Politik Internasional

Hubungan Ekonomi ASEAN-Jepang Pasca Tsunami

Kategori: World Politics
Ditulis oleh Yasmin Sungkar Dilihat: 4529

Di tahun 1990-an, Jepang mengalami resesi panjang dan diperburuk dengan kebijakan pemerintah yang tidak memadai, khususnya di sektor keuangan dan perbankan. Ketika ekonomi Jepang baru mulai tumbuh kembali, pada tahun 2008 sekali lagi Jepang dilanda krisis, yang sesungguhnya dialami hampir semua negara di dunia. Meskipun sektor keuangan sudah menguat, tetapi ketergantungan pada ekspor masih tinggi, seperti yang terjadi di China dan Korea Selatan. Hal ini menjadi masalah besar ketika permintaan melemah, khususnya dari Amerika Serikat, sementara konsumsi domestik Jepang tidak meningkat. Ditambah lagi Jepang harus menghadapi hambatan ekonomi seperti persoalan demografi di mana persentase populasi usia lanjut sangat besar, tingkat produktifitas yang tidak memadai, tingkat investasi asing yang rendah, dan kemiskinan yang bertambah. Melihat gambaran situasi di atas, bagaimana dengan masa depan hubungan ekonomi Jepang dengan kawasan ASEAN setelah bencana gempa dan tsunami yang baru lalu?

Pembangunan ekonomi Jepang pada periode pasca perang, paling tidak sampai belakangan ini, dapat dianggap sebagai suatu keajaiban secara berkelanjutan. Kebangkitan Jepang dari kehancuran dan kekalahan dalam Perang Dunia Kedua menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia adalah suatu kenyataan yang tidak ada bandingannya dan suatu pencapaian yang mengagumkan. Meskipun akhir-akhir ini Jepang menghadapi berbagai kesulitan, pengalaman terdahulu tetap menjadi contoh penting atas suksesnya bentuk pembangunan ekonomi yang dipimpin negara (state-led economic development). Pola pembangunan demikian sebenarnya bertentangan dengan pemikiran ekonomi Barat, tetapi justru menjadi contoh model bagi beberapa negara di kawasan Asia Timur. Namun demikian, pada saat Jepang baru mulai pulih dari resesi dan stagnasi ekonomi bertahun-tahun, posisinya sebagai kekuatan ekonomi kedua di dunia digeser oleh China baru-baru ini.

Inti dari kebijakan perdagangan dan industri Jepang adalah keinginan kuat untuk mengatasi rasa tidak aman. Sebagai negara yang tidak memiliki banyak sumber-sumber utama yang diperlukan untuk kesuksesan proses industrialisasinya, Jepang terpaksa bergantung pada pasokan dari luar untuk memenuhi elemen input ekonominya. Masa ‘oil shocks’ pada tahun 1970an, di mana harga minyak melejit yang mana minyak salah satu sumber energi yang krusial, menjadikan para perencana kebijakan di Jepang menyadari bagaimana rentannya suatu negara atas pengaruh perubahan kondisi yang tidak berada di bawah kontrolnya. Hal ini mendorong Jepang membangun sejumlah pusat tenaga nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Sebagai pengguna tenaga nuklir ketiga terbesar di dunia, Jepang memenuhi 35 persen kebutuhan listriknya dari tenaga nuklir.

Keterlibatan Jepang yang paling nyata di kawasan Asia Tenggara adalah melalui aspek perdagangan dan investasi. ASEAN dan Jepang selama bertahun-tahun merupakan mitra dagang yang penting dan terus memperdalam dan memperluas hubungan dagang mereka. Hal ini tercermin dari angka perdagangan yang meningkat terus walaupun krisis ekonomi global tahun 2008 menyebabkan angka perdagangan tahun berikutnya turun sebesar 25 persen. Sebagai pasar penting bagi produk ASEAN, ekspor ASEAN ke Jepang juga meningkat. Dengan demikian Jepang merupakan mitra dagang terbesar bagi ASEAN dengan mengambil 10,5 persen dari perdagangan total ASEAN di tahun 2009. Tren nilai perdagangan ASEAN-Jepang yang meningkat terus memperlihatkan pentingnya Jepang sebagai pasar bagi produk ASEAN yang sekaligus melihat ASEAN sebagai satu kesatuan.

Bila diperhatikan lebih jauh, nilai perdagangan bilateral Jepang dengan negara anggota ASEAN sangat bervariasi. Pada tahun 2007 dan 2008, di antara sepuluh negara ASEAN, Thailand menduduki urutan pertama dan Indonesia urutan kedua, kemudian diikuti Malaysia. Apabila kita perhatikan nilai ekspor dan impornya, ternyata Jepang mengalami surplus perdagangan terhadap Thailand dan mengalami defisit perdagangan dengan Indonesia dan Malaysia. Secara keseluruhan, Jepang mengalami defisit perdagangan dengan lima negara ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, dan Myanmar. Dalam hal ini Indonesia mengalami surplus perdagangan yang jauh sangat besar dibanding empat negara lainnya.

