Tahun 2013

Seminar Riset Desain Kajian Pemilu

Kategori: Tahun 2013
Dilihat: 886
“Kenapa yang dibahas itu sistem parlemen bukan presidensiil? Secara konteks dan kebutuhan kita’ kan butuh masukan terhadap sistem presidensiil (Prof. Dr. Syamsuddin Haris)

Pertanyaan dari Prof. Syamsuddin Haris di atas muncul dalam seminar riset desain penelitian yang ditujukan pada Tim Perbandingan Sistem Pemilu  pada Kamis, 28 Februari 2013. Tahun ini tim yang dikoordinatori oleh Drs. Dhuroruddin, M.Si mengetengahkan kajian yang berjudul “Keterwakilan dan Akuntabilitas dalam Sistem Pemilu Parlemen di Filipina, Korea Selatan, Venezuela, dan Amerika Serikat”. Drs. Agus Rahman, MM, ME, sebagai juru bicara dalam presentasi, memaparkan bahwa penelitian tahun ini merupakan penelitian lanjutan dari tahun sebelumnya (2012) tentang demokrasi dan sistem pemilu di beberapa negara. Penelitian kali ini dilakukan dengan pendekatan tematik yakni keterwakilan dan akuntabilitas melalui beberapa kasus negara yang memiliki karakteristik hampir sama dengan Indonesia.

Penelitian tentang perbandingan sistem pemilu ini dilakukan untuk menjawab lima pertanyaan mendasar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain apa sistem pemilu parlemen dan bagaimana penerapannya di Philipina, Korea Selatan, Venezuela, dan Amerika Serikat? Apa saja kelebihan dan kekurangannya? Seberapa jauh sistem pemilu di empat negara tersebut menjamin nilai keterwakilan, seberapa besar tingkat akuntabilitas yang dihasilkan sistem pemilunya? Apa saja sisi positif dari sistem pemilu di empat negara yang bisa diadaptasi di Indonesia? Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi komparatif pertanyaan-pertanyaan tersebut akan berusaha dijawab. Tim peneliti akan menelusuri dokumen yang relevan dengan topik penelitian dan hasil penelitian empiris yang sudah ada. Focus Group Discussion (FGD) dan workshop dengan para narasumber / pakar terpilih juga akan diselenggarakan dalam rangka penggalian data.

Secara umum, cukup banyak masukan dari para peserta forum baik dari aspek substantive maupun teknis penulisan. Prof Ikrar Nusa Bhakti memberikan  masukan terkait dengan yakni aspek koherensi antara judul, latar belakang, hingga kerangka teori yang harus memperlihatkan satu benang merah agar  desain riset menjadi lebih utuh. “Rasionalitas demokrasi dari Indonesia sendiri harus dipahami dulu sebelum dibandingkan dengan negara-negara lain”, demikian masukan dari Prof. Mochtar Pabottingi. Prof. Syamsuddin Haris juga menambahkan bahwa lebih baik memperbandingkan desain institusionalnya saja karena parameter dan indikatornya paling jelas dibandingkan keterwakilan dan akuntabilitas.

Pada sesi berikutnya, Tim Survei memaparkan riset desainnya. Wawan Ichwanuddin, M.Si, koordinator tim menjadi pembicara. Kajian Tim Survei tahun ini (2013) berjudul “Partisipasi Politik dan Perilaku Memilih Pra-Pemilu 2014” di mana masih merupakan lanjutan dari penelitian tahun sebelumnya (2012). Substansi yang membedakan dengan penelitian sebelumnya terletak pada aspek perilaku pemilih. Survei yang akan dilakukan diharapkan mampu melengkapi studi-studi sebelumnya dengan demikian tersedianya data antar waktu yang dapat menunjukkan tren perubahan atau keberlanjutan. P2P LIPI pernah melakukan penelitian tentang partisipasi politik dan perilaku pemilih pada tahun 2004 dan 2009 namun umumnya tidak menggunakan metode survei kuantitatif.

Survei yang akan dilakukan berangkat dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang sudah disusun. Beberapa pertanyaan penelitian tersebut adalah bagaimana partisipasi politik, perilaku memilih, dah faktor-faktor yang mempengaruhi pemilih Indonesia menjelang pemilu 2014. Dengan menggunakan tiga teori sebagai kerangka pemikiran yakni model sosiologis, model psikologis, dan model pilihan rasional, data lapangan hasil survei akan dianalisa lebih mendalam. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif survei dengan sasaran 1800 responden yang tersebar di 105 desa/kelurahan di 31 provinsi di Indonesia. Responden sepenuhnya  dipilih secara acak bertingkat (multi-stage random sampling). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka (face to face interview) dengan responden, dengan menggunakan instrumen kuesioner (terstruktur). Untuk menjamin kualitas wawancara, dilakukan kontrol secara sistematis dengan melakukan cek ulang di lapangan (spot check) sebanyak 10% dari seluruh responden.

Prof. Hamdi Muluk , sebagai pembahas, menyampaikan beberapa masukan terkait dengan paparan tentang riset desain Tim Survei. Beberapa diantaranya adalah tentang faktor social conformity yang seharusnya lebih diperhatikan dalam analisa perilaku memilih, ketidakyakinannya bahwa masyarakat akar rumput mampu menilai kinerja pemerintah, kesulitan untuk mengukur party identification, dan studi pustaka yang lebih medalam terkait dengan studi perilaku memilih sehingga mampu menyumbangkan theoretical insight yang tajam. Prof. Syamsuddin Haris turut menambah daftar masukan dengan mengingatkan untuk tetap  menyertakan akuntabilitas demokrasi sebagai materi yang harus diukur selain jangan terlalu fokus pada persoalan elektabilitas Pemilu 2014. (Yogi Setya Permana)