Tinjauan Buku

Tinjauan Buku Di Balik Kerja-Kerja Pengetahuan Ben Anderson

Kategori: Tinjauan Buku
Ditulis oleh Wahyudi Akmaliah Dilihat: 2522

Hidup di Luar Tempurung Cover Buku

Judul Buku            : Hidup di Luar Tempurung

Penulis                  : Benedict Anderson

Tebal                     : 205 halaman

Penerbit                : Marjin Kiri

Tahun                    : 2016

Bagi mereka yang menekuni studi ilmu sosial dan kemanusiaan di Indonesia, sosok Benedict Anderson adalah nama yang tidak boleh luput untuk disebutkan. Selain menjelaskan sosiologis masyarakat Indonesia dalam fase kolonial, pendudukan Jepang, konteks politik Indonesia kurun waktu 1965-1990-an, Om Ben, begitu dia biasa disapa, memberikan fondasi utama studi kebudayaan Jawa dan kekuasaan dan penguatan studi Asia Tenggara melalui kampus Cornell. Bukunya Imagined Communities, dengan mengambil studi kasus orang-orang Indonesia yang membayangkan dirinya sebagai kesatuan komunitas melalui selebaran, koran, dan buku-buku yang melawan penentangan kepada Belanda dengan munculnya teknologi mesin cetak, merupakan karya yang banyak dirujuk oleh pengkaji studi nasionalisme dan poskolonial. Saat ia meninggal di kota Batu, Malang 15 Desember 2015, bukan hanya komponen intelektual dan akademisi Indonesia saja yang berduka, melainkan juga dua negara yang selama ini menjadi subjek studinya (Thailand dan Filipina), serta para Indonesianis di pelbagai belahan dunia yang merasa berhutang budi atas karya-karyanya yang sangat berpengaruh.

Di balik ketajaman analisis, ketekunan membaca teks-teks klasik, imajinasi dalam melakukan perbandingan, serta kemampuan Om Ben sebagai polyglot dari pelbagai bahasa Asia Tenggara (Bahasa Indonesia, Tagalog, dan Thai), dan bahasa Eropa (Inggris, Perancis, Belanda, Latin, Jerman), bagaimana sebenarnya di balik kerja-kerja akademik yang dilakukan? Buku otobiografi, terdiri dari enam bab, dengan judul bahasa Inggrisnya A Life of Beyond Boundaries ini membantu menguak rahasia kerja-kerja akademik panjang yang dilakukan dan konteks mengapa karya-karya itu ditulis serta sikap personalnya. Di sini, kosmopolitanisme adalah kata kunci dasar dan modal sosial yang menghimpun Om Ben menjadi seorang begawan ilmuwan sosial disegani. Ben Anderson lahir di Tiongkok pada 26 Agustus 1936 di Kunming, tiga tahun sebelum perang dunia pecah di Eropa. Di tengah situasi memanas tersebut dan mulai terjadinya konflik  serta perang, ayahnya membawa seluruh anggota keluarga termasuk asisten rumah tangganya yang berasal dari Vietnam untuk kembali ke Irlandia yang netral melalui Amerika Serikat. Ben Anderson kemudian menetap di San Fransisco dan Colorado sampai Nazi Jerman kalah. Pada tahun 1945, Ben mulai menetap di Irlandia. Setelah ayahnya meninggal, praktis Ben dan kedua adiknya hanya diasuh dan dibesarkan oleh ibunya yang berasal dari Inggris dan dari latar belakang keluarga profesional yang sukses. Namun demikian, sebelum ayahnya meninggal, bersama ibunya, Ben difasilitasi perpustakaan rumah dengan buku-buku yang berlimpah serta didorong untuk terbiasa membaca tentang kehidupan, pengalaman dan pemikiran orang-orang yang berbeda bahasa, di kelas dan wilayah berbeda serta dalam periode sejarah yang berbeda. 

