Tahun 2018

Catatan Kegiatan Workshop Memory of the World Indonesia: dari Indonesia untuk Dunia

Kategori: Tahun 2018
Dilihat: 94

unesco

Selama dua hari berturut-turut (17-18 April 2018) Komite Nasional Memory of the World Indonesia yang diketuai oleh Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI mengadakan rangkaian kegiatan Peringatan 63 Tahun Konferensi Asia Afrika dan Workshop Memory of the World yang berjudul “Warisan Dokumenter Indonesia untuk Pengetahuan Dunia” di kompleks LIPI Gatot Subroto, Kav. 10 Jakarta Selatan.

 

Kegiatan ini dibuka dengan megah, diawali dengan sambutan dari Plt.Kepala LIPI, Prof. Dr. Bambang Subiyanto, M.Agr yang menegaskan bahwa momentum Konferensi Asia Afrika (KAA) akan selamanya menjadi pengingat bagi seluruh bangsa yang ada di benua Asia dan Afrika, bahwa persatuan di atas keberagaman merupakan satu-satunya cara untuk tetap dapat berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Untuk itulah, pendokumentasian arsip konferensi tersebut menjadi penting untuk dikawal bersama.

 

Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Bapak Dr. Mego Pinandito, M.Eng selaku Ketua Komite Nasional Memory of the World Indonesia memberikan pengantar tentang Memory of the World (MoW). MoW merupakan sebuah program di bawah UNESCO yang bertujuan untuk menjaga dokumentasi peristiwa atau kegiatan yang memiliki kontribusi signifikan dalam sejarah dunia. Menurut beliau, selama ini Indonesia telah secara berkelanjutan memberikan kontribusinya dalam membangun dan menjaga perdamaian dunia. Dengan menjaga dokumentasi dari upaya-upaya ini, seluruh dunia dapat mengambil manfaat dan belajar dari kontribusi yang telah diberikan.

 

Kegiatan ini juga diisi dengan peluncuran buku “Hidup dan Biarkan Hidup: Persatuan dalam Keberagaman Asia Afrika!” oleh Rieke Diah Pitaloka. Buku ini merupakan kumpulan pidato politik dari 29 Tokoh Bangsa Asia Afrika yang hadir di Konferensi Asia Afrika 1955. Disusun dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, buku ini diharapkan mampu memberikan pembelajaran bagi seluruh pembacanya bahwa keberagaman bukanlah sebuah permasalahan karena para pendiri bangsa Asia Afrika telah membuktikan bahwa keberagaman justru merupakan kekuatan untuk bangkit bersama.

 

Poin serupa kembali digaungkan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia yang menjadi pembicara kunci dengan judul pidato “Tiga Tinta Emas Abad 20”. Dalam pidatonya beliau menggarisbawahi tiga peristiwa penting di abad 20 yang laik masuk dalam MoW karena masih sangat relevan hingga hari ini. Tiga peristiwa itu antara lain Konferensi Asia Afrika tahun 1955, Pidato Bung Karno di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1960 yang berjudul “To Build the World Anew”, dan Gerakan Non-Blok Pertama (GNBP) tahun 1961. Penetapan arsip KAA sebagai bagian dari MoW merupakan pengakuan bahwa semangat gotong royong dan solidaritas, prinsip musyawarah untuk mufakat, kesepakatan untuk menentang segala bentuk penjajahan, serta persatuan dalam keberagaman yang terus disuarakan dalam Konferensi ini diakui sebagai ingatan kolektif dunia. Namun demikian, Pidato Bung Karno di PBB tahun 1960 dan GNBP tahun 1961 juga perlu menjadi bagian dari ingatan kolektif dunia sebab tidak hanya memengaruhi kondisi politik internasional pada waktu itu, namun juga bahwa gagasan yang dihasilkan pun masih sangat relevan jika dikontekstualkan dalam upaya penanganan permasalahan-permasalahan internasional hari ini.

 

Dalam pidatonya yang merupakan pidato terpanjang sepanjang sejarah Sidang Umum PBB (70 halaman) ini, Bung Karno menggarisbawahi beberapa poin. Pertama, Pancasila mempunyai arti universal yang dapat digunakan sebagai landasan kesepakatan kerja sama antar bangsa. Kedua, pentingnya pelucutan senjata nuklir, atom, dan hidrogen dalam konflik apapun. Ketiga, agar Tiongkok dapat diterima menjadi anggota PBB. Keempat, menyuarakan perjuangan nasib rakyat Kongo dan Aljazair. Kelima, agar resolusi dengan dukungan dari Ghana, India, Republik Persatuan Arab, Yugoslavia dan Indonesia yang berisi desakan kepada Presiden Amerika Serikat dan Ketua Dewan Menteri Uni Republik Sosialis Soviet memilih perundingan untuk memecahkan masalah tanpa harus membagi dunia ke dalam dua blok, dan yang paling penting, agar seluruh dunia bersatu untuk menciptakan sebuah tata dunia baru yang kokoh, kuat, dan sehat di mana semua bangsa dapat hidup dalam damai dan persaudaraan.

