Tahun 2013

Seminar Intern “Respon Regional-Global dan Dampak Krisis Suriah”

Kategori: Tahun 2013
Dilihat: 1857

Suriah merupakan salah satu negara di kawasan Timur Tengah, kini membara akibat perang yang telah menjatuhkan ribuan korban jiwa. Konflik bermula saat pihak oposisi berupaya menjatuhkan kekuasaan Presiden Bashar al-Assad demi terwujudnya perubahan di Suriah. Namun, konflik tersebut berubah menjadi perang saudara saat pemerintah Suriah menggunakan kekuatan militer dan senjata untuk menghalau demonstran. 

Perang yang kemudian menjadi sorotan dunia internasional ini semakin pelik saat Dewan Keamanan PBB yang hendak memberi resolusi berupa sanksi kepada pemerintah Suriah ternyata malah di-veto oleh Rusia dan China yang menolak adanya campur tangan di Suriah. 

Gejolak yang terjadi di Suriah saat ini mungkin tidak bisa dengan mudah disamakan dengan apa yang pernah terjadi di Tunisia, Mesir dan Libya. Ini karena krisis Suriah tampaknya bukan hanya memberi dampak pada dalam negeri Suriah sendiri, melainkan juga memengaruhi kepentingan regionalnya (misalnya hubungan dengan Liga Arab dan Iran), bahkan kepentingan global, terutama dengan adanya pernyataan Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang akan menyerang Suriah. Banyak pihak bahkan khawatir bahwa krisis Suriah dapat menjadi genderang perang pecahnya Perang Dunia III karena melibatkan banyak kepentingan. 

Untuk mengetahui bagaimana sikap negara-negara lain baik secara regional maupun global dalam merespon krisis Suriah dan dampaknya, serta bagaimana perkembangan terkini tentang kondisi Suriah, maka dari itu Pusat Penelitian Politik LIPI pada Selasa, 24 September 2013 mengadakan Seminar Intern dengan tema “Respon Regional-Global dan Dampak Krisis Suriah” yang bertempat di ruang seminar Lantai 11 P2P-LIPI dengan Muhammad Fakhry Ghafur, Lc, M.Ag, peneliti muda yang menyelesaikan pendidikan sarjana dengan mengambil jurusan Sastra Arab di The Faculty of Islamic Call-Tripoli Libya, menjadi pembicara dalam diskusi ini. Seminar tersebut dihadiri oleh peneliti P2P-LIPI maupun para undangan. 

Memasuki acara pertama, pembicara yang akrab dipanggil Fakhry ini menerangkan bagaimana konflik dapat terjadi di Suriah, dikarenakan letak yang strategis secara geo-politik  menjadikan Suriah sebagai negara yang diperebutkan kekuatan politik global dan juga beragamnya etnis dan mazhab (sekte) menjadikan Suriah sebagai negara yang rawan konflik. Fachry menjelaskan bahwa agama di Suriah, terdiri dari 74% Sunni Muslim, 12% Alawis, 10% Christians, dan 3% Druze, sedangkan etnis yang terdapat di Suriah, terdiri dari 90% Arab, 9% Kurdish, dan 1% lainnya. 

Dalam makalahnya, Fakhry, memaparkan akar konflik di Suriah, didominasi oleh sistem politik diktator rezim Al Assad terhadap rakyat, diskriminasi politik terhadap kelompok mayoritas dan juga krisis ekonomi akibat embargo Amerika Serikat pada tahun 2004. 

Selain itu, menurut peneliti yang menyelesaikan master bidang studi Islam di Institut PTIQ Jakarta ini, konflik Suriah juga disebabkan oleh gerakan protes terjadi sepanjang pemerintahan Assad dan pada tahun  1982 terjadi pemberontakan Ikhwanul Muslimin di kota Hama. Pada tahun 2005 juga terjadi perlawan gerakan oposisi di kota Homs. Fenomena Arab Spring memicu terjadinya gerakan protes anti Rezim di Seluruh Suriah dan sejak Maret 2011-sekarang terjadi perang sipil di Suriah. 

Fakhry menambahkan bahwa data korban tewas per Agustus 2013 mencapai 110.371 orang dan data pengungsi berjumlah 1.559.865 orang (The Syirian Obserfatory of Human Right, 2013). Selain dari hal-hal tersebut, konflik Suriah juga disebabkan oleh Aktor Internal (Rezim Al Assad, kelompok oposisi, dan  milisi Kurdi) dan Aktor Eksternal Konflik (Amerika Serikat, Uni Eropa, Liga Arab, Turki, Rusia, Cina, Iran, Hizbullah dan negara-negara poros Komunis). 

Berbagai respon regional dari negara-negara terdekat, seperti Liga Arab dengan memberikan sanksi ekonomi dan menangguhkan keanggotaan Suriah dan Iran tetap medukung rezim Bashar Al Assad. Sedangkan respon global, melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan memberikan kecaman kekerasan di Suriah dan membentuk mediator United Nations Supervision Mission in Syria (UNSMIS). Selain itu, Uni Eropa juga memberikan sanksi ekonomi berupa pembekuan aset Suriah dan pencekalan pejabat senior Rezim. Di lain pihak, Amerika Serikat memberikan intervensi militer, dan menuntut presiden Assad meletakkan jabatannya sedangkan Rusia dan Cina mendukung rezim Assad dan menolak segala bentuk intervensi asing. 

Peneliti muda P2P-LIPI ini, menerangkan bahwa solusi konflik Suriah dapat diselesaikan dengan identifikasi kepentingan pihak yang bertikai dan komitmen untuk meninggalkan kekerasan dan pencapaian melalui rekonsilisasi politik diikuti penjagaan keamanan (Peace Keeping Operation), serta menciptakan Perdamain dengan berbagai macam mekasnisme.

Di akhir diskusi, Fakhry menyimpulkan beberapa skenario dimana jika Amerika Serikat dan negara-negara Barat melakukan intervensi militer dan rezim Assad jatuh, maka eskalasi konflik di kawasan akan meningkat. Selain itu, Suriah akan seperti Irak dengan berkuasanya rezim boneka Amerika Serikat dan konflik sektarian. Hal yang dapat terjadi pula, perang kawasan antara kekuatan politik regional  Iran dan Hizbullah versus negara-negara Arab. Terakhir, Fakhry menjelaskan skenario yang mungkin timbulnya perang global antara poros Amerika Serikat yang di dukung negara-negara Barat dengan Rusia, Cina dan poros komunis. (Anggih Tangkas Wibowo)