Kolom Eropa

Konflik Rusia – Ukraina : Rentannya Stabilitas Energi Uni Eropa

Kategori: European Union Corner
Ditulis oleh Rosita Dewi Dilihat: 8992

Konflik Gas Rusia - Ukraina 

Masih terekam jelas dalam ingatan kita bahwa konflik antara Rusia dan Ukraina menyebabkan terjadinya ketidaklancaran pasokan gas dari Rusia ke Uni Eropa (UE) sebagai primary consumers gas alam yang setia. Uni Eropa bahkan telah membentuk sebuah tim monitoring untuk mengawasi pasokan gas alam tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa penggunaan gas alam sebagai penggerak utama sektor industri dan rumah tangga masih sangat signifikan, sehingga apabila sedikit saja terjadi sumbatan dalam transportasi gas alam ini maka akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam perekonomian. Bagaimana hal ini bisa terjadi? 

Sudah merupakan realitas bahwa posisi Uni Eropa lemah menghadapi keunggulan komparatif Rusia sebagai pemasok seperempat kebutuhan energi di Eropa. Rusia sebagai negara pemasok utama energi terutama gas alam ke negara-negara Eropa menjadikannya sebagai sutradara dalam penentuan hubungan Rusia dengan negara-negara Uni Eropa. Rusia yang memiliki cadangan minyak dan gas alam yang tinggi semakin menunjukkan peranan penting dalam menentukan posisi tawar Rusia di hadapan negara-negara Uni Eropa, apalagi ketergantungan negara-negara Eropa terhadap gas alam Rusia makin lama makin besar. Terjadinya konflik antara Rusia dan Ukraina mengenai suplai gas alam sejak Januari 2006 telah menyebabkan Gazprom, perusahaan gas Rusia, memutus suplai gas Rusia ke Eropa yang melalui Ukraina. Pemutusan suplai gas alam ini berdampak buruk bagi Eropa karena jaringan pipa gas yang melalui Ukraina memasok kurang lebih seperlima dari total kebutuhan gas di Eropa. Tercatat tujuh negara di Eropa Tengah dan Barat termasuk Italia dan Perancis kehilangan 14 persen dan 40 persen pasokan gas alamnya (Saunders: 2008, 2). Masalah ini dapat diselesaikan melalui kesepakatan antara kedua negara sehingga pada akhirnya Rusia kembali mengalirkan gas alam ke Eropa melalui Ukraina. 

Sayangnya, masalah ini terulang kembali ketika Gazprom memutuskan aliran gas Rusia ke Eropa yang melalui Ukraina ketika Naftogaz gagal membayar hutang sebesar $ 2 milyar untuk pengiriman gas tahun 2008. Perseteruan antara keduanya dipicu oleh gagalnya kesepakatan antara Moskow-Kiev mengenai harga gas. Pada satu sisi Gazprom menginginkan agar Ukraina membayar sebesar $ 450 per 1000 m³. Namun pada sisi lain harga ini ditolak oleh Ukraina dengan alasan bahwa negara tersebut hanya mampu membayar $ 235  per tcm itupun dengan syarat kenaikan pembayaran biaya transit dari Rusia karena Rusia mengangkut lebih dari 80 persen gas alam untuk dikirimkan ke negara-negara Eropa melalui Ukraina. 

Sebenarnya terdapat beberapa permasalahan utama yang menyebabkan konflik antara Rusia dan Ukraina menyangkut suplai gas alam terulang kembali pada tahun 2011. Pertama, masalah penentuan harga gas. Kedua negara belum mencapai kesepakatan mengenai harga gas yang harus dibayar Ukraina kepada Rusia sehingga Ukraina meminta dilakukan negosiasi ulang atas harga gas alam yang telah disepakati sebelumnya pada tahun 2009. Namun Rusia tidak menginginkan negosiasi ulang kecuali jika Ukraina bersedia untuk bergabung ke dalam Uni Eurasia (Eurasian Union) yaitu kerjasama kawasan yang akan dibentuk oleh Rusia dari negara-negara bekas Uni Soviet. Sebenarnya, Ukraina telah beberapa kali menolak bergabung ke dalam blok tersebut bersama dengan Rusia, Kazakhstan, dan Belarusia, karena saat ini Ukraina tengah berupaya untuk masuk sebagai anggota Uni Eropa. 

Kedua, hubungan politik antara Rusia dan Ukraina. Pasca Orange Revolution ketika penduduk Ukraina memutuskan untuk mendukung pemimpin yang anti Rusia, telah mendorong Rusia untuk memutuskan subsidi harga gas alam yang selama ini diberikan kepada Ukraina. Kondisi tersebut yang memicu terjadinya konflik yang sering terulang kembali mengenai penentuan harga gas alam Rusia yang melalui Ukraina, bahkan ketidaksepakatan masalah harga gas alam ini yang sering digunakan Rusia sebagai alat politiknya. Rusia juga berkeinginan agar Naftogaz bergabung dengan Gazprom sehingga dapat memonopoli setiap aktivitas distribusi gas alam yang pipa-pipanya melalui Ukraina. Ukraina menolak usulan Rusia karena hal tersebut akan bertentangan dengan prinsip Uni Eropa yang mengedepankan free trade. 

Dampak Konflik Rusia – Ukraina terhadap Suplai Energi Uni Eropa 

Konflik antara Rusia dan Ukraina membawa dampak yang sangat besar bagi negara-negara Uni Eropa karena 80 persen dari total 40 persen impor gas alam negara-negara Uni Eropa dari Rusia diangkut melalui Ukraina. Di kalangan negara-negara Eropa muncul kekhawatiran akan terulangnya kembali konflik antara Rusia dan Ukraina mengenai ketidaksamaan harga gas alam yang menyebabkan putusnya pasokan gas alam Rusia ke Eropa pada tahun 2009 sehingga negara-negara Eropa ini tidak mendapatkan akses gas alam untuk memenuhi kebutuhan listrik. Konflik antara Rusia dan Ukraina mengenai pengiriman gas alam tersebut menyebabkan tujuh negara Eropa terhenti pasokan gas alamnya bahkan Rusia mengurangi pasokan gas alam  ke negara lain secara drastis. 

Konflik yang tidak kunjung berakhir antara Rusia dan Ukraina memunculkan kekhawatiran bagi negara-negara Uni Eropa karena hingga saat ini negara-negara Uni Eropa masih sangat tergantung dengan impor gas alam Rusia yang diangkut melalui Ukraina. Selama ini Rusia memiliki peranan sangat besar dalam perdagangan energi di Eropa khususnya minyak bumi dan gas alam sehingga Eropa sangat tergantung dengan suplai energi dari Rusia. Gazprom, perusahaan minyak nasional yang mengelola gas alam di Rusia, memiliki kekuatan penuh dalam hal produksi, distribusi, dan penentuan harga, sehingga semua masalah energi dikendalikan dibawah kepentingan pemerintah Rusia. 

Kondisi tersebut yang selalu dikhawatirkan oleh Uni Eropa sehingga Uni Eropa sangat tertarik dengan reformasi pasar energi di Rusia khususnya upaya Uni Eropa untuk melakukan liberalisasi atas monopoli pasokan dan pasar gas alam Rusia melalui Gazprom. Sayangnya, hal ini ditolak oleh Rusia karena Rusia akan mensuplai energi ke Uni Eropa melalui kontrak jangka panjang dengan klausul didalamnya yang menyatakan adanya territorial restriction yaitu apabila suatu negara menerima pasokan energi yang berlebih dari Rusia maka negara tersebut tidak boleh menjual energi ke negara lain. Monopoli tersebut menyebabkan Gazprom bebas menentukan harga energi yang berbeda antara satu negara Uni Eropa dengan negara Uni Eropa lain padahal sesama negara Uni Eropa terikat peraturan single market. Disinilah letak kekuatan pasar energi uisa di negara-negara Eropa bahkan para pejabat Uni Eropa telah memperingatkan akan munculnya situasi krisis, sehingga akibat kekhawatiran bersama tersebut, Uni Eropa mencoba merumuskan kebijakan energi bersama bagi negara-negara Uni Eropa untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri. 

Harmonisasi Kebijakan Energi Eksternal Uni Eropa : Solusi? 

Sebenarnya, keseragaman kebijakan energi Uni Eropa sudah menjadi prioritas utama sejak pertengahan tahun 1990 yang ditandai dengan dikeluarkannya green paper mengenai liberalisasi sektor kelistrikan. Namun baru sekitar tahun 2000 harmonisasi kebijakan energi mulai dikonsentrasikan pada penguatan suplai energi. Terdapat beberapa usaha yang dilakukan oleh Uni Eropa mengenai harmonisasi kebijakan energi yaitu diversifikasi sumber energi dan stockpiling, sayangnya kebijakan-kebijakan tersebut masih berorientasi internal yang hanya mengatur dan mengikat sesama negara anggota Uni Eropa saja. Sementara kebijakan Uni Eropa untuk third national country belum mendapatkan perhatian yang cukup besar dari negara-negara pengekspor energi karena setiap negara Uni Eropa memiliki tingkat ketergantungan energi yang berbeda dari para negara pensuplai energi. 

