Tahun 2015

Laporan Kegiatan Sosialisasi Hasil Penelitian DIPA 24 November 2015

Kategori: Tahun 2015
Dilihat: 378

Selama tiga hari dari tanggal 24 November hingga 26 November 2015, Pusat Penelitian Politik LIPI mengadakan sosialisasi hasil penelitian DIPA 2015. Pada kegiatan sosialisasi kali ini ada 10 hasil penelitian yang dipresentasikan. Mengambil tempat di ruang seminar lantai 11 Gedung Widya Graha 10, acara yang dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI Dr. Adriana Elisabeth ini merupakan salah satu wahana untuk memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan seluruh peneliti yang berada di bawah payung Pusat Penelitian Politik sekaligus mendiskusikan hasil temuan lapangan dari masing-masing tim.

            Pada hari pertama ada empat tim yang merepresentasikan hasil penelitian mereka. Sesi pertama adalah Tim Politik Luar Negeri Indonesia yang mengambil judul Politik Luar Negeri Indonesia terhadap Amerika Serikat: Memperjuangkan Kepentingan Nasional di Tengah Ketidakseimbangan Kekuatan. Dalam ringkasan hasil penelitian setebal 29 halaman, tim yang dikoordinatori oleh Dr. Siswanto ini berpendapat bahwa ada beberapa hal yang ikut mempengaruhi politik luar negeri Indonesia terhadap Amerika Serikat yaitu lingkungan strategis internasional, lingkungan regional dan lingkungan nasional. Konteks lingkungan strategis internasional yang berpengaruh pada politik luar negeri Indonesia terhadap Amerika Serikat salah satunya dipengaruhi oleh pergeseran kharakteristik ancaman keamanan dari yang sifatnya tradisional ke non tradisional. Sementara itu dari sisi lingkungan strategis regional, tim berpendapat setidaknya ada empat hal yang mempengaruhi politik luar negeri Indonesia terhadap Amerika Serikat. Pertama, kemunculan Tiongkok sebagai kekuatan regional baru yang oleh sebagian orang diyakini sebagai ‘penantang’ hegemoni AS. Kedua, munculnya kebijakan Pivot to Asia (rebalancing) yang mencerminkan perubahan politik Amerika Serikat untuk kembali berorientasi ke kawasan Asia. Ketiga, kemunculan berbagai kerjasama ekonomi regional baru semacam TPP (Trans-Pacific Partnership) maupun RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang bisa dijadikan instrument oleh negara besar dalam menjalankan agenda kepentingan nasionalnya. Keempat, konflik di Laut Cina Selatan yang berpotensi melibatkan kepentingan negara besar termasuk Amerika Serikat.

            Untuk lingkungan strategis nasional yang berpengaruh terhadap politik luar negeri Indonesia terhadap Amerika Serikat adalah kondisi dalam negeri terutama pergeseran Indonesia dari negara yang memiliki rejim authoritarian menjadi rejim yang lebih demokratis. Kondisi yang ditandai oleh tumbangnya rejim Orde Baru ini diyakini oleh tim membawa kondisi yang cukup dinamis baik dari sisi ekonomi maupun politik di dalam negeri. Kondisi transisi inilah yang menurut tim berpengaruh pada formulasi dan implementasi politik luar negeri Indonesia terhadap Amerika Serikat. Apalagi posisi Amerika Serikat secara ekonomi maupun militer sangat kuat. Kekuatan ekonomi Amerika Serikat tercermin dalam Gross Domestic Product yang mencapai US$ 17,42 triliun pada tahun 2014. Sementara itu kekuatan militer Amerika Serikat terlihat pada anggaran militer yang mencapai setengah total anggaran militer negara di dunia atau sekitar US$ 600 miliar. Belum lagi Amerika Serikat juga menjadi pemegang hak veto di PBB sehingga tim berkeyakinan kekuatan-kekuatan dari segi ekonomi maupun politik dari Amerika Serikat ini akan berpegaruh di tingkat global. Hal inilah yang mendasari tim memfokuskan penelitiannya pada bagaimana mencari peluang untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia di tengah ketidakseimbangan kekuatan melalui politik luar negeri Indonesia terhadap Amerika Serikat.

            Sesi kedua diisi oleh Tim Pemilu dan Partai Politik. Tema yang diusung adalah Masa Depan Partai Politik Islam Pasca Reformasi di Indonesia. Tim yang dikoordinatori oleh Moch Nurhasim, M.Si dan beranggotakan 6 orang ini memfokuskan kajiannya pada penurunan dukungan pemilih terhadap partai Islam di era reformasi, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi volatilitas electoral partai-partai Islam dari pemilu ke pemilu dan bagaimana masa depan partai politik Islam di Indonesia? Di sini tim menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif dalam penelitian ini. Untuk mengetahui derajat naik turun suara partai-partai Islam dari satu pemilu ke pemilu yang lain, tim menggunakan metode penelitian kuantitatif melalui volatilitas. Di sini tim memberi penjelasan bahwa volatilitas partai dihitung dengan jalan menambahkan perubahan presentase (bertambah atau berkurang) dari setiap pemilu yang kemudian dibagi dua. Metode ini diyakini tim dapat digunakan untuk menjelaskan eksistensi partai pada sistem kepartaian dan pemilu berdasarkan perolehan suara partai tersebut untuk kemudian dikategorikan dalam partai papan atas, menengah atau bawah.

