Dalam Islam, Perempuan Setara dengan Laki-Laki

Kategori: Gender and Politics
Ditulis oleh Esty Ekawati dan Fathimah Fildzah Izzati

Pada tanggal 5 Maret 2015, Jurnal Perempuan menyelenggarakan sebuah seminar dengan tema yang sangat penting merujuk pada kondisi perempuan Indonesia saat ini. Seminar bertajuk “Agama, Tradisi, Hak dan Status Perempuan di Indonesia” itu menghadirkan empat orang pembicara yang berasal dari latar belakang berbeda. Seminar dibuka dengan pemaparan Prof. Ahmad Fakery Ibrahim dari McGill Institute of Islamic Studies, Montreal Canada mengenai hak waris dan hak asuh anak perempuan dalam agama Islam serta praktiknya di Mesir.

Dalam sesi ini, Prof. Ibrahim banyak mengungkapkan sejarah perubahan dalam hukum Islam yang pada intinya semakin ditujukan untuk mengangkat posisi perempuan. Kemudian, seminar dilanjutkan dengan pemaparan dari Alissa Wahid, M.Sc dari Nahdlatul Ulama (NU) yang mengungkapkan kondisi perempuan di Indonesia yang hidup dalam faith based society.

Menurut Alissa Wahid, persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan Indonesia seperti pernikahan anak, kerap mendapatkan justifikasi dari agama sehingga melanggar apa yang disebut dengan kesetaraan gender. Dalam pengalaman NU, menurut Alissa, masih banyak praktik kehidupan yang tidak adil gender. Namun, NU sudah mulai melakukan perubahan tradisi seperti posisi laki-laki dan perempuan yang sejajar baik pada saat sholat maupun dalam forum-forum pertemuan.

Selain itu, tradisi domestikasi perempuan sudah tidak terjadi lagi di NU. Namun, untuk mengubah tradisi secara menyeluruh, tantangan yang harus dihadapi ialah memperkuat basis teologis dan menggali tradisi aktual yang mendukung penguatan perempuan serta membangun gerakan yang lebih strategis dan komprehensif untuk memenangkan kontestasi. Kontestasi ideologi dan penggunaaan agama sebagai alasan kesetaraan gender ini justru menjadi persoalan dalam memperjuangkan kesetaraan gender.

Pada sesi kedua, Prof. Musdah Mulia dari International Conference on Religion and Peace (ICRP), membicarakan kesetaraan dan keadilan gender dalam agama Islam. Dalam sejarahnya, agama dan perempuan memang tidak pernah bersahabat, meskipun perempuan adalah orang yang paling menjaga kesucian agama. Dalam konteks agama Islam, memahami agama Islam secara benar, menurut Prof. Musdah adalah kunci dalam membaca posisi perempuan dan laki-laki dalam Islam yang sebenarnya setara.

Berdasarkan pengamatan lapangannya di berbagai masjid, organisasi keagamaan, dan kegiatan keagamaan lainnya, ia melihat bahwa hampir 80 persen ajaran Islam yang berikan kepada khalayak, termasuk mengenai posisi perempuan dalam Islam, tidak sesuai dengan nilai-nilai ke-Islaman yang sejati, dimana Islam ada untuk menegakkan keadilan.

Menurut Prof. Musdah, terdapat dua (3) posisi berbeda antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan dalam masyarakat dalam hubungannya dengan agama Islam. Pertama, dalam pernikahan, perempuan diposisikan sebagai pihak yang tidak menjalankan ijab qabul padahal ia merupakan subjek yang menjalankan pernikahan. Hanya laki-laki yang menjalankan ijab qabul. Kedua, posisi perempuan dalam rumah tangga dimana ketaatan istri terhadap suami dikonstruksikan sebagai hal yang wajib dipenuhi. Padahal, sejatinya ketaatan manusia semestinya hanya ditujukan kepada Allah SWT.

Bahkan, untuk membenarkan konstruksi tersebut, ada sebuah hadits yang selalu digunakan dan menjadi senjata bagi pembenaran atas perilaku istri yang harus taat terhadap suami, yakni: “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR Bukhari Muslim). Hadits ini yang kemudian dijadikan senjata oleh para ulama dalam memposisikan perempuan sebagai subordinat laki-laki. Ketiga, sebagai anggota masyarakat, perempuan diposisikan sebagai pihak yang tidak diuntungkan karena berbagai regulasi dibuat untuk mengekang perempuan.

Prof. Musdah dalam pemaparannya menegaskan bahwa Islam memberikan tuntunan yang tegas kepada semua manusia. Manusia (baik laki-laki maupun perempuan) sejatinya diciptakan untuk mengemban misi sebagai Khalifah fil Ardh (pemimpin di bumi), paling tidak pemimpin bagi dirinya sendiri.

Tujuan utama penciptaan manusia adalah amar makruf nahi munkar, yaitu melakukan upaya transformasi dan humanisasi demi kesejahteraan bersama. Menjadi khalifah untuk diri sendiri, menurut Prof. Musdah, didahului dengan menata hati, pikiran, dan syahwat. Pada akhir diskusi, Prof. Musdah menegaskan kembali pentingnya menggapai ridha Allah SWT dengan cara memanusiakan manusia dan memandang manusia dengan setara.

Seminar yang dimoderatori oleh Dr. Phill. Dewi Candraningrum dari Jurnal Perempuan ini kemudian ditutup dengan pemaparan terakhir dari Dr. Phil. Syafiq Hasyim dari International Center for Islam and Pluralism (ICIP). Dr. Phill. Syafiq menyatakan bahwa agama dan tradisi adalah dua hal yang saling bersisian. Di satu sisi, agama memproduksi tradisi, di sisi lain, agama tidak lain merupakan produk dari tradisi itu sendiri. Artinya, agama dan tradisi saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam kaitan dengan hal tersebut, apa yang penting untuk dijadikan perhatian adalah bagaimana memperlakukan perempuan dan laki-laki secara equal dan berpegang dalam prinsip justice.

Menurut Dr. Phill. Syafiq, banyak ajaran dalam Islam yang tercantum secara eksklusif dalam Al-Qur’an dan Hadits, yang meletakkan posisi perempuan pada posisi yang tidak menguntungkan. Misalnya di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 34, lalu ayat mengenai poligami, dan sebagainya, secara literal memposisikan perempuan dalam posisi yang tidak diuntungkan. Begitupun di dalam Hadits. Salah satu Hadits terkenal yang sering dikemukakan dalam masyarakat misalnya mengenai Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam.

Padahal, menurut seorang pembaharu Islam abad 19, Muhammad Abduh, dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa asal usul manusia ialah laki-laki. Menurutnya, the rib story tidak dinyatakan di dalam Al Qur an. Sayangnya, konstruksi yang berkembang mengenai perempuan diciptakan dari tulang rusuk adam itu dibaca sebagai hal yang mutlak hingga saat ini. Konsekuensinya, perempuan dilanggengkan posisinya sebagai subordinat laki-laki hingga saat ini. (Esty Ekawati)