Tahun 2019

Diskusi Lethal Autonomous Weapons: Should Killer Robot Be Banned?

Kategori: Tahun 2019
Dilihat: 60

Pada 20 Agustus 2019, Pusat Penelitian Politik LIPI mengadakan diskusi dengan judul Lethal Autonomous Weapons: Should Killer Robot Be Banned?, sebuah tema yang sedang menjadi diskursus di bidang teknologi persenjataan dunia. Bertempat di Ruang Rapat Utama P2P LIPI Lantai 11, diskusi ini menghadirkan Dr. M. Riefqi Muna, M. DefStud. (Peneliti Senior P2P-LIPI) sebagai penyaji dan moderator Putri Ariza Kristimanta, M.Si (Han), peneliti P2P-LIPI.

Mengawali paparannya, Riefqi menekankan dukungannya terhadap pelarangan Lethal Autonomous Weapons System (LAWS) dalam peperangan. LAWS adalah sistem persenjataan di mana robot otomatis memiliki serangkaian algoritma untuk mencari dan menyerang target yang telah diprogram sebelumnya. Berbeda dengan drone yang masih memerlukan intervensi manusia dalam pengoperasian dan pengendaliannya, LAWS hanya membutuhkan algoritma. Senjata ini mampu beroperasi di udara, darat, laut, bahkan luar angkasa. Karena sifatnya yang mematikan dan otomatis ini, LAWS menimbulkan kontroversi dan menjadi bahan perbincangan dalam forum-forum internasional.

Sistem persenjataan ini menjadi kontroversial karena ada yang mendukung dan ada yang menentang keras. Militer adalah salah satu pihak pendukung LAWS karena beberapa faktor. Pertama, LAWS membuka kesempatan dan peluang baru dalam efektifitas peperangan di mana dengan sistem ini korban jiwa akan jauh berkurang. Kedua, jika dibandingkan dengan drone, LAWS bisa melakukan operasi dalam waktu yang bersamaan. Terkait poin ini Riefqi menyebutnya sebagai swarm, yaitu seperti sekawanan lebah yang terbang dan menyerang target, berbeda dengan drone yang memerlukan satu awak pengendali. Ketiga, jika dibandingkan dengan drone, kerentanan signal-jamming pada LAWS akan jauh berkurang. Terakhir, robot mampu lebih etis karena tidak memiliki emosi sehingga hanya mengikuti algoritma yang sudah diprogram.

Namun demikian, ungkap Riefqi, legal belum tentu benar. Pihak-pihak yang menentang perkembangan LAWS ini menganggap bahwa LAWS memiliki efek destruktif yang lebih hebat karena hanya dengan algoritma, teknologi bisa membunuh atau merusak secara massif dan bersamaan. Selain itu, LAWS dapat dikembangkan dan dimiliki dengan mudah, murah, dengan ukuran lebih kecil, sehingga nantinya akan bisa diakses semua orang, serta menimbulkan dilema besar baik secara legal, moral, teknis, dan strategis dalam peperangan.

Menutup diskusi, Riefqi mengingatkan bahwa teknologi LAWS sedang dikembangkan, bahkan prototipnya sudah ada. Perwujudan senjata ini hanya masalah waktu. Itu sebabnya, forum internasional telah menyerukan untuk menentang keras teknologi ini masuk ke persenjataan perang (weaponry). Sayangnya, Indonesia sebagai middle-power, tidak jelas pandangannya terhadap isu ini. Menurut Riefqi Muna, Indonesia perlu mengambil posisi dan memimpin dalam diskursus problematikanya.

Pemaparan dilanjutkan dengan diskusi hangat yang melibatkan para peserta dan tamu. Diskusi mengenai strategi diplomasi, pengembangan LAWS, dan platform efektif dalam mengkampanyekan pelarangan LAWS menjadi topik utama diskusi. (Putri Ariza Kristimanta)