 

Sementara itu, dalam GNBP tahun 1960 Bung Karno menegaskan bahwa: “Politik Non-Blok adalah pembaktian kita secara aktif kepada perjuangan yang luhur untuk kemerdekaan, untuk perdamaian yang kekal, keadilan sosial, dan kebebasan untuk merdeka”. Ada lima basis prinsipnya, yakni saling menghormati integritas teritorial dan kedaulatan, perjanjian non-agresi, tidak mengintervensi urusan dalam negeri negara lain, kesetaraan dan keuntungan bersama, dan menjaga perdamaian. Dengan prinsip-prinsip ini sebagai landasan, Bung Karno dan Nehru (Perdana Menteri India pada waktu itu) ditugaskan untuk melakukan lobi diplomatik pada Amerika dan Rusia yang berujung pada kesepakatan kedua negara untuk tidak menggunakan senjata nuklir dalam konflik “Perang Dingin”.

 

Setelah pidato Ibu Megawati Soekarnoputri, diselenggarakan pemutaran film dokumenter yang berisi testimoni dari perwakilan negara-negara peserta KAA tahun 1955 dan konferensi pers. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pertama dan kedua Workshop MoW “Warisan Dokumenter Indonesia untuk Pengetahuan Dunia”. Beberapa peneliti Pusat Penelitian Politik terlibat sebagai pembicara dan moderator dalam acara ini.

 

Pada sesi pertama yang dimoderatori oleh Dr. Adriana Elisabeth, peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI, hadir dua orang pembicara yakni Dr. Mukhlis Paeni (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia) dan Kamapradipta Isnomo (Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang, Kementerian Luar Negeri RI). Dalam kesempatan tersebut, Kamapradipta mengungkapkan bahwa Dasa Sila Bandung yang dihasilkan dalam KAA merupakan modal diplomasi bagi Indonesia. Gerakan Non Blok, Pasukan Khusus Pemelihara Perdamaian, Anggota Tidak Tetap dalam Dewan Keamanan PBB, dan sebagainya muncul dengan rujukan dari prinsip-prinsip yang dikandung dalam Dasa Sila Bandung. Sementara menurut Dr. Mukhlis Paeni, Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat kaya akan sejarah dan budaya yang dapat dikontribusikan kepada dunia. Tidak hanya produk budaya seperti alat musik, hasil kerajinan, maupun konstruksi bangunan, naskah atau peraturan layaknya yang terkandung dalam naskah I La Galigo dan Kitab Negarakertagama, tetapi juga pemikiran/konsep/gagasan yang selama ini terdokumentasikan dengan baik dalam arsip KAA. Namun demikian, Mukhlis juga menggarisbawahi bahwa dalam upaya pencatatan ingatan kolektif ini, komite nasional juga perlu berhati-hati dan memperhatikan aspek lokal dalam menyeleksi muatan yang ingin diajukan. Aceh dapat menjadi satu contoh kasus di mana meskipun sudah ada museum tsunami, antusiasme masyarakat lokal untuk berkunjung ke museum ini sangat rendah karena museum itu hanya mengingatkan pada kejadian buruk yang pernah mereka alami.

 

Pada sesi kedua, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Dr. Asvi Warman Adam (Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI) hadir sebagai pembicara dengan moderator Dr. Firman Noor, MA (Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI). Pada sesi ini, Dr. Asvi Warman Adam menyampaikan dua poin utama. Pertama, jika memang Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB tahun 1960 akan dinominasikan sebagai bagian dari MoW, maka sebaiknya kumpulan pidato beliau dari tahun 1930 hingga 1967 juga sekaligus diajukan karena pidato-pidato tersebut akan dapat menggambarkan secara lebih lengkap cara berpikir beliau mengenai perdamaian dan kemerdekaan. Kedua, kesuksesan Indonesia dalam penanganan pengungsi Vietnam pada periode waktu 1975-1996 yang ditempatkan di Pulau Galang, Kepulauan Riau, membuatnya patut untuk dinominasikan sebagai bagian dari MoW. Kontribusi Indonesia saat itu dapat memberikan contoh yang tepat dalam penanggulangan pengungsi, terlebih saat ini ketika permasalahan pengungsi kembali menjadi perhatian global.