Namun meningkatnya angka perdagangan ini tidak dibarengi dengan naiknya arus investasi langsung dari Jepang. Bahkan selama periode 2006 sampai 2008, investasi dari Jepang mengalami penurunan. Sebaliknya, krisis ekonomi global tahun 2008 tidak mengganggu arus investasi, bahkan tumbuh sebesar 14 persen di tahun 2009. Sebenarnya Jepang yang mengambil 13,4 persen dari investasi total yang masuk di tahun 2009 menduduki investor kedua terbesar di kawasan ASEAN setelah Uni Eropa yang mengambil porsi 18,4 persen. Untuk sektor manufaktur, Thailand berhasil menarik investasi Jepang jauh di atas negara ASEAN lainnya, khususnya di bidang peralatan transportasi. Urutan kedua dan ketiga diduduki masing-masing oleh Vietnam dan Filipina. Sedangkan untuk sektor nonmanufaktur, Singapura menduduki urutan pertama dalam hal investasi dari Jepang, kemudian diikuti oleh Indonesia dan Vietnam. Investasi Jepang di sektor nonmanufaktur di ketiga negara ASEAN ini sangat menonjol di bidang keuangan dan asuransi.

Bencana gempa dan tsunami di Jepang baru-baru ini sangat memprihatinkan dan sudah pasti menimbulkan dampak luas baik di dalam maupun di luar negeri. Perdana Menteri Jepang mengakui bahwa ini bencana terbesar setelah Perang Dunia Kedua. Dampak ekonomi langsung yang akan dirasakan negara-negara yang mengekspor energi dan bahan baku adalah meningkatnya permintaan dari Jepang. Sebaliknya, negara-negara yang bergantung pada komponen manufaktur dari Jepang akan mengalami kekurangan pasokan. Dalam jangka pendek misalnya, perusahaan semikonduktor, kendaraan mobil dan baja di Korea Selatan yang menjadi pesaing Jepang akan memperoleh keuntungan karena tutupnya beberapa pabrik di Jepang. Namun perlu diingat bahwa Jepang, sebagai pemasok terbesar komponen elektronika dan otomotif, mengekspor ke banyak negara, termasuk ke Korea Selatan. Kemungkinan juga industri di China akan mengalami gangguan pasokan komponen teknologi tinggi dari Jepang. Saat ini Jepang merupakan sumber impor terbesar bagi China yang mencapai 13 persen dari impor total China.

Bencana alam di Jepang juga akan menimbulkan dampak bagi ekonomi Asia Tenggara walaupun belum bisa dipastikan seberapa besar pengaruhnya. Sebaliknya, bisa jadi investasi di kawasan ASEAN akan meningkat bila perusahaan-perusahaan Jepang mengalihkan lokasinya untuk menghindari wilayah yang rawan bencana alam. Dampak langsung yang sudah dirasakan adalah terganggunya rantai pasokan dari Jepang. Banyak pabrik di Asia Tenggara yang tergantung pasokan komponen dari Jepang untuk merakit produk ekspor, termasuk mobil dan elektronika. Negara-negara ASEAN yang mengandalkan ekspor ke Jepang sudah pasti akan mengalami penurunan di tahun pertama. Seberapa jauh berkurangnya ekspor Indonesia dan Filipina ke Jepang -mencakup 20 persen dan 17 persen dari ekspor total masing-masing- saat ini belum bisa dipastikan. Thailand akan mengalami dampak yang relatif besar dibanding negara ASEAN lainnya karena industri otomotifnya akan terganggu pasokan komponen dari Jepang. Demikian pula halnya dengan Malaysia yang akan mengalami gangguan di sektor otomotif dan elektronika, karena banyak perusahaan Jepang di Malaysia kesulitan memperoleh komponen. Negara-negara ASEAN lainnya akan merasakan pengaruh yang lebih kecil.

Kekhawatiran utama saat ini adalah kekurangan tenaga listrik dan Jepang membutuhkan energi alternatif sesegera mungkin. Selain Australia yang siap memasok produk energi, Indonesia juga bisa menjadi sumber energi dan bahan baku bagi kebutuhan yang meningkat di Jepang. Bahkan kebutuhan ini akan meningkat terus ketika Jepang membangun kembali wilayah yang hancur dilanda tsunami. Bank Dunia memperkirakan bahwa Jepang membutuhkan biaya sebesar US$235 milyar dan memerlukan waktu lima tahun untuk bangkit dari bencana gempa dan tsunami. Bagi Indonesia, hal ini memungkinkan hanya bila kebutuhan energi domestik sudah terpenuhi lebih dahulu. Negara-negara ASEAN berharap dampak bencana di Jepang ini tidak terlalu buruk dan tidak menggoncang pertumbuhan yang sedang dinikmati Asia Tenggara di mana tahun lalu mencapai 7 persen. Sebelum krisis global di akhir tahun 2008, ekonomi Asia Timur yang berkembang cepat dan makin terintegrasi merupakan salah satu wilayah yang paling dinamis di dunia. Kondisi apapun yang harus dihadapi negara-negara di kawasan, sudah terbukti kemitraan antara ASEAN dan Jepang tidak mengendur. Jepang tidak saja menyediakan pasar bagi produk ekspor negara-negara ASEAN, tetapi juga membangun basis manufaktur dan mentransfer teknologi dan ilmu manajemen yang dibutuhkan. Banyak perusahaan di ASEAN yang berhasil dibangun berdasarkan model Jepang. Dalam jangka panjang, bencana alam di Jepang tidak akan mengendurkan kerjasama EPA (Economic Partnership Agreement) yang merupakan landasan bagi kemitraan yang lebih kuat antara Jepang dan negara-negara ASEAN dalam hal menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan. (Yasmin Sungkar)