Tahun 2016

Catatan Diskusi FGD “Problematika Polarisasi Opini dalam Demokrasi Digital di Indonesia”

Kategori: Tahun 2016
Dilihat: 1449

Senin 14 November 2016 bertempat di ruang seminar Pusat Penelitian Politik Gedung Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) Jalan Gatot Subroto No. 10 Jakarta, Tim Web P2P LIPI menyelenggarakan diskusi tentang problematika polarisasi opini dalam demokrasi digital di Indonesia. FGD kali ini menghadirkan narasumber dari Forum Demokrasi Digital yaitu Damar Juniarto dan Wasisto Raharjo Jati, Peneliti P2P LIPI. Acara ini dibuka oleh Dr. Siswanto, Kepala Pengelolaan Diseminasi Hasil Penelitian P2P LIPI. Dalam pidato pembukaanya Siswanto mengatakan bahwa internet dan media sosial merupakan alternatif jalur komunikasi yang mudah dan murah dengan jangkauan yang tidak terbatas. Dalam konteks pilkada, media sosial dan internet kemudian digunakan oleh tim kampanye dan para pendukung pasangan calon untuk menyebarkan program mereka. Sayangnya para pendukung dari masing-masing pasangan calon kemudian saling berbeda pendapat dan memunculkan polarisasi opini. Polarisasi opini sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam demokrasi jika disikapi secara dewasa. Siswanto menambahkan bahwa forum ini kemudian penting dilakukan untuk mendiskusikan bagaimana sikap para netizen dalam menghadapi terjadinya polarisasi opini ini.

Pada kesempatan pertama, Wasisto Raharjo Jati memaparkan idenya dalam makalah yang berjudul “Pola Aktivisme Klik di Kalangan Netizen Kelas Menengah di Indonesia”.  Wasis memaparkan pendapatnya bahwa internet sudah menjadi kebutuhan yang massif di segala bidang kehidupan. Internet ini membuat batasan ruang publik dan ruang privat menjadi tidak jelas. Internet menjadi ruang alternatif bagi publik untuk artikulasi isu dan kepentingan serta untuk representasi dan rekognisi. Wasis menekankan bahwa masalah politik kini tidak lagi melulu mengenai kebijakan, kekuasaan dan anggaran melainkan urusan keseharian individu atau kolektif. Wasis membahasakan menjadi day to day politics.

Dalam paparan selanjutnya Wasis memaknai aktivisme klik (clicktivism) sebagai bentuk aktivisme politik berbasis media sosial yang digunakan untuk mencapai perubahan sosial. Tujuannya adalah memperbesar kelompok masyarakat kritis terutama mereka yang berasal dari kalangan kelas menengah. Kemudian Wasis mengkategorikan tiga generasi aktivisme klik. Generasi awal tahun 1994-2004 menurut Wasis ditandai dengan aktivisme klik yang membangun kesadaran politik (political awareness) maupun kesadaran kritis (critical awareness). Pada saat itu kesadaran politik dan kesadaran kritik dibangun untuk menghadapi musuh bersama yaitu rezim otoritarianisme. Pada generasi ini bentuk ekspresi aktivisme klik berupa media sharing dalam bentuk diseminasi gagasan kritis, kontra wacana yang dilakukan oleh para mahasiswa, aktivis NGO/LSM dan kalangan intelektual kampus. Selain media sharing, ekspresi aktivisme klik generasi awal adalah aksi advokasi, aksi partisipasi dan aksi emansipasi yang dilakukan oleh aktivis NGO/LSM maupun aktivis media.

