Politik Internasional

ASEAN dan Abad Asia 2050

Kategori: World Politics
Ditulis oleh Sandy Nur Ikfal Raharjo Dilihat: 2642

Di tengah maraknya berita keterpurukan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa, Bank Pembangunan Asia mengeluarkan laporan bahwa tahun 2050 perekonomian dunia akan ditandai sebagai abad Asia.


Sejak krisis finansial melanda dunia pada akhir tahun 2007, perekonomian Amerika Serikat dan negara-negara Eropa cenderung sulit untuk bangkit. Tingkat pengangguran di Amerika masih besar dan rasio utangnya sudah mencapai 98,5% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nya, melampaui batas aman 60%. Sementara di kawasan Eropa negara-negara seperti Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol (PIIGS) kini terjebak dalam krisis utang yang dalam. Di sisi lain, negara-negara di Asia walaupun mengalami dampak negatif krisis hingga pertumbuhan ekonominya negatif, tetapi kini sudah mulai pulih. Bahkan, perekonomian “trio” China, India, dan Indonesia tetap bertumbuh positif selama krisis berlangsung. Jepang, Malaysia, dan Singapura yang sempat terpuruk kini juga telah bangkit. Hal ini melahirkan spekulasi bahwa perekonomian dunia akan bergeser ke Asia (Timur). Menariknya, sebagian besar negara-negara di kawasan ini tergabung dalam kerjasama East Asia Summit yang dimotori oleh ASEAN. Karena itu, ASEAN seharusnya memiliki peran besar dalam upaya mewujudkan Abad Asia 2050 menjadi kenyataan.


Abad Asia
Dalam laporan tahun 2011 berjudul Asia 2050: Realizing the Asian Century, Asia Development Bank (ADB) mengkalkulasi bahwa jika Asia dapat mempertahankan pertumbuhan seperti sekarang, persentase total PDB-nya akan naik dari 27% pada tahun 2010 menjadi 51% pada tahun 2050. Artinya, separuh ekonomi dunia ada di tangan kawasan ini. Selain itu, pendapatan perkapita akan naik enam kali lipat menjadi sekitar 38.600 dolar, menjadikan rakyat Asia semakmur orang-orang Eropa sekarang. Peningkatan ekonomi yang pesat ini akan dimotori oleh China, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand. Ketujuh negara tersebut saat ini menguasai 87% PDB Asia dan akan naik menjadi 90% pada 2050, setara dengan 45% total PDB global. Posisi ekonomi terbesar dunia pada tahun tersebut juga akan ditempati China, disusul dengan Amerika Serikat dan India. Hal ini akan menjadi pengulangan sejarah masa kejayaan Asia sebelum era revolusi industri.

 


Tantangan
Walaupun gambaran di atas menunjukkan optimisme yang tinggi, tetapi upaya untuk mewujudkannya tidaklah semudah yang dibayangkan. Sebelum abad Asia terwujud, Asia harus menghadapi dampak buruk penurunan ekonomi AS dan Eropa, terutama untuk negara-negara yang mengandalkan ekspor seperti China, Jepang, Korea, dan Malaysia. Selain itu, goyahnya AS juga akan menggoyang tatanan kestabilan ekonomi dunia yang terbiasa berkiblat pada dolar Amerika dan bursa saham Wall Street. Jika pun tantangan ini bisa dilalui dan abad Asia bisa terwujud, tantangan lain akan muncul dari internal kawasan sendiri. Peningkatan kesenjangan pendapatan internal negara akan mengancam stabilitas politik; perebutan sumber daya alam akan meningkatkan potensi konflik seperti perebutan wilayah dan cadangan minyak-gas di Laut China Selatan; disparitas antar negara mengancam stabilitas kawasan; dan kapasitas pemerintah yang belum mapan akan memicu penyelewengan seperti korupsi. Untuk menghadapinya, diperlukan kerangka strategis yang setidaknya mencakup kebijakan nasional, aksi regional bersama, serta interaksi Asia dengan komunitas global.


Peran ASEAN
Dalam rangka mendukung perwujudan abad Asia, ASEAN bisa mengambil peran strategis, terutama dalam membangun kerjasama regional. ASEAN sudah memulai langkah ini dengan membentuk East Asia Summit (EAS) yang beranggotakan negara-negara ASEAN, China, Jepang, Korea, India, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Rusia. Merujuk pada ADB, ada lima alasan kenapa EAS penting. Pertama, kerjasama regional ini bisa memperkuat suara dan pengaruh negara-negara Asia di dunia internasional. Kedua, EAS bisa jadi sarana untuk memfasilitasi pembukaan secara lebih bebas pasar intrakawasan yang permintaan domestiknya kuat, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi negara anggota. Salah satu bentuk konkritnya adalah zona perdagangan bebas ASEAN-China, terlepas dari pro-kontra yang mengikutinya. Ketiga, EAS bisa menggalang bantuan pembangunan untuk mengurangi disparitas guna menghindari terganggunya stabilitas kawasan, baik secara politik maupun ekonomi. Keempat, EAS bisa jadi wadah kerjasama untuk menghadapi isu-isu bersama seperti keamanan energi dan penanganan bencana. Kelima, EAS bisa mengurangi kemungkinan pecahnya konflik antarnegara, terutama antara negara-negara besar yang tergabung. Pada intinya, EAS nantinya diharapkan mengubah paradigma negara-negara di Asia dan negara-negara yang berkepentingan di kawasan ini dalam memperebutkan kepentingan nasionalnya, yaitu dari konflik ke kerja sama. Di sinilah peran ASEAN sebagai motor EAS dituntut sangat besar, terutama untuk hubungan-hubungan yang sering tidak harmonis seperti antara China-Jepang dan China-Amerika Serikat.


Sejauh ini, ASEAN sebagai penggerak utama EAS menunjukkan prestasi yang baik dalam menggandeng dan mengharmoniskan hubungan negara-negara di kawasan Asia Timur. Setidaknya sejak EAS dibangun hingga saat ini, jarang terjadi perang terbuka karena lebih dikedepankan pendekatan diplomasi yang damai dalam mengelola konflik. Salah satu contoh kasus yang sedang menghangat adalah perebutan wilayah di Laut China Selatan yang ditaksir memiliki cadangan minyak dan gas terbesar keempat di dunia. Kasus ini menjadi ujian nyata karena melibatkan negara-negara yang bekerja sama dalam regional Asia Tenggara, yaitu China, Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei, dan Taiwan. Insiden yang melibatkan militer negara memang sempat terjadi antara China-Vietnam dan China-Filipina, tetapi masih bisa diredam dengan langkah-langkah diplomatik ASEAN yang menggagas garis acuan Declaration on the Conduct of the Parties pada Juli 2012 lalu, yang meningkatkan peluang kerja sama dalam eksplorasi sumber daya alam di Laut China Selatan. Pada akhirnya, jika stabilitas kawasan Asia TImur ini tetap terjaga dan paradigma kerjasama benar-benar diterapkan dalam 40 tahun mendatang,  maka abad Asia 2050 tidaklah mustahil untuk diwujudkan. (Sandy Nur Ikfal Raharjo)