Tahun 2013

Seminar Intern “Wajah Perbatasan Indonesia”

Kategori: Tahun 2013
Dilihat: 1682
Isu-isu mengenai masyarakat di wilayah perbatasan antara dua negara selalu menarik untuk dikaji, karena interaksi yang intens antarmasyarakat dari dua negara dapat berimplikasi pada pola kehidupan sosial, ekonomi, budaya, bahkan politik dan keamanan di daerah perbatasan itu. Interaksi  tersebut mungkin saja memengaruhi pandangan masyarakat perbatasan terhadap identitas mereka. Indonesia memiliki beberapa wilayah yang berbatasan langsung dengan  negara-negara tetangga, misalnya di Papua dan Kalimantan. 

Maka dari itu, Pusat Penelitian Politik LIPI mengadakan Seminar Intern dengan tema Berbagi Pengalaman dan Temuan Penelitian di Kalimantan: “Wajah Perbatasan Indonesia” pada Selasa, 23 Juli 2013 yang bertempat di Ruang Seminar P2P Lantai 11. Seminar ini menghadirkan 3 (tiga) orang pembicara, yakni Dr. Firman Noor, Syafuan Rozi, S.Ip., M.Si., dan Pandu Yuhsina Adaba, S.Ip.

Memasuki acara pertama, Firman mempresentasikan tentang “Perjalanan Penelitian di Perbatasan Darat Indonesia-Malaysia” dengan wilayah penelitian, yakni Long Bawan-Krayan-Nunukan & Long Nawang-Kapuas Hulu-Malinau, Kalimantan Utara.  

Ia mengutip salah satu perkataan Ketua Adat Besar Krayan Yagung Bangau, Long Bawan yakni “Jika dalam waktu 5 tahun tidak ada perbaikan di Krayan, jangan salahkan kami jika patok batas berpindah ke Malaysia”. Firman menambahkan bahwa Kecamatan Krayan terletak di bagian barat Kabupaten Nunukan dan berbatasan dengan Ba’ Kelalan di Serawak Malaysia. 

Peneliti P2P ini menjelaskan pemerintahan yang ada di perbatasan, seperti Kantor Bupati Nunukan Kaltara, Kantor DPRD Nunukan Kaltara, Kantor Kecamatan Kayan Hulu, Kantor Desa Long Betaoh, Kaur Pemerintahan dan Susunan Perangkat Desa.

Lulusan Doktor University of Exeter ini menerangkan bahwa banyak tokoh dan figur yang berperan di wilayah perbatasan, yakni salah satu tokoh Masyarakat Dayak Krayan yang bernama Damus Singa, MA, Sarjana dan magister Teologia asal Berian Baru, Krayan, Long Bawan. Lalu Ir. Frederik, Ketua BNPP Kaltara, berasal dari etnis Lundayeh, alumni peserta kursus Lemhanas di Jakarta, juga merupakan salah seorang kerabat dari Lancau Ingan. Terakhir, Lancau Ingan, yang diyakini penduduk setempat sebagai Pemimpin Besar Masyarakat Dayak, terutama di Wilayah Kalimantan Utara. 

Firman menvisualisasikan bagaimana suasana daerah perbatasan dari udara, dimana Krayan  yang sejuk dan subur menampung humus dari gunung, dan menurutnya jalur udara adalah pilihan paling realistis penelitian kali ini. Untuk tidak mengatakan tidak ada pilihan lain, tambahnya. Jalur yang ia tempuh bersama Rozi, yakni Jakarta – Pontianak – Tarakan – Malinau – Long Ampung – Long Nawang dan Jakarta – Pontianak – Tarakan – Long Bawan. 

Peneliti yang akrab dipanggil Firman ini, menjelaskan bagaimana kondisi pesawat dan bandara yang mereka temui hanya ada sedikit  perusahaan penerbangan yang melayani rute penerbangan di perbatasan Kaltara-Malaysia di antaranya, Grand Carravan, Susi Air, Avia Star dan Mission Air Fellowship (MAF). Yang menarik baginya, dimana Cafetaria Bandara sekaligus ruang tunggu bayangan.

Firman menjelaskan masyarakat dan budaya yang ada disana, seperti masih adanya simbol demokrasi lokal, Simbol Adat dan Budaya Dayak, tarian dalam menyambut perhelatan musyawarah akbar, tarian dari tanah Kalimantan, dan juga adanya tradisi Acara Gawai.