Aktivisme klik generasi kedua ditandai Wasis muncul sekitar tahun 2004-2014. Menurut Wasis aktivisme klik telah mengalami pergeseran. Jika pada generasi awal hanya membangun kesadaran politik dan kesadaran kritis maka generasi ini sudah berusaha mengubah keterikatan sipil (civic engagement) menuju keterikatan politik (political engagement). Generasi kedua ini tambah Wasis juga ditandai oleh adanya social profiling atau pembentukan profil diri yang bertujuan membuka ruang interaksi dan diskusi sosial berbasis pada kesamaan identitas, minat, bakat. Kesamaan identitas, minat dan bakat ini kemudian menjadi basis pengelompokkan diri dengan yang lainnya (social sorting). Wujud ekspresi aktivisme klik dalam generasi ini berupa posting diseminasi informasi, isu, status, maupun pendapat pribadi. Ekspresi pada generasi ini disertai sikap liking dan disliking sebagai wujud eksistensi, afirmasi dan juga afiliasi diri/kolektif terhadap suatu permasalahan. Menariknya jika pada generasi awal aktivis NGO/LSM yang lebih banyak berperan maka pada generasi ini peran lebih didominasi oleh kalangan pekerja muda, pengusaha, intelektual, birokrat, mahasiswa dan aktivis.

Aktivisme klik generasi ketiga menurut Wasis berada di tahun 2014 hingga sekarang. Uniknya kata Wasis jika generasi kedua semula berbasis pada political engagement maka generasi ketiga ini justru bergeser menjadi political disengagement. Generasi yang ditandai oleh melek teknologi ini didominasi oleh adanya kontestasi kuasa dan makna wacana. Fenomena ini menurut Wasis ditandai juga dengan hadirnya buzzer, influencer maupun followers. Netizenpun semakin plural dan terfragmentasi dan tersegregasi dalam berbagai isu maupun kepentingan. Sebenarnya pengelompokkan justru terjadi seperti pada generasi kedua hanya saja kesamaan isu dan kepentingan yang menjadi basis pengelompokkan bukan lagi minat dan bakat. Identitas justru semakin menguat pada generasi ketiga ini. Wasis menambahkan ekspresi aktivisme klik pada generasi ini terwujud dalam bentuk trolling penciptaan kontra wacana dan penguatan sentimen identitas. Selain itu juga fenomena flaming pada kelompok peer baik secara on line maupun off line. Kalangan pengusaha, intelektual, asosiasi, birokrat, mahasiswa dan aktivis yang mendominasi peran dalam aktivisme klik generasi ketiga ini.

Dalam penutupan paparannya, Wasis menyimpulkan bahwa perlu mendorong aktivisme klik bergerak tidak hanya berbasis isu (by issue) tetapi perlu didesain (by design) untuk melakukan aksi nyata berbasis advokasi masalah.  Selain itu penting untuk menyamakan visi dan misi gerakan antara di dunia on line dan off line serta perlunya konsensus antara Negara dan netizen dalam upaya menjembatani kepentingan, tambah Wasis.

Narasumber berikutnya adalah Damar Juniarto dari Forum Demokrasi Digital. Pada awal paparanya Damar mengatakan bahwa berbicara tentang dunia cyber tidak lepas dari hasil konstruksi berbagai pihak. Awalnya Internet lahir dari kalangan militer dan dalam berjalannya waktu ada aktivis, akademisi, pemerintah, pendidikan, pengusaha, politisi ikut mengkontruksi perkembangan internet. Damar menambahkan bahwa komputer tidak hanya sekedar kotak berisi keyboard dan layar namun melalui komputer ini kita mampu menyentuh siapapun, memberikan komentar atas isu apapun yang sedang ramai dibicarakan. Komentar-komentar ini tentu didasarkan pada preferensi dan kepentingan yang berbeda-beda antara dua pihak atau lebih yang akhirnya akan menimbulkan gesekan bahkan pertempuran di dalam dunia cyber.

Damar menambahkan bahwa konflik mungkin terjadi. Damar kemudian mengutip pendapat Lewis A Caser yang mengatakan bahwa konflik kemungkinan terjadi karena adanya perebutan sumber daya yang terbatas. Dan kecenderungan yang ada menurut Damar, kelompok sosial yang lebih kuat akan menggunakan kekuasaannya untuk mempertahankan sumber dayanya serta berusaha untuk membendung kelompok sosial lain untuk memiliki sumber daya tersebut.

