Politik Internasional

Bergabungnya Pakistan dan India ke Dalam Shanghai Cooperation Organization (SCO)

Kategori: World Politics
Ditulis oleh Lidya Christin Sinaga Dilihat: 617

India dan Pakistan akhirnya secara resmi menjadi anggota Shanghai Cooperation Organization (SCO) pada pertemuan SCO di awal Juni 2017 ini. Setelah lama tak terdengar kiprahnya, terakhir tahun 2005 ketika para pemimpin SCO menyerukan penentuan batas waktu penarikan pangkalan militer AMERIKA SERIKAT dari Uzbekistan dan Kirgistan yang dibangun tahun 2001 untuk menggulingkan kepemimpinan di Afganistan, perluasan keanggotaan ini menjadi perkembangan menarik untuk dicermati dalam kerangka kepentingan global China yang semakin meningkat.

Cikal bakal SCO berasal dari kelompok Shanghai Five yang terdiri dari China, Rusia, Kazakstan, Kirgiztan dan Tajikistan yang bertemu secara resmi pada bulan April 1996 di Shanghai dan dilanjutkan pada tahun 1997 di Moskow. Namun demikian, China telah memulai negosiasi awal sejak tahun 1992 terkait perjanjian politik, militer dan ekonomi dengan Rusia dan negara-negara Asia Tengah. Sasaran dari perjanjian ini adalah untuk mengurangi ketegangan atau menyelesaikan masalah perbatasan antara China dan negara-negara tetangganya, terutama negara-negara bekas Uni Soviet, membicarakan masalah keamanan lainnya, dan membantu perkembangan pembangunan ekonomi di kedua pihak pada batas bersama.

Keamanan perbatasan merupakan faktor paling menonjol yang mendasari peran dan kepentingan China dalam pembentukan Shanghai Five tahun 1996. Hal ini sangat terkait dengan faktor geografi yang memang merupakan faktor penting dalam implementasi kebijakan luar negeri China terhadap negara-negara Asia Tengah, terutama Kazakhstan, Kirgistan dan Tajikistan. Ketiga negara ini secara potensial dianggap dapat mempengaruhi keamanan dalam negeri China secara langsung dibandingkan Rusia. Potensi ini berasal dari kesamaan demografis antara Asia Tengah dan Xinjiang Uighur Autonomous Region (XUAR). Wilayah otonomi Xinjiang ini didominasi oleh etnis minoritas, yaitu Uighur yang secara tipikal mempunyai kesamaan etnis dan budaya dengan populasi Turki Islam di Asia Tengah daripada etnis Han di China. Besarnya konsentrasi etnis minoritas ini menyebabkan pemimpin China melihat Xinjiang rentan terhadap pihak luar, terutama pengaruh anti China.

Pada pertemuan keempat di Bishkek, Kirgiztan, Agustus 1999, kelima negara berjanji untuk membentuk usaha bersama dalam menghadapi separatisme etnis, ekstremisme agama dan terorisme internasional yang diklasifikasikan sebagai “the three evils”. Deklarasi yang sama juga dikeluarkan dalam pertemuan kelima di Dushanbe, Tadjikistan, Juli 2000. Pada pertemuan ini Presiden Uzbekistan diundang sebagai negara pengamat yang kemudian merasa tertarik dan menyatakan keinginannya untuk bergabung. Pertemuan keenam di Shanghai, Juni 2001, akhirnya mengakui Uzbekistan sebagai negara anggota. Sejak saat itu pula nama Shanghai Five secara resmi menjadi Shanghai Cooperation Organization (SCO), 15 Juni 2001.

Tujuan dan prinsip SCO dituangkan dalam Shanghai Cooperation Organization Charter yang ditandatangani para kepala negara anggota di St. Petersburg, Rusia, tahun 2002 dan berlaku satu tahun setelahnya. Dalam piagam ini disebutkan bahwa SCO ditujukan untuk memperkuat rasa saling percaya dan meningkatkan kerja sama di segala bidang, terutama kerja sama keamanan untuk perdamaian dan stabilitas regional serta membangun kekuatan baru dalam bidang ekonomi dan politik dengan prinsip saling menghormati kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri.

China dan Rusia merupakan motor penggerak sekaligus yang paling berpengaruh dalam SCO. Perubahan tatanan politik internasional pasca tragedi 11 September 2001 turut mempengaruhi tatanan SCO. Amerika Serikat yang semakin gencar ingin mendirikan pangkalan militer di Asia Tengah yang strategis membuat China dan Rusia menjadi gerah. Kedua negara tersebut pun menggunakan SCO sebagai kendaraan untuk menangkal pengaruh Amerika yang semakin menyeruak masuk sekaligus ingin mengimbangi dominasi AMERIKA SERIKAT. Ini tak dapat dipungkiri. Buktinya, pada pertemuan di Astana, Kazakstan tahun 2005, para pemimpin SCO menyerukan penentuan batas waktu penarikan pangkalan militer barat dari Uzbekistan dan Kirgistan yang dibangun tahun 2001 oleh pasukan koalisi pimpinan AMERIKA SERIKAT untuk menggulingkan kepemimpinan di Afganistan. Indikasi ini semakin menguat ketika China dan Rusia menggelar latihan militer bersama untuk pertama kalinya pada tanggal 18-25 Agustus 2005. Belum lagi kehadiran Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad sebagai pengamat dalam forum SCO tahun 2006 bersama dengan Pakistan, Mongolia dan India dengan status sebagai negara peninjau.