Ekonomi dan perdagangan yang ada di Krayan, seperti masih ada Sawah Organik yang menghasilkan Beras Adan Krayan, dimana Padi Adan yang terkenal di Kaltim dan konon merupakan beras makanan utama Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunai Darussalam berasal dari Krayan dan juga warga menanam padi tanpa pupuk kimia, hanya belaching humus hutan yang terbawa air, dan mendapatkan asupan pupuk kandang alami dari kotoran kerbau saat merumput dan membajak. 

Firman menambahkan bahwa sarana transportasi yang digunakan di Krayan, yakni Sepeda Motor. Menariknya, pembuatan garam gunung di Krayan, dengan memanaskan air pegunungan di atas tungku kayu bakar, setelah sekian jam terbentuklah kristal garam.

Pembicara kedua, Syafuan Rozi menjelaskan kondisi infrastruktur di perbatasan. Ia menemui jalan tanah berlumpur di perbatasan, belum beraspal, jalan tapi sungai atau sungai tapi jalan di lokasi Long Midang. Rozi menegaskan bahwa “Mendirikan Pabrik Semen sebagai Sebuah Solusi”. Seharusnya kehadiran Pabrik Semen di Kalatara harusnya menjadi Solusi, kembali ia jelaskan.

Dari segi pendidikan, Firman dan Rozi menjelaskan SD 10 Krayan, Long Bawan, Nunukan, Kaltara kondisinya cukup lumayan, tetapi Perpustakaan Umum di Long Nawang menjadi hanya seonggok bangunan, tanpa buku tanpa anggota karena lokasinya berjauhan dengan lokasi ruang belajar. 

Rozi menerangkan dimana SDN 01 Long Nawang cukup memprihatinkan pembangunan belum tuntas dan materi pengajaran belum sesuai dengan kompetensi di tingkat nasional. Rozi menjelaskan nasionalisme di perbatasan, masih terdapat tugu sebagai simbol perjuangan dan eksistensi desa, penduduk di perbatasan masih mengharapkan bantuan dan perhatian dari Pemerintah Pusat, agar mereka bisa hidup sejahtera. 

Firman menegaskan “Garuda (Indonesia) di Dadaku, Malaysia di Perutku” masih menjadi simbol bagi masyarakat di perbatasan. Temuan lain yang ia temukan, diantaranya masih terdapat 90% barang Krayan asal Malaysia, terdiri dari gas elpiji, kendaraan bermotor, makanan, minuman, dan berbagai macam produk lainnya. 

Pada Kantor Imigrasi Sambas Kalimantan Barat, ia menemukan warga negara Indonesia lebih banyak datang ke Malaysia daripada warga negara Malaysia yang berkunjung ke Indonesia. 

Transaksi jual beli yang terdapat di perbatasan, masih menggunakan dua mata uang yakni Rupiah dan Ringgit, belakangan mata uang Ringgit lebih disukai, ia menambahkan. 

Firman menambahkan seperti Garuda vs Harimau, dimana Garuda = Indonesia dan Harimau = Malaysia. Indonesia memiliki fasilitas penerbangan, sarana transportasi, jalan, dan pendidikan yang jauh tertinggal daripada Malaysia.  

Pembicara terakhir, Pandu Yuhsina menjelaskan Kalimantan sisi lain yang ia alami pada saat penelitian lapangan di Kalimantan Tengah, tepatnya di Seruyan. Ia menaiki perahu yang dibawahnya terdapat sungai yang masih bersih. Saat itu, ia tinggal di rumah kepala adat dan sungai menjadi satu-satunya pusat kegiatan masyarakat seperi mandi, mencari ikan, mencuci dan lainnya. 

Tradisi kumpul bersama masih diterapkan di rumah kepala adat di Kalimantan Tengah, Seruyan. Menurutnya, rumah yang ada disana berupa rumah panggung yang dibangun dengan kayu. Media surat kabar yang beredar disana, umumnya sampai ke masyarakat pada sore hari dikarenakan transportasi dengan perahu yang membutuhkan waktu lebih banyak untuk mengantarkannya ke masyarakat. (Anggih Tangkas Wibowo).
 
Adapun beberapa foto penelitian lapangan (dokumentasi milik peneliti), yaitu: