Tinjauan Buku

Book review Global Value Chain dan Gerakan Buruh di Asia (Jilid 1)

Kategori: Tinjauan Buku
Ditulis oleh Fathimah Fildzah Izzati Dilihat: 405

 

Review Buku FildzahJudul buku       : Emerging Trends in Factory Asia: International Capital Mobility, Global Value Chains, and the Labour Movement

Penulis            : Surendra Pratap

Penerbit          : Asia Monitor Resource Centre

Kota terbit       : Kowloon, Hong Kong

Tahun terbit     : 2014

Jml halaman    : 177 halaman

Prolog

Dalam bukunya yang berjudul “The Problem with Work: Feminism, Marxism, Antiwork Politics, and Postwork Imaginaries”, Kathi Weeks—seorang feminis sosialis—mengemukakan bahwa kerja bersifat publik dan politis. Kerja bukanlah sekadar aktivitas/praktik ekonomi melainkan aktivitas yang juga terintegrasi dalam lingkup sosial, politik dan bahkan keluarga. [2] Dampak politik dan ideologis dari pengorganisasian kerja ini dapat dengan mudah dilihat, misalnya, pada dinamika gerakan buruh di dalamnya.

Seiring dengan kian intensifnya globalisasi neoliberal sebagai aras utama ekonomi sebagian besar negara-negara di dunia, pengorganisasian kerja pun mengalami banyak perubahan. Kita mengenal pengorganisasian kerja ala Fordisme, Taylorisme, Neo-Fordisme dan sebagainya. Berbagai bentuk pengorganisasian tersebut memiliki value chain yang berbeda dan mempengaruhi karakteristik gerakan buruh di dalamnya. Kini, pembagian kerja secara internasional atau International Division of Labour—selanjutnya disingkat IDL—telah mengalami banyak perubahan dan mempengaruhi siklus value chain secara global.

Tulisan ini merupakan ulasan atas buku yang ditulis oleh Surendra Pratap berjudul “Emerging Trends in Factory Asia: International Capital Mobility, Global Value Chains, and the Labour Movement”. Buku setebal 177 halaman yang ditulis dengan sangat sistematis dan dengan data yang sangat kaya tersebut memaparkan persoalan-persoalan terkait kerja dan hubungan-hubungan kerja dalam konteks ekonomi politik saat ini, yakni globalisasi neoliberal. Dalam buku ini, Pratap membangun tesisnya bahwa sistem kerja yang berlaku di dunia saat ini, yakni dalam lingkup global value chain[4], dan sebagainya, beserta hak untuk memaksa dibuatnya regulasi sesuai dengan “resep” mereka dan menghukum negara yang melanggar ketentuan tersebut (hlm. 21).

Tendensi dominan dari akumulasi finansialisasi kapital terjadi pada tahun 1970an dengan kecenderungan peningkatan proporsi untuk ekspor. Terkait dengan itu, kapital di negara-negara maju membutuhkan tenaga kerja yang terlatih dan semuanya didatangkan dari negara-negara berkembang dengan upah yang sangat rendah. Problem mobilitas buruh pun dikontrol dan diregulasi (hlm. 23-24).

Para pekerja dalam jumlah besar yang berasal dari negara-negara berkembang banyak menemui problem serius di negara-negara yang mereka datangi. Para pekerja ini nekat melakukan migrasi karena adanya gap/kesenjangan yang sangat tinggi antara upah yang berlaku di negara maju dan negara berkembang.

Dalam rezim kapital internasional, muncul kecenderungan baru dalam industrialisasi dimana tenaga kerja cadangan di negara-negara maju kian meningkat dan berdampak pada tekanan upah dan kekuatan kolektif buruh. Dalam hal ini, apa yang terjadi pada mayoritas pekerja di dunia dalam rezim kapital internasional ialah ketika kapital berjalan lancar, mereka bekerja, dan ketika kapital menurun, mereka menganggur (hlm. 33-34).

