Tahun 2012

Seminar Intern Prof. Andrew O’Neil “Asia’s Power Transitions in 21th Century”

Kategori: Tahun 2012
Dilihat: 816
Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) pada Kamis tanggal 4 Oktober 2012 bertempat di Ruang Seminar Gedung Widya Graha Lantai XI mengadakan Seminar dengan tema “Asia’s Power Transitions in 21th Century”. Seminar ini menghadirkan pembicara tamu, Prof. Andrew O’Neil, Direktur dari Griffith Asia Institute, Griffith University.

Dalam kesempatan ini Prof O’Neil memaparkan tentang transisi Asia di abad 21 yang ditandai dominasi oleh naiknya Cina sebagai kekuatan baru dunia serta hubungan Amerika Serikat dan China yang memperebutkan posisi sebagai great power khususnya di kawasan Asia Pasifik. Dalam pembahasannya Prof. O’Neil juga memberikan pengantar untuk melihat teori offensive realism dan defensive realism dalam proses transisi ini. Diskusi yang tidak kalah penting menurut Prof. O’Neil adalah mengenai posisi negara-negara yang lebih kecil khususnya di kawasan pasifik seperti Indonesia dan Australia.

Untuk memahami transisi yang terjadi Prof. O’Neil mengedepankan faktor-faktor sejarah yang mengawali transisi di Asia. Walaupun di abad ke-20 Asia masih menjadi region yang Eropa-sentris, yang menkiblatkan fokus politik, ekonomi, dan militernya pada Eropa, namun negara-negara Asia pada tahun 1970an sudah mulai mengalihkan diri pada pemajuan kawasan. Kemajuan ekonomi Jepang yang menjadi model dasar dari pembangunan tiger economy di Asia Timur diikuti dengan kebangkitan sebuah negara yang sampai sekarang menjadi rival utama sekaligus mitra bersaing bagi Amerika Serikat, yaitu Cina.

Kehadiran Cina yang kini menjadi negara dengan dominasi terbesar di Asia membuat Cina menjadi aktor kuat dalam kawasan yang mungkin saja memegang kekuasaan atas region Asia. Namun kepemimpinan Cina sendiri masih belum dapat dipastikan karena kepemimpinan bukan hanya berarti menguasai arena politik namun juga mempunyai tanggung jawab terhadap negara-negara yang dipimpinya. Tidak seperti Amerika Serikat yang sudah berada di posisi puncak dalam perpolitikan global dan sudah menanggung peran-peran sebagai pemimpin global, Cina mungkin lebih memilih cara pandang baru dalam posisi tersebut bukan hagemoni konvensional seperti yang selama ini dijalankan.

Membahas masalah hubungan Cina dan Amerika Serikat, Prof. O’Neil memandang isu ini adalah sebuah hal vital dalam transisi kekuatan di Asia. Mengingat kedua negara sedang mengalami dinamika yang menarik yaitu bangkitnya kekuatan Cina dan relatif menurunnya kekuatan Amerika Serikat. Walaupun begitu Amerika Serikat nampaknya enggan mengakui hal ini khususnya dibidang ekonomi dimana Cina kini menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang terus melaju.

Persaingan antara kedua kekuatan besar itu membawa pertanyaan besar bagi region Asia. Namun Prof. O’Neil memaparkan beberapa skenario yang dapat mengenai keungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, Amerika Serikat terus berusaha mencampuri kebangkitan Cina. Kedua, negara-negara di region Asia menjadi terpecah pada dua kubu tersebut. Ketiga, adanya kekuatan baru yang membelokan Asia untuk menjadi bipolar power region. Prof. O’Neil juga menyebutkan bahwa adanya kemungkinan konflik di region apabila kedua kekuatan ini tidak bekerja bersama. Namun patut diingat, kedua pihak memiliki jalinan kepentingan ekonomi yang sepatutnya dipertimbangkan

Mengenai posisi Indonesia, Prof. O’Neil melihat keberhasilan demokrasi di Indonesia sebagai sebuah hal yang meningkatkan kredibilitas Indonesia sebagai aktor penting di kawasan yang bermodalkan dua hal yaitu pembangunan perekonomian dan norma dinamis perpolitikan indonesia, keberhasilan Indonesia dalam bertransisi dari otoritarianisme ke demokrasi juga menjadi nilai tambah tersendiri. Sebagai negara maritim terbesar di kawasan, persaingan Amerika Serikat dan Cina di kawasan laut pun menjadi fokus perhatian Indonesia. Adapun langkah Indonesia yang menggunakan ASEAN sebagai kendaraannya untuk mempertahankan pengaruhnya bukan merupakan sebuah hal yang bisa dinyatakan aman, karena ASEAN sendiri memiliki masalah di dalam tubuhnya.

Terakhir, Prof O’Niell memamparkan sudut pandang negara asalnya, Australia, mengenai transisi kekuatan Asia ini. Menurutnya, Australia berada di posisi yang sangat strategis karena memiliki hubungan historis yang erat dengan Amerika Serikat disisi lain mempunyai hubungan dagang yang kuat dengan Cina mengingat 25 persen dari hubungan dagangnya adalah dengan negara tirai bambu tersebut. Mengenai memilih salah satu pihak diantaranya merupakan hal yang akan sangat sulit bagi Australia. Negara ini memilih untuk berada di dalam posisi untuk tetap memiliki integritas terhadap politik khususnya politik domestiknya. Prof. O’Niell mencontohkan bagaimana Australia tidak bersedia menjadi home-port bagi militer Amerika juga keberanian Australia menolak intervensi Cina dalam hal-hal yang berada di bawah urusan domestik negara tersebut.

Presentasi Prof. O’Niell yang padat menuai antusiame dari peserta seminar intern. Pertanyaan mengenai signifikansi peran Jepang, beberapa pertanyaan mengenai ASEAN menjadi hal yang menarik diskusi lebih lanjut. Untuk signifikansi peran Jepang, Prof. O’Neill berpendapat bahwa ada dua hal yang membuat Jepang sulit menguasai Asia terutama paska kebangkitan Cina yaitu halangan konstitusi mereka dan adanya trauma historis akan kepemimpinan Jepang di Asia pada masa lalu. Mengenai ASEAN, Prof. O’Neill menjelaskan menariknya regional arsitektur yang menjadi design asean dan pengaruhnya khususnya pada isu keamanan kawasan. Namun ASEAN menurut peneliti senior CPF Luhulima memiliki masalah pada tidak adanya kepemimpinan yang berani menjalankan design yang sudah ada dan ketegasan dalam menangani konflik, tidak tercapainya komunike bersama di Phnom Penh adalah salah satu akibat dari kekuarangan itu.

Isu persaingan kekuatan baru dalam dunia politik internasional merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas karena dinamikanya yang selalu menumbuhkan fenomena dan aktor baru. Diharapkan seminar seperti ini dan pembahasan kasus-kasus menarik lainnya di pelbagai bidang politik dapat terus diadakan oleh Pusat Penelitian Politik LIPI untuk menambahkan semarak pada proses belajar di institusi ini. (Khanisa Krisman)