Bagi Damar perubahan pola konsumsi informasi yang ada berpengaruh pada adanya polarisasi di internet. Perubahan konsumsi informasi ini tidak lepas dari tipikal generasi yang mengalami perbedaan dari waktu ke waktu. Damar berpendapat bahwa pengelompokkan generasi tidak sesimple seperti dulu lagi yang dibagi ke dalam generasi muda dan generasi tua. Damar menambahkan bahwa di dunia ini pengelompokkan generasi dapat dibagi ke dalam generasi silent yang didominasi oleh mereka yang berusia di atas 65 tahun. Kemudian diikuti oleh generasi  baby boomers yang didominasi oleh kelompok usia 50-64 tahun. Generasi ini diikuti oleh kelompok generasi x yang berada pada usia 35-49 tahun. Pengelompokkan generasi berikutnya adalah generasi millennial yang berada pada kelompok usia 21-34 tahun dan terakhir adalah generasi z yang berada pada kelompok usia 15-20 tahun. Perbedaan generasi ini berhubungan dengan perbedaan tingkat konsumsi media. Puluhan tahun yang lalu masyarakat  masih mengandalkan media cetak dalam menkonsumsi informasi namun bagi generasi x, millennial dan generasi z, dunia sosial menjadi tumpuan utama bagi mereka untuk mengkonsumsi informasi.

Selain perubahan konsumsi informasi, Damar juga menyoroti adanya pergeseran perubahan komunikasi. Menurut Damar generasi web 1.0 pola komunikasi cenderung satu arah. Orang cenderung menaruh suatu hal yang akan dikomunikasikan di suatu web dan dengan cepat orang akan melihatnya. Pola komunikasi ini mengalami perubahan pada generasi web 2.0 dimana hal yang akan dikomunikasikan akan medapatkan feed back dari komunikan sehingga antara komunikator dengan komunikan bisa berinteraksi satu sama lain. Namun dalam generasi web 3.0 pola komunikasinya lebih kompleks menurut Damar. Bahkan pada generasi web ini sulit untuk memilah antara komunikan dan komunikator karena masing-masing saling memengaruhi.

Pola komunikasi generasi web 3.0 di satu sisi mampu menghadirkan banyak pilihan bagi komunikan. Komunikan akan bebas memilih dan mencari pembanding informasi. Namun sisi negatifnya ketika ini bersinggungan dengan pilihan politik, maka hubungan antara komunikator dengan komunikan akan menjadi lebih komplek. Ibarat bisnis, konsumen masih gampang untuk memilih suatu komoditas dan mendapatkan barang pembanding yang lebih variatif. Namun ketika ini bersinggungan dengan dunia politik maka narasi yang muncul cenderung lekat dengan sejarah narasi dukungan/ atau pilihan terhadap kelompok tertentu. Dan ini justru semakin memperkuat polarisasi. Damar mencontohkan ketika di FB atau tweet kita hanya berteman dengan orang-orang yang memiliki dukungan yang sama. Dan kecenderungan yang ada kita akan meng-unfriend orang-orang yang tidak memiliki dukungan politik yang sama dengan kita. Ini juga semakin memperkuat polarisasi diantara kedua kelompok yang memiliki perbedaan dukungan. Damar menutup paparannya dengan sebuah kekhawatiran. Bagi Damar tidak perlu mengkhawatirkan adanya polarisasi di dunia maya. Bagi Damar yang perlu dikhawatirkan justru ketika tidak ada lagi akses terhadap internet. Ketika internet jatuh kepada orang yang tidak tepat dan menutup aksesnya maka tertutuplah kemerdekaan dalam berekspresi yang merupakan simbol bagi kehidupan demokrasi. (Septi Satriani)