Melalui ibunya juga Ben diminta untuk mempelajari Bahasa Latin di tengah sistem kurikulum sekolah Irlandia yang meminta anak-anak sekolah memilih di antara dua bahasa, yaitu antara Latin atau Bahasa Irlandia. Diakui, Bahasa Latin memang sudah tidak ada penuturnya, tapi bagi ibunya, itu merupakan bahasa yang penting. Ini karena, Latin adalah “ibu dari semua bahasa Eropa Barat, seperti Perancis, Spanyol, Portugis, dan Italia”. Selain itu, ibunya melihat bahwa kebanyakan sekolah-sekolah di Irlandia zaman itu tidak terlalu bagus dan ia berniat memasukkan anak-anaknya ke sekolah-asrama berbahasa Inggris yang dapat membantu anak-anaknya untuk masuk ke jenjang universitas. Dalam sistem pendidikan berbahasa Inggris ini, Bahasa Latin dan Yunani menjadi komponen utama kurikulum. Berbekal kemampuan dua bahasa tersebut mendorong Ben Anderson mempelajari khazanah klasik Yunani dan buku-buku berbahasa Latin serta Inggris, baik itu prosa, puisi, cerpen, maupun novel. Dua pengetahuan berbahasa ini juga yang membantunya dapat menyelesaikan pendidikan di Eton, sekolah berasrama ketat, dan kemudian bisa merampungkan sarjana strata satunya di Universitas Cambridge bidang studi klasik, setelah sebelumnya sempat berpindah di bidang ekonomi.      

Setelah cukup lama agak menganggur, ia ditawari oleh Richard Kennaway untuk bekerja sebagai asisten dosen di Universitas Cornell menggantikan dirinya. Dalam usia yang cukup muda, 21 tahun inilah ia mulai bekerja secara profesional dan menjadi mahasiswa S3 di bawah bimbingan George Kahin, akademisi ahli Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Interaksi dengan ilmuwan sosial dan humaniora yang ahli di bidangnya, pertemuan dengan mahasiswa-dan mahasiswi Asia lainnya, dan iklim kebebasan akademik yang begitu kental di tengah kucuran dana untuk memperkuat studi kawasan, intelektual dan kemampuan analitik Om Ben benar-benar terbentuk. Ini terlihat dengan hasil capaian disertasi S3-nya yang justru membantah tesis dari pembimbingnya sendiri terkait kelompok yang memberikan kontribusi dalam pembentukan nasionalisme dan tindakan revolusi Indonesia ketika itu. Alih-alih revolusi pemuda sebelum kemerdekaan Indonesia itu dilakukan sekelompok elit nasionalis dan sebuah kelas, sebagaimana tesisnya Kahin yang terdapat dalam karyanya “Nationalism and Revolution in Indonesia” (1952), revolusi, dan kemudian tpendudukan Jepang, yang dilihatnya secara kesatuan,  justru, menurut Om Ben, dilakukan oleh generasi yang dibentuk oleh pengalaman peliknya di bawah kekuasaan imperialis Jepang, di mana orang-orang Jepang turut memberikan semangat api revolusi.

Selain faktor didikan orang tua, pengalaman berpindah, kemampuan berbahasa, dan interaksi yang intensif di tengah gairah belajar yang menyenangkan di Cornell, kata keberuntungan,  adalah salah satu kunci lain keberhasilan Om Ben dalam kerja-kerja akademiknya. Ini karena, Ben merasa terberkahi telah dicekal oleh rejim Suharto untuk masuk kembali ke Indonesia pada tahun 1972 setelah menuliskan sebuah laporan ilmiah bersama dua sarjana Cornell lain “A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia”,  terkenal dengan Cornell Paper. Pencekalan itu yang membuatnya mengalihkan studi ke Filipina dan Thailand dan menghasilkan karya-karya terbaik yang sangat berpengaruh, seperti “Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism” (1983), “Under Three Flags: Anarchism and the Anticolonial Imagination (2005), the Fate of Rural Hell: Ascetism and Desire in Buddhist Thailand” (2012). Dengan demikian, eksplorasi kerja-kerja akademik yang dihasilkan, pengalaman lapangan, sikap politik, jaringan persahabatan antar bangsa yang terbentuk, dan catatan personal yang dibuat oleh Om Ben ini sebenarnya mengajak kepada siapa saja yang bergelut dalam dunia akademik, intelektual, dan pergulatan ilmu-ilmu sosial, di mana pun posisi mereka berada untuk tidak menjadi katak di dalam tempurung, melainkan menjadi katak yang harus memecahkan tempurung sendiri dengan membebaskan diri dari sekat-sekat akademik, etnik, agama, ataupun ideologi untuk melihat sisi kemanusiaan atas mereka yang dijajah dan tertindas. (Wahyudi Akmaliah, Peneliti di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan/ P2KK, LIPI)