Bahkan sudah tidak mengejutkan lagi ketika beberapa tahun terakhir terjadi ketegangan hubungan antara negara pensuplai energi, Rusia, dan Uni Eropa, terkait adanya kekhawatiran bahwa Rusia akan menggunakan suplai gas alam ke Uni Eropa sebagai alat politiknya. Contoh konkret mengenai kekhawatiran tersebut muncul tahun 2009 ketika Rusia hanya mau bernegosiasi mengenai harga gas alam dengan Ukraina apabila Ukraina bersedia menjadi anggota Uni Eurasia serta perusahaan gas nasional Ukraina, Naftogaz, bersedia bergabung dengan Gazprom. Hal ini dilakukan Rusia untuk dapat memonopoli perdagangan gas alam ke negara-negara Eropa. 

Menghadapi hal tersebut, Komisi Uni Eropa mengadopsi Communication on Security of Energy Supply tanggal 7 September 2011 yang berisi tentang strategi komprehensif dan konkret dalam hubungan eksternal Uni Eropa dengan negara-negara pengekspor energi. Adapun beberapa strategi utamanya sebagai serikut. Pertama, negara-negara Uni Eropa akan membagi informasi tentang perjanjian internasional dalam hal yang berhubungan dengan energi termasuk perjanjian yang masih dalam status negosiasi. Komisi Uni Eropa juga akan memberikan pendapat mengenai perjanjian-perjanjian tersebut sesuai dengan Hukum Uni Eropa dan tujuan dari strategi keamanan energi Uni Eropa. Kedua, perjanjian dengan third national country juga bisa dinegosiasikan pada tingkat Uni Eropa seperti dengan Azerbaijan dan Turkmenistan. Ketiga, Uni Eropa akan mengajukan kerjasama yang baru dalam hal energi terbarukan dengan negara-negara Mediterania bagian selatan. Keempat, Uni Eropa akan mengusulkan diskusi multilateral tentang perjanjian internasional yang mengikat tentang standar pengamanan nuklir dan hal ini sebenarnya untuk memperketat pengamanan pemanfaatan nuklir di negara tetangga Uni Eropa. Kelima, kebijakan pembangunan Uni Eropa juga akan lebih mengutamakan peningkatan akses energi terbarukan untuk negara miskin dan berkembang. 

Dengan adanya kebijakan energi bersama ini, Uni Eropa berharap dapat meningkatkan posisi tawarnya terhadap Rusia sehingga kerentanan pasokan energi dari Rusia dapat diminimalkan. Namun pada kenyataannya, pasokan energi Uni Eropa dari Rusia juga masih rentan hingga saat ini karena, pertama, Rusia terus melakukan tekanan politik terhadap negara yang wilayahnya dilalui pipa gas alam ke Eropa seperti di Ukraina, sehingga secara tidak langsung konflik Rusia dengan negara transit point ini juga mengancam keamanan energi Uni Eropa. Kedua, pada satu sisi Uni Eropa terkesan enggan untuk mengalihkan suplai gas alamnya dari negara-negara Asia Tengah karena mahalnya biaya investasi untuk mengalirkan gas alam tersebut, sementara pada sisi lain Rusia melalui perusahaan energinya, Gazprom, gencar berinvestasi dalam penambahan jalur-jalur pipanya. (Rosita Dewi) 

Referensi 

European Commission. 2011. Communication from the Commission to the European Parliament, the Council, the  European Economic and Social Committee and the Committee of the Regions on Security of Energy Supply and International Cooperation - the EU Energy Policy: Engaging with Partners Beyond Our Borders.

Hancher, Leigh. 2003. Harmonization of European Gas Markets : the EU Gas Directives dalam Elsevier (Ed.), National Reforms in European Gas, Oxford, UK. 

Helm, Dieter. Russia’s Energy Policy: Politics or Economics?, Open Democracy News Analysis, diakses dari http://www.opendemocracy.net 

Saunders, Paul J. 2008. Russia Energy and European Security: A Translatic Dialogue, the Nixon Centre, Washington DC.

 

Russia Analytical Digest, No. 18, 3 April 2007, www.russlandalysen.de / www.res.ethz.ch