            Dalam argumentasinya, tim berpendapat bahwa selain metode kuantitatif, konsep volatilitas electoral kualitatif juga dibutuhkan agar naik turunya suara partai politik dari satu pemilu ke pemilu berikutnya dapat dijelaskan. Penggunaan metode kualitatif ini sekaligus untuk memberi penggambaran masa depan partai politik Islam dilihat dari stabilitas perolehan suara dari pemilu satu ke pemilu berikutnya termasuk stabilitas partai politik Islam pada sistem kepartaian serta sistem pemilu berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

            Penjelasan untuk mengkategorikan partai Islam tim mendasarkan pada dua pembatasan. Pertama, partai yang menjadikan Islam sebagai asas atau ideologi secara jelas dan tegas seperti tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan kedua partai yang tidak mencantumkan Islam sebagai asas atau ideologi tetapi identigas partai tidak dapat dipisahkan dari simbol-simbol Islam. Untuk itu unit analisis dari tim ini jatuh pada Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

            Dalam sesi ketiga, tim yang mempresentasikan hasil penelitiannya adalah Tim Nasionalisme. Dengan mengambil judul Relasi Nasionalisme dan Globalisasi Kontemporer: Suatu Kajian Konseptual, tim ini mencoba beranjak lebih pada tataran abstraksi atau konseptual berdasarkan hasil penelitian tahun-tahun sebelumnya.  Tim berpendapat bahwa globalisasi pada dasarnya bermakna transformasi dan memiliki kecenderungan kuat terhadap pembentukan perubahan. Untuk itu tim memfokuskan kajiannya pada sejauh mana globalisasi dengan spirit transformasi itu memberikan pengaruh kepada eksistensi nasionalisme. Dengan mengangkat masalah seputar kedaulatan, identitas lokal dan sentiment religi, tim hendak mengukur atau menilai dampak globalisasi terhadap keberadaan nasionalisme yang secara mendasar juga menjadi fondasi negara-bangsa.

            Tim berkeyakinan bahwa arus informasi, teknologi maupun perdagangan melesat begitu cepat dan mampu membobol sekat-sekat negara bangsa yang ada. Untuk itulah tim berpendapat bahwa definisi kedaulatan negara yang selama ini telah ada nampaknya perlu untuk didefinisi ulang. Tim mengamini pengamat globalisasi Kenichi Ohmae  yang dengan tegas mengatakan berakhirnya era kedaulatan usang menandai berakhirnya era negara-bangsa akibat dari tidak relevannya defisini lawas mengenai kedaulatan.

            Selain itu kebangkitan lokal yang marak terjadi pasca tumbangnya rejim orde baru diyakin oleh tim akan mereduksi tingkat kesadaran terhadap rasa kebangsaan dan loyalitas kepada negara-bangsa. Sementara fenomena berkembangnya jaringan keagamaan transnasional mampu membawa identitas dan ‘pemaknaan baru’ yang menandai munculnya dinamika dan kegairahan kehidupan sosial-keagamaan baru sekaligus kesadaran kebangsaan, sistem politik dan eksistensi negara-bangsa itu sendiri.

            Pada sesi terakhir atau sesi keempat seminar sosialisasi akhir penelitian DIPA Pusat Penelitian Politik LIPI hari pertama ditutup oleh tim ASEAN. Tim yang dikoordinatori oleh Dr. M. Riefqi Muna, M.Defstud memfokuskan kajian pada Peran Indonesia dalam Kerangka ASEAN di East Asia Summit (EAS): Pengaruh Keterlibatan Amerika Serikat (AS). Pada awal paparannya, tim berpendapat bahwa kondisi regional di kawasan Asia Timur yang penuh dengan permusuhan menjadi faktor pendukung sulitnya membentuk kerjasama regional atau regionalisme. Sejarah politik dan perang antar aktor (Jepang, RRT, Korea Selatan dan Korea Utara) cukup berpengaruh pada dinamika interaksi di kawasan ini sehingga pengalaman kerjasama regional atau regionalisme cenderung terhambat.

            Di sinilah tim melihat peluang posisi Indonesia mengambil peran dalam East Asia Summit atau EAS. Indonesia menaruh perhatian pada pembentukan dan perkembangan EAS karena bagi Indonesia forum dialog sangat penting bagi upaya menciptakan perdamaian regional serta menghindarkan dari resiko munculnya kekuatan negara-negara besar yang dapat mengatur model keamanannya sendiri.

 



            Indonesia sendiri mendorong strategi perluasan EAS dengan meletakkan negara-negara besar semacam Amerika Serikat, Rusia dan Republik Rakyat Tiongkok sebagai bagian pembentukan tatanan kerjasama di Asia Timur pada berbagai aspek strategis. Upaya Indonesia ini didasarkan pada konsep “Dynamics Equilibrium” yang dicetuskan oleh Menlu Natalegawa yang intinya meletakkan Indonesia pada posisi “keseimbangan dinamis” dalam politik dunia. Posisi ini memungkinkan Indonesia menjadi kekuatan baru dalam hubungan internasional serta memanfaatkan terbukanya peluang untuk kerjasama.