Papua

Mengenang dan Mengantar Kepergian Muridan Widjojo

Kategori: Papua
Ditulis oleh Riwanto Tirtosudarmo Dilihat: 2428

Berita menyakitkan itu datang juga, “Belasungkawa atas wafatnya Dr. Muridan S. Widjojo (Sekitar jam 2 tadi siang”, begitu saya baca dari posting Bung Mochtar Pabottinggi di Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.. Saat itu sekitar jam 5 sore, saya baru selesai mengajar di kelas pasca antropologi UGM, Yogyakarta. Kemarin saya masih berkiriman SMS dengan Irine yang mendampingi Riella dan anak-anaknya di RS Mitra Depok. SMS terakhir Irine mengatakan keadaan Mas Muridan sudah stabil, saya agak lega. Ketika berita menyakitkan itu datang ada rasa kosong yang menerpa, tak mampu rasanya menanggung kehilangan ini. Kita semua tahu Muridan memang sekitar 2-3 tahun terakhir ini sakit, dan sedang berjuang untuk menyembuhkan sakit  itu. Setiap kali bertemu Muridan, tiga kali terakhir selalu dalam acara seminar tentang Papua, tidak nampak tanda-tanda bahwa dia akan dikalahkan oleh sakitnya itu. Meskipun badannya sedikit kurus, bicaranya bergetar, samasekali tidak nampak kejernihan pikirannya berkurang. Gaya bicaranya tetap lugas, tajam dengan pilihan kata-kata yang sangat terkendali karena sensitifnya isu yang dibicarakan – konflik akut di Papua.

Saya belum pernah bertanya pada Muridan kenapa Papua begitu penting artinya bagi dirinya sehingga habis-habisan dia mengorbankan dirinya untuk Papua. Dalam menghadapi sakit yang dideritanya saya diam-diam berharap bahwa dia akan sembuh karena kecintaan dan dedikasinya yang begitu dalam pada Papua. Papua, saya saat itu merasa, yang akan menjadi sumber daya kehidupan bagi Muridan. Ketidakmenyerahan Muridan pada persoalan-persoalan akut yang dihadapi orang-orang Papua yang sangat dicintainya sekaliguas akan menjadi energi perlawanan terhadap sakit yang dideritanya. Mengenang kepergian Muridan berarti mengenang Papua yang masih jauh dari selesai persoalan-persoalan yang masih melilitnya. Penindasan, ketidakadilan, kemiskinan dan negara yang justru menjadi musuh dari warganegaranya sendiri.

Aneh, kalau saya ingat saya pertama kali bertemu dengan Muridan juga di Papua, tepatnya di bandara Wamena, di Lembah Baliem awal tahun 1990an. Muridan menjemput kami (saya, Bu Julfita Rahardjo, Gavin Jones dan Adrian Hayes) dengan mengendarai mobil Kijang warna biru yang disopirinya sendiri. Dia kurus dan katanya baru sembuh dari malaria yang menyerangnya. Kami makan siang bersama di sebuah restoran yang menu utamanya semacam udang atau lobster kecil, katanya diambil dari sebuah sungai disana. Waktu itu kami datang dalam kaitan dengan sebuah proyek penelitian kependudukan dan pembangunan Indonesia Timur, kerjasama LIPI dan ANU yang didanai oleh AusAID. Muridan sudah beberapa bulan di Wamena dalam status magang di LIPI dan dtempatkan di Wamena – “detasering” istilahnya waktu itu. Setahu saya, selain Muridan, dalam status yang sama adalah rekannya Herry Yogaswara – keduanya membantu Dr. Edi Masinambouw, Deputi IPSK kala itu. Beberapa tahun kemudian saya tahu Muridan diterima sebagai calon peneliti di Pusat Penelitian Politik dan Herry di Pusat Penelitian Penduduk – LIPI.

Ketika rame-rame demonstrasi melawan Suharto pada tahun 1997-1998 Muridan terlibat aktif didalamnya. Sebuah buku berjudul “Penakluk Rezim Orde Baru” yang nerupakan kumpulan tulisan beberapa peneliti LIPI diedit dan diterbitkannya. Dia juga merupakan salah seorang yang aktif ketika sejumlah peneliti muda Pusat Penelitian Politik – LIPI membuat sebuah petisi meminta Suharto mundur sebagai presiden. Sebuah keberanian yang tidak main-main bagi peneliti yang berstatus PNS. Setahu saya beberapa peneliti yang tergolong senior di Pusat Penelitian Politik – dengan alasannya masing-masing - menolak ikut menandatangani petisi itu. Kita tahu memang bagaimana resikonya jika Suharto tidak mundur – mungkin Muridan, Syamsuddin Haris, Ikrar Nusa Bhakti, Hermawan Sulistyo, Riza Sihbudi, Riefki Muna dan kawan-kawannya, para penandatangan petisi itu akan dipecat sebagai pegawai LIPI.