Elemen politik-keamanan memang sangat kental pada SCO ini. Namun demikian, seiring meningkatnya kepentingan ekonomi global China, China dan Rusia menunjukkan ketidaksepahamannya pada arah SCO. China lebih menginginkan agar SCO diperkuat ke arah kerja sama ekonomi dan integrasi regional (Lo 2008 dalam Dharmaputra 2008). Sementara Rusia, sejak awal memiliki motif politis yang lebih kuat agar tidak kehilangan pengaruh atas negara-negara bekas anggota federasinya dalam Uni Soviet dan menjadi penyeimbang Amerika. Tak mengherankan, China cenderung menolak SCO peace mission 2007, meskipun pada akhirnya tetap bergabung mengirimkan pasukannya dalam latihan bersama di Rusia tersebut. Sementara Rusia sangat mendukung ketika Iran dan India ingin bergabung dengan SCO, China justru sangat menolaknya (Dharmaputra 2008). Sejak menjadi negara peninjau tahun 2006, baru pada tahun 2017 ini India dan Pakistan mendapat status penuh sebagai anggota SCO.

Perubahan sikap China ini tidak dapat dilepaskan dari keinginan China yang menginginkan agar organisasi ini lebih terfokus pada inisiatif-inisiatif ekonomi. Bagi China, peningkatan ekonomi di wilayah perbatasan dengan Xinjiang, tentu akan mengurangi ketegangan etnis di wilayah ini (Tiezzi, 2015). Selain itu, perubahan sikap China ini tidak dapat dilepaskan dari kepentingan global China di bawah Presiden Xi Jinping. Xi mempunyai politik luar negeri ambisius yang dikenal dengan Belt and Road Initiative. Asia Tengah merupakan bagian penting dari inisiatif ini. Sebagaimana diketahui, China mengumumkan Silk Road Economic Belt di Astana-Kazakhstan pada September 2013. Belt and Road Initiative bertujuan untuk membangun konektivitas dan interaksi ekonomi antara Asia, Eropa, dan Afrika, baik melalui jalur darat dan laut. Untuk mencapai ini, China menyadari bahwa ia membutuhkan lingkungan regional yang stabil untuk mewujudkan ambisinya ini. Sebagaimana diketahui, China-Pakistan Economic Corridor akan melewati Pakistan Occupied Kashmir (PoK) yang merupakan sumber konflik berkepanjangan antara India dan Pakistan (India Today, 2017). Ketegangan antara India dan Pakistan sudah pasti akan berpengaruh terhadap kemajuan proyek global China di wilayah ini. Mendudukkan keduanya dalam satu wadah dimana para anggotanya wajib mematuhi prinsip-prinsip “mutual respect of sovereignty, independence, territorial integrity of States and inviolability of State borders, non-aggression, non-interference in internal affairs, non-use of force or threat of its use in international relations, seeking no unilateral military superiority in adjacent areas”, tentu memudahkan China mengurangi potensi-potensi instabilitas di kawasan ini. China yang saat ini memegang tampuk kepemimpinan SCO tentu berkepentingan menjadikan agenda perluasan keanggotaan SCO sebagai pencapaian penting pertemuan SCO tahun ini.

Selain itu, sikap China yang akomodatif terhadap India tidak dapat dilepaskan dari fakta bahwa India merupakan salah satu pemegang saham terbesar di Asian Infrastructure and Investment Bank (AIIB) bersama China dan Rusia. Sebagaimana diketahui AIIB ini adalah bank yang diinisiasi China dengan tujuan untuk mendukung pembangunan proyek infrastruktur dan investasi di sepanjang jalur Belt and Road yang digagas China. Dibentuk bulan Oktober 2013, saham AIIB dibagi di antara anggotanya berdasarkan ukuran ekonomi. China, India, dan Rusia memegang saham terbesar yaitu 26,06%, 7,5%, dan 5,92% secara berurutan pada tahun 2015 (The BRICS Post 2015).

Kehadiran India bersama Pakistan di SCO, bagaimanapun juga, pada akhirnya akan mengimbangi dominansi China di SCO. Hal ini lah yang membuat Rusia sangat aktif mendorong masuknya India ke organisasi regional yang kini mempunyai cakupan populasi terbesar di dunia. (Lidya Christin Sinaga)