Tahun 2017

Catatan dari Seminar “Contributions of Japan-Indonesia Relations to Further Development of ASEAN” Jakarta, 27 Oktober 2017

Kategori: Tahun 2017
Dilihat: 482

Setelah hampir enam dekade menjalin hubungan diplomatik, Indonesia dan Jepang telah menjadi mitra strategis. Keduanya memiliki hubungan yang  dekat dan saling menguntungkan. Keakraban dua pemimpin dapat terlihat dari kunjungan kenegaraan yang saling bersambut, di mana Presiden Joko Widodo mendatangi Jepang pada tahun 2015 dan dua tahun setelahnya Perdana Menteri Shinzo Abe melakukan kunjungan ke Indonesia. Selain itu, berbagai kerangka kerja sama yang telah disusun terus ditingkatkan intensitasnya termasuk Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement serta kerja sama keamanan dan pertahanan khususnya di bidang maritim.

Dalam konteks hubungan Indonesia dan Jepang, ASEAN merupakan bagian yang sangat penting. Indonesia merupakan negara pionir ASEAN yang terus mendukung perluasan mitra eksternal ASEAN. Berkaitan dengan itu, Jepang merupakan salah satu negara yang menghadiri  pertemuan tingkat tinggi antara negara ASEAN dan Non ASEAN pada tahun 1973. Kemudian pada tahun 1977, Perdana Menteri Takeo Fukuda menjabarkan prinsip diplomasi Jepang kepada ASEAN yang dikenal sebagai Doktrin Fukuda. Doktrin ini berisikan tiga hal yaitu komitmen Jepang untuk menolak keikutsertaan kekuatan militer, menjalin hubungan“dari-hati-ke-hati” yang saling percaya, dan membentuk hubungan yang setara dengan ASEAN. Kesamaan visi Indonesia, Jepang dan ASEAN membuat ketiganya terus mengembangkan berbagai kerangka dialog dan kerja sama untuk mewujudkan perdamaian dan mengembangkan kawasan secara ekonomi, sosial serta budaya.

Untuk lebih jauh membahas bagaimana hubungan Indonesia-Jepang berkontribusi pada perkembangan wilayah ASEAN, maka Pusat Penelitian Politik bekerja sama dengan Mission Japan to ASEAN serta Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia mengadakan sebuah seminar yang menghadirkan pakar dan pemerhati hubungan internasional bidang ekonomi maupun politik. Seminar yang sekaligus diadakan bertepatan dengan “Setengah Abad ASEAN, Ulang Tahun Emas LIPI dan 40 Tahun Dikeluarkannya Doktrin Fukuda” ini diadakan pada  27 Oktober 2017. Seminar yang dihadiri langsung oleh Perdana Menteri Yasuo Fukuda ini bertempat di Grand Ball Room Hotel Indonesia Kempinski.

Seminar ini dibuka oleh Prof. Dr. Bambang Subiyanto, Plt. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menekankan pertumbuhan ASEAN dari segi ekonomi dan politik serta bagaimana kerja sama Jepang dengan Indonesia maupun ASEAN telah berkontribusi dalam memperkuat posisi ASEAN dalam menghadapi  dinamika dan tantangan global. Secara khusus Prof. Dr. Subiyanto menyebutkan mengenai peran LIPI sebagai institusi riset yang memainkan peran penting dalam melakukan kajian tentang ASEAN dan ikut membangun agenda riset dan teknologi di ASEAN.

Terdapat dua pembicara kunci yang memberikan landasan pembahasan kedua panel dalam seminar ini. Pembicara pertama adalah PM Yasuo Fukuda. PM Fukuda menyampaikan bahwa ASEAN memiliki banyak potensi untuk meningkatkan potensi kawasan dan Jepang merupakan mitra yang telah bersama ASEAN sejak lama. Dukungan Jepang terhadap ASEAN akan terus dapat ditingkatkan berdasarkan hubungan “dari-hati-ke-hati”. Pembicara yang kedua adalah Ginanjar Kartasasmita yang merupakan ketua dari Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang. Dalam paparannya, Ginandjar Kartasasmita mengatakan pentingnya memahami hubungan Indonesia-Jepang dalam konteks yang lebih luas dan bahwa kerja sama dengan ASEAN bukan hanya menguntungkan tetapi dibutuhkan oleh kedua kawasan (Asia Tenggara dan Asia Timur).