Tidak lama setelah Suharto jatuh, Muridan ke Belanda, melanjutkan studi di jurusan sejarah Leiden University. Sebelumnya dia termasuk yang akan dikirim ke Munster University di Jerman, sebagai bagian dari kerjasama PMB-LIPI dan Munster University. Saat itu saya sebagai Kapus PMB-LIPI ingat betul bagaimana dia mengembalikan aplikasi ke Munster dan menerangkan kenapa memilih Leiden meskipun dia tahu harus mempelajari arsip-arsip dalam bahasa Belanda. Di Belanda rupanya dia memilih untuk menulis sejarah Pangeran Nuku dari Tidore – yang belakangan saya tahu memiliki keterkaitan dengan sejarah Papua. Selain menulis sejarah Kesultanan Tidore sebagai tesis doktoralnya, Muridan sangat aktif menggalang diskusi-diskusi dan bersama Pak Mintardjo – “bapak angkatnya di Oesgeest” – mendirikan Yayasan Sapu Lidi yang didedikasikan untuk Indonesia. Sepulang dari Belanda, meskipun bidang keahliannya adalah sejarah, Muridan kembali ke habitatnya – sebagai peneliti dan aktivis yang melibatkan dirinya untuk mencari jalan keluar bagi masalah-masalah Papua yag sangat pelik.

Di LIPI adalah Muridan yang dengan konsisten dan sungguh-sungguh mengarahkan penelitiannya tentang Papua. Sebelum sakit berbagai penelitian tentang Papua dikoordinirnya. Salah satu “master piece” yang dihasilkan dari kerjakeras tim peneliti yang dipimpinnya adalah sebuah buku yang berjudul “Papua Road Map” yang menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingi memahami konflik dan jalan keluar yang ditawarkannya. Salah satu kelebihan Muridan dari peneliti-peneliti lain adalah keberanian dan keteguhannya untuk mengadvokasikan apa yang dia yakini sebagai jalan keluar bagi Papua. Muridan tidak berhenti pada laporan penelitian, tetapi melakukan pendekatan, lobby, persuasi ke berbagai pihak, militer maupun sipil, di Jakarta maupun di Papua untuk membuka ruang-ruang dialog yang memungkinkan sebuah solusi damai bagi Papua. Sebagai orang non-Papua Muridan tahu betul bahwa yang harus dilakukan – diatas apapun - adalah memberikan hargadiri bagi Orang Papua. Dalam konteks ini, Jaringan Papua Damai, yang dipimpinnya bersama Pater Neles Tebay dari Jayapura, menjadi lembaga yang mungkin paling aktif dalam mendorong kemungkinan terjadinya dialog antara Jakarta dan Papua. Sakit yang mulai dideritanya seperti tidak berdaya mencegah Muridan tetap beraktivitas untuk merealisasikan apa yang ditulis bersama timnya dalam “Papua Road Map”.

Saya mengetahui kalau dia mulai sakit ketika saya meminta Muridan dan Siwage Dharma Negara dari P2E menjadi pembahas sebuah buku yang merupakan hasil kajian dari Rajawali Foundation dan Harvard University tentang Indonesia. Saat itu dia mengatakan kepada saya,” jangan kaget kalau nanti mendengar suara saya berubah”. Acara diskusi buku yang menghadirkan Pak Thee Kian Wie sebagai keynote speaker, dan dua pembahas, Muridan dan Wage, serta Widjajanti Santoso dari PMB sebagai moderator, ternyata berjalan lancer. Terus terang saya tidak melihat ada perubahan yang berarti pada Muridan. Begitu juga  ketika saya hadir dalam sebuah acara, dimana Muridan harus mewakili Kapusnya untuk memberi sambutan, tidak terlihat tanda-tanda kalau dia sakit. Bahkan saya ingat betul bagaimana dia membuat pernyataan yang bagi saya cemerlang, ketika mengatakan: “Sebagai peneliti meskipun miskin kita tidak boleh kehilangan integritas”, Kemudian dia melanjutkan dengan kalimat, yang bagi saya menyentak: “Sudah miskin tidak punya integritas lagi…apa yang bisa diharapkan?’.

Saya mulai melihat perubahan – sebagai akibat dari sakit yang dideritanya – dalam tiga pertemuan tentang Papua yang kebetulan saya ikuti: suaranya bergetar meskipun tidak kehilangan kejernihan argumentasinya. Pertama dalam seri dialog Papua yang diadakan di Senggigi di Lombok, sekitar pertengahan 2013, kedua, pada Annual Review P2P tentang Papua di LIPI sekitar awal Desember 2013, dan yang ketiga  dalam seri dialog Papua di Yogyakarta, pertengahan Januari 2014 yang baru lalu. Di acara seri dialog Papua di Yogyakarta itulah rupanya saat terakhir saya bertemu dan berdiskusi dengan Muridan.

Serial dialog Papua yang hampir setengahnya selalu dihadiri oleh berbagai elemen yang mewakili masyarakat Papua itu adalah upaya kongkrit Muridan mengadvokasi perbaikan situasi yang tampaknya justru semakin memburuk di Papua. Saya tidak tahu, sepeninggal Muridan, siapakah yang mampu meneruskan membawa obor perjuangan itu. Muridan sangat menyadari betapa sulitnya jalan yang harus ditempuh, dia juga tahu tidak ada jalan pintas untuk mengatasi persoalan yang melilit Papua. Jika sekarang dia tidak lagi bersama kita, tapi obor yang telah dinyalakannya itu pastilah masih bersinar – terang benderang – menunggu kita meneruskan membawanya untuk menerangi lorong gelap menuju Papua yang damai – yang diimpi-impikan oleh Muridan Widjojo semasa hidupnya, bersama Riella istrinya yang selalu setia mendampinginya beserta Galih dan  Naiya – putra dan putri kesayangannya.

 

Bulak Sumur C 11, Yogyakarta, 7 Maret 2014