Politik Internasional

Upaya Indonesia Mensukseskan KTT ASEAN-18

Kategori: World Politics
Ditulis oleh Ratna Shofi Inayati Dilihat: 3073

KTT ASEAN ke-18 di Jakarta pada tanggal 7-8 Mei 2011 baru saja usai. Sepuluh Kepala Pemerintahan ASEAN telah berkumpul dan berdialog. Sebelum KTT dimulai sejak awal Mei telah diadakan berbagai giatan untuk dibawa ke KTT antara lain, ASEAN–EU Business Meeting, dan pertemuan para menteri ASEAN (AMM, SEOM, AEMM dll). Di samping itu, untuk lebih menonjolkan keterlibatan masyarakat juga diselenggarakan kegiatan-kegiatan a.l., pertama, Konferensi Masyarakat Sipil ASEAN (ASEAN Civil Society Conference/ACSC)-Forum Rakyat ASEAN (ASEAN People Forum/APF) atau lebih dikenal dengan Civil Society Organization (CSO) pada 2-4 Mei 2011. Pelibatan masyarakat sipil adalah elemen penting dari ASEAN. Mereka menginginkan agar Kepala Pemerintahan ASEAN memperhatikan berbagai masalah di masyarakat seperti halnya HAM. Untuk itu, di masa mendatang akan ada mekanisme untuk keterlibatan dan masukan dari kelompok masyarakat sipil yang lebih luas; kedua, Festival pertukaran budaya pemuda ASEAN (ASEAN Youth Cultural Exchange Festival 2011) pada 1 Mei 2011. Festival budaya seni musik pop rock ini menampilkan 10 grup musik pop rock dari Indonesia, Vietnam, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Tema selama masa Keketuaan Indonesia tahun ini adalah ASEAN Community in a Global Community of Nations, sehingga berbagai kegiatan dilakukan dengan sejauh mungkin melibatkan masyarakat. Dengan membawa ASEAN kearah masyarakat khususnya generasi muda, keterlibatan mereka diharapkan dapat mendorong terwujudnyanya komunitas ASEAN pada 2015.

Ketiga, Indonesia juga mengangkat isu perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) pada pertemuan masyarakat ASEAN yang berlangsung pada 2 Mei 2011 di Gedung Smesco UKM, Jakarta. Selama ini empat karakteristik bidang ekonomi dalam rangka menuju masyarakat Ekonomi ASEAN, yaitu pasar tunggal dan basis produksi tunggal, kawasan berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata dan integrasi dengan ekonomi dunia. kurang menyentuh sektor UKM. Itulah sebabnya Indonesia memilih tema pemberdayaan sektor riil. Adapun yang terkait langsung terhadap pengembangan UKM tercantum pada karakeristik ketiga, yakni pembangunan ekonomi secara merata di kawasan Asia Tenggara. 

Dalam pembukaan KTT ASEAN yang disampaikan oleh Presiden Bambang Yudhoyono, Indonesia berniat akan berusaha memperkuat posisi ASEAN sebagai suatu wilayah regional di dalam mencari solusi masalah global melalui sejumlah isu : pertama, bagaimana memastikan agar sepanjang 2011 ini ada kemajuan signifikan dalam upaya pencapaian masyarakat ASEAN 2015 baik di bidang politik-keamanan, ekonomi dan sosial-budaya. Kedua bagaimana bisa memelihara kawasan yang aman dan stabil sehingga negara-negara di kawasan juga bisa terus melanjutkan upaya pembangunannya. Fokus Indonesia adalah memberikan makna baru pada East Asia Summit bulan November mendatang di Bali. Ketiga, sesuai tema ASEAN bagaimana meningkatkan kerjasama masyarakat ASEAN ke dalam masyarakat dunia (ASEAN Community in a global community of nations), keketuaan Indonesia harus menunjukkan jati diri sebagai komunitas people-center yang dekat dengan masyarakatnya. Oleh karena itu, salah satu prioritas 2011 ini adalah berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan berbagai kelompok non-state actors.

Indonesia sebagai Ketua ASEAN perlu memastikan bahwa negara anggota ASEAN memenuhi komitmen yang tercantum dalam setiap pilar cetak biru komunitas ASEAN dengan terus mematuhi norma dan prinsip yang terkandung dalam Piagam ASEAN. Prinsip-prinsip demokrasi dan HAM dalam Chapter I artikel 1 pasal.7 Piagam ASEAN: menyatakan bahwa setiap negara anggota harus mengikuti prinsip demokrasi, rule of law dan good governance serta penghormatan dan perlindungan atas hak asasi manusia.

Melalui Bali Concord II, negara-negara anggota ASEAN sepakat untuk mengembangkan Komunitas ASEAN dengan tiga pilar: ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Security Community (ASC) yang kemudian diubah menjadi ASEAN Political-Security Community (APSC) dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC). Setiap pilarnya memiliki blueprint sendiri membentuk Roadmap untuk menuju Komunitas ASEAN 2009-2015.

Dalam pilar politik-keamanan, Indonesia sebagai pengusul Komunitas Keamanan (ASC) pada tahun 2003 dan kemudian diubah menjadi APSC tahun 2009 telah membawa ASEAN menuju transisi demokrasi dengan menempatkan promosi demokrasi dalam agenda ASEAN. Pada KTT kali ini, bidang politik keamanan antara lain difokuskan pada terorisme dan penyelesaian masalah antar negara ASEAN. Dalam sengketa Thailand Kamboja, Indonesia menjadi mediator kedua negara. Indonesia, dalam hal ini presiden SBY mengadakan pertemuan trilateral antara Thailand dan Kamboja. Diharapkan dengan peran Indonesia dalam sengketa ini kedua negara setidaknya bisa saling menahan diri untuk tidak menggunakan cara kekerasan sesuai dengan cetak biru politik- keamanan.

Dalam pilar ekonomi, ASEAN membentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN yang memiliki empat karakteristik yang sudah dijelaskan di atas. Keempat karakteristik tersebut semuanya harus menerima perhatian yang sama, dan kuncinya adalah jika kita benar-benar ingin menciptakan sebuah komunitas kohesif ASEAN harus diimbangi dengan perhatian serius terhadap pembangunan yang adil. Sebagai Ketua ASEAN Indonesia harus berusaha secara lebih agresif memperkuat posisi ASEAN, terutama memainkan peran negara-negara se-Asia Tenggara sebagai bagian dari solusi masalah global.

Kegiatan yang dilangsungkan selama persiapan sampai berakhirnya KTT perlu dimaknai sebagai upaya Indonesia untuk semaksimal mungkin memanfaatkan masa keketuaannya. Diharapkan dengan usainya KTT ini akan ada tindak lanjut dari negara-negara ASEAN secara riil, jadi bukan hanya perhelatan seremonial saja sebatas pertemuan dan konperensi semata seperti yang selama ini terjadi. Salah satu upayanya adalah dengan melibatkan masyarakat secara maksimal dengan basis “people to people”. (Ratna Shofi Inayati)

Catatan: Artikel senada bisa juga dilihat pada Koran Republika tanggal 9 Mei 2011.