Selain itu, accumulation by dispossession[6] juga dibutuhkan untuk menciptakan hubungan kerja yang fleksibel dimana buruh bisa direkrut atau dipecat kapan saja ketika dibutuhkan (hlm. 34). Sistem kerja yang fleksibel ini dapat kita lihat misalnya berupa sistem kerja kontrak dan outsourcing.[8] dimulai dengan masuknya Jepang, Hong Kong, Taiwan, Singapura dan Korea Selatan ke dalam global supply chain mereka (hlm. 43).

Di Asia Tenggara, global value chain dimulai dengan perusahaan-perusahaan AS (khususnya perusahaan nasional semikonduktor dan instrumen di Texas) yang membuat plants di Singapura untuk penyusunan peralatan-peralatan semikonduktor. Pada rentang waktu antara tahun 1970an hingga 1980an, perusahaan-perusahaan Korsel, Hongkong, Taiwan dan Singapura meningkatkan produksi outsourcing mereka ke lokasi-lokasi dengan cost yang murah di Asia Timur dan Asia Tenggara (Malaysia, Filipina, Thailand, Indonesia, Vietnam) serta lokasi-lokasi lainnya (hlm. 44).

Ekspansi global value chain di industri berbagai negara berbeda tergantung pada keuntungan harga kompetitif berbagai faktor produksi seperti upah buruh yang murah, bahan-bahan mentah, infrastruktur dan juga harga-harga administratif; pasar yang lebih luas, atau pasar barang-barang produksi yang lebih terintegrasi, serta basis pabrik yang sudah ada mampu untuk menyediakan tier-II dan tier-III suppliers[10] Selain itu, 50% ekspor elektronik pun berasal dari negara-negara berkembang, khususnya negara-negara yang tergabung dalam ASEAN yang juga merupakan target pemasaran produk-produk elektronik yang paling potensial.

Struktur global value chain dalam industri elektronik di Asia terdiri atas OBM/perusahaan utama (AS, Eropa Barat, Jepang) yang membawahi platform leaders/perusahaan yang memiliki teknologi krusial seperti software, hardware, atau kombinasinya yang digunakan berbagai produk dari perusahaan-perusahaan lainnya; kemudian perusahaan yang memproduksi desain semikonduktor (Taiwan). Di bawahnya ada CMs/perusahaan kontrak; a). ODMs/pabrik yang merancang desain asli (Taiwan); b). OEMs/pabrik peralatan asli, dimana pabriknya berada di Taiwan, Singapura, Korea Selatan dan Tiongkok. Sementara itu, penyedia tier-1 biasanya ada di negara-negara berkembang dari negara-negara maju dan negara-negara industri baru. Terakhir, penyedia Tier II&III hingga tier IV berbasis di negara-negara berkembang (hlm.48-49). Sementara itu, industri kendaraan dan apparrell di Asia tidak berkembang secepat dan sepesat industri elektronik. (Fathimah Fildzah Izzati)


[2] Michael Burawoy. The Politics of Production. 1985. Thetford, Norfolk: The Thetford Press, Ltd., hlm. 7.

[4] OECD terdiri atas 30 anggota penuh dengan 25 diantaranya digolongkan Bank Dunia sebagai negara berpendapatan tinggi pada tahun 2006.

[6] Sistem produksi fleksibel merujuk pada sistem produksi yang tidak berpusat di satu wilayah/region saja dimana sistem ini ditujukan untuk meminimkan risiko yang mungkin dihadapi dunia usaha.

[8] Pengertian dari global supply chain merujuk pada sebuah jaringan global yang terdiri atas berbagai perusahaan berbeda di seluruh dunia yang memproduksi, mendistribusikan berbagai barang-barang/produk secara spesifik.

[10] Fahmi Panimbang, Jiwon Han, et al. Labor Rights in High Tech Electronics : Case Studies of Workers’ Struggles in Samsung Electronics and Its Asian Suppliers. 2013. Kowloon, Hong Kong: Asia Monitor Resource Centre, hlm. 12.

[11] OEM adalah perusahaan-perusahaan yang membuat produk final yang siap dipasarkan. Contohnya, Apple adalah OEM komputer.