedua negara tersebut telah menandatangani Treaty of Amity and Cooperation (TAC). Di samping itu, ASEAN harus menghadapi ancaman nontraditional security dan masalah soliditas dalam tubuh ASEAN, yaitu bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai baru dalam ASEAN Charter dan bagaimana menyelesaikan dilema antara harus menegakkan demokrasi dan tanpa mengganggu perdamaian di ASEAN. Pemilu di Myanmar yang tidak netral dan tidak bebas sebenarnya bisa menjadi titik masuk untuk memulai penegakan demokrasi dan HAM di Myanmar. Terkait kepemimpinan Indonesia di ASEAN tahun 2011 mendatang, Master lulusan Queensland University-Australia ini menyatakan bahwa Indonesia tampaknya akan lebih “kalem” dan fokus pada implementasi 3 blueprints, yaitu ASEAN Political Security Community Blueprint, ASEAN Economic Community Blueprint, dan ASEAN Socio Cultural Community Blueprint. Hal penting menurutnya adalah bagaimana Indonesia bisa berperan dan mengembangkan ASEAN, sementara pemimpin kita saat ini lebih fokus pada yang sifatnya global. Padahal, ASEAN seharusnya tetap menjadi arena latihan bagi Indonesia kalau Indonesia ingin tetap eksis di tingkat global.

 

Dr. Makmur Keliat menyatakan a level of compatibility merupakan kalimat yang tepat untuk menggambarkan budaya di ASEAN, atau ASEAN Culture, yang tidak sama dengan gagasan Eropa tentang pentingnya norma-norma hukum. A level compatibility artinya “Jika kamu tidak merasa kompatibel, maka kita tidak dapat bergerak ke depan”. Dalam presentasinya, Doktor dari Jawaharlal Nehru University-India ini mempertanyakan bagaimana peran negara dalam tahun 2015 mendatang?. Apakah ASEAN semakin kuat dan apakah Indonesia semakin kuat juga atau melemah?. Pertanyaan ini penting karena secara akademis ada 4 transformasi besar yang sedang kita alami, yaitu pertama, dari suzerainity ke sovereignity menuju globality; kedua, dari colonial empire ke nation state menuju market state; ketiga, dari ruler ke goverment menuju global governance; keempat, dari ethnicity ke nationality menuju global civil society. Menurutnya, organisasi regional adalah pengurangan otoritas negara yang kemudian ditransformasikan ke dalam institusi regional. Lalu pertanyaannya, dapatkah kita mengharapkan ASEAN memoderatkan transformasi ini? atau haruskah kita mendorong ASEAN untuk mempercepat transformasi ini?. Jika pilihannya pada opsi pertama, maka ada hal mendesak untuk integrasi positif, yaitu memperkuat kapasitas institusional ASEAN untuk mengambil alih fungsi mendasar negara, yaitu fungsi kesejahteraan dan fungsi keamanan. Sebaliknya, jika opsi kedua yang dipilih maka terjadi pelemahan kapasitas negara dan legitimasi politik negara dipertaruhkan.

Pembicara terakhir, Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti dalam uraiannya menyatakan bahwa ASEAN bagaikan biduk kebanyakan muatan dan kurang energi. Bayangkan, ASEAN mengadakan 600 pertemuan dalam setahun dan terlalu banyak institusi yang dibentuk ASEAN. Di samping itu, ASEAN gagal dalam mewujudkan multilateralisme. Pada dasarnya, ASEAN tidak pernah menjalankan kerjasama sebagaimana termuat dalam Deklarasi Bangkok, seperti kerjasama ekonomi, teknologi, dan justru kerjasama sampingan di bidang politik dan keamanan menjadi sesuatu yang penting dan menjadikan kawasan Asia Tenggara damai. Di bidang industri kita lihat, industri-industri yang dibangun ASEAN juga mengalami kegagalan. ASEAN hanya berhasil di bidang politik dan keamanan. Di sisi lain, ASEAN hingga saat ini masih menghadapi persoalan kedaulatan dan persoalan trust. Tantangan bagi ASEAN saat ini adalah kapan ASEAN mampu menyelesaikan masalah dan tidak menyimpannya di bawah karpet dan kapan TAC benar-benar diterapkan dalam menyelesaikan konflik internalnya, serta bagaimana ASEAN menjadi organisasi regional dan multilateral.

Setelah diskusi, acara kemudian dilanjutkan dengan penayangan video berisi kesan-kesan tentang Bapak CPF Luhulima yang diberikan baik dari pihak keluarga dan rekan-rekan beliau. Prof. Dr. Mochtar Pabottingi juga memberikan kesan-kesan beliau atas Pak Luhu secara langsung lewat sebuah puisi pendek. Tak lama berselang, lagu selamat ulang tahun berkumandang seiring pemotongan kue ulang tahun oleh Pak Luhu. Di penghujung acara, Pak Luhu menyampaikan sambutan beliau sekaligus menandai akhir dari kegiatan ini. (Lidya Christin Sinaga)