Acara dilanjutkan dengan dua sesi pembahasan, ekonomi dan politik-keamanan. Sesi ekonomi dimoderatori oleh Dr. Siwage Dharma Negara dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI yang juga merupakan Fellow di ISEAS, Singapura. Sesi ini diisi oleh tiga orang akademisi yang memiliki keahlian pada bidang ekonomi internasional. Pada paparannya, Profesor Tirta Musitama dari Universitas Bina Nusantara menyarankan Jepang untuk lebih mengoptimalisasi kerja sama terutama berkenaan dengan transfer teknologi, menjalin relasi lebih dekat dengan alumni pelajar Jepang, dan meningkatkan aktivitas bisnis melalui kerangka “micro-regionalization” dan “micro-regionalism” yang akan melengkapi integrasi ekonomi yang dicanangkan ASEAN. Pembahasan mengenai integrasi ASEAN dilanjutkan oleh Dr. Zamroni Salim dari P2E LIPI yang memaparkan kemajuan dan tantangan dari integrasi ekonomi di ASEAN. Menurutnya, integrasi ekonomi ASEAN dapat ditingkatkan melalui perbaikan infrastruktur dan fasilitasi perdagangan, mempromosikan e-commerce, mempromosikan pembangunan ekonomi inklusif, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang ASEAN. Pembicara terakhir di sesi ini adalah Dr. Yasushi Ueki dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) juga menakankan pentingnya kerangka ekonomi yang telah dirancang ASEAN. Dr. Ueki membicarakan tentang kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan kontribusi kerja sama ASEAN dengan Jepang.

Pada sesi politik, diskusi dipandu oleh Dr. Riefqi Muna yang merupakan peneliti senior bidang strategi, keamanan dan pertahanan dari Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI. Sesi ini menghadirkan seorang praktisi senior dan dua orang akademisi yang membahas aspek geopolitik di Asia Tenggara maupun Asia Timur.  Pemapar pertama adalah Duta Besar Soemadi DM Brotodiningrat yang memberikan landasan mengenai Fukuda Doctrine, aspek politik dan keamanan Jepang, dan hubungan Jepang dan ASEAN. Landasan ini diikuti dengan penjabaran Dr. Edi Prasetiono dari Universitas Indonesia yang berfokus pada bagaimana kerja sama Jepang dan Indonesia dapat berdampak pada ASEAN. Pada penutup paparannya, Dr. Prasetiono menggarisbawahi bahwa “keamanan regional harus diatur melalui pendekatan inklusif pada ke semua kekuatan dalam kepentingan bersama/yang saling menguntungkan”. Pemapar terakhir adalah Dr. Adriana Elisabeth dari P2P LIPI. Dr. Elisabeth memberikan perspektif pentingnya nilai-nilai demokrasi dan HAM dalam pembangunan regional di ASEAN. Nilai-nilai ini penting dalam memastikan terwujudnya orientasi baru ASEAN yang berfokus pada penguatan masyarakat ASEAN. Dalam hal ini dukungan Jepang secara umum penting untuk memastikan tercapainya ekosistem regional yang kuat. 

Acara yang dihadiri oleh 400 peserta dari berbagai intansi, lembaga dan universitas ini ditutup oleh Dr. Firman Noor. Dr. Noor menyatakan apresiasinya terhadap perhelatan yang dikerja samakan antar tiga institusi dari dua negara yang telah lama bersahabat, Indonesia dan Jepang. Diharapkan di masa mendatang akan dapat digalang kerja sama yang lebih dekat antar Indonesia-Jepang. (Khanisa Krisman)