 

Selanjutnya, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA menceritakan sosok Soekarno yang menurut pandangan beliau merupakan seorang intelektual yang berwawasan luas, eklektik, namun tetap mampu melakukan sintesa sehingga selalu mampu menghasilkan gagasan-gagasan yang hingga kini masih dapat digunakan. Dalam pemikiran Soekarno, perdamaian yang ideal adalah yang mengandung antikolonialisme, antiimperialisme, antifeodalisme, dan merupakan bentuk solidaritas antarumat manusia. Perdamaian ini baru dapat terwujud jika sudah tidak ada lagi penjajahan. Satu-satunya kondisi yang dapat mewujudkan hal tersebut adalah jika mereka yang dijajah bersatu untuk tidak mau dijajah, tidak minder, tercerahkan berdasarkan pendidikan, dan bersedia beraliansi demi mewujudkan cita-cita bersama. Bagi Bung Karno, membangun perdamaian sama dengan melanjutkan revolusi untuk mencapai kesederajatan antarumat manusia dan oleh karena itu, semboyan Bhineka Tunggal Ika yang menekankan kekuatan persatuan dalam keanekaragaman harus menjadi dasarnya.

 

Sesi workshop hari kedua dimoderatori oleh Moch. Nurhasim, S.IP., M.Si dan Prof. Dr. Dwi Purwoko, MA. Pada hari kedua sesi pertama membahas dua tema yang sangat penting berkaitan dengan “Mengenang Tsunami Samudera Hindia: Pembelajaran Mitigasi Bencana” dan “Borobudur: Catatan Restorasi Candi Terbesar dalam Sejarah Dunia.” Para pembicara menegaskan bahwa dua episode sejarah Indonesia tersebut patut menjadi catatan, karena baik restorasi Candi Borobudur maupun peristiwa Tsunami sama-sama menekankan arti pentingnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, bahkan dunia. Arsip dalam restorasi Candi Borobudur tidak saja telah diakui sebagai MoW, tetapi dapat menjadi arsip yang penting dalam memugar benda bersejarah. Proses pemugaran Borobudur telah menyimpan sejumlah kekayaan data sejak proses pemugaran dari 1973 hingga 1983 dilakukan. Paling tidak ada 6.043 lembar peta kalkir, 71.851 lembar foto pemugaran, 7.024 keping negatif foto dari kaca ukuran 9x12 cm, 65.741 negatif film, dan 13.512 foto slide frame. Data tersebut tidak hanya menyimpan ingatan sejarah, tetapi juga menyimpan kekayaan intelektual yang menjadi sumbangsih Indonesia bagi dunia.

 

Dalam konteks Tsunami Samudera Hinda sebagai sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat manusia, PBB bahkan menyatakan tsunami Aceh sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. Peristiwa itu bukan hanya perlu dikenal, melainkan lebih dari itu, harus menjadi pembelajaran bagi dunia ilmu pengetahuan agar memiliki manfaat bagi keadaban dan kajian-kajian tentang geologi di Indonesia. Dengan demikian, peristiwa yang sama bukan saja dapat diprediksi dan digambarkan, melainkan juga dapat memberikan peringatan kepada setiap umat manusia.

 

Sementara pada sesi kedua membahas dua isu yang berkaitan dengan sejarah non-Blok dan peran Indonesia. Hadir sebagai pembicara Dr. Ganewati Wuryandari, dan Muh Syarif Bando (Perpustakaan Nasional RI) yang membahas mengenai Naskah Panji. Cerita Panji ini merupakan sebuah proyek kerja sama antara Indonesia dengan Malaysia, Kamboja, Belanda, dan Inggris. Atas usaha yang tak kenal lelah dari Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro bersama tim Perpustakaan Nasional, akhirnya naskah ini mendapat dukungan dari beberapa negara co-nominator dan berhasil mendapat pengakuan sebagai ingatan dunia. Dari sejumlah penghargaan MoW di atas, tinggal arsip Non-Blok I yang masih diperjuangkan agar diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Sejarah non-blok yang panjang dalam politik luar negeri Indonesia, peran para penggagas dan peran Presiden Soekarno, diulas secara mendalam oleh Dr. Ganewati Wuryandari, peneliti senior Pusat Penelitian Politik sekaligus sebagai Kepala Pusat Studi Sumberdaya Regional (PSDR).

 

Acara Memory of the World Indonesia akhirnya ditutup dengan agenda bersama untuk mengajukan arsip Gerakan Non-Blok I dan arsip-arsip Soekarno agar memperoleh penghargaan sebagai Memory of the World berikutnya. (Faudzan Farhana dan Moch.Nurhasim)