Kolom Pemilukada

Seputar Pemilukada DKI Jakarta Putaran Pertama

Kategori: Kolom Pemilukada
Ditulis oleh Pandu Yuhsina Adaba Dilihat: 2115

 Pemilukada DKI Jakarta 2012 merupakan sarana bagi warga ibukota untuk menentukan siapa yang pantas memimpin mereka selama 5 tahun ke depan. Sang Petahana, Fauzi Bowo, mengajukan diri kembali dengan menggandeng Nachrowi Ramli yang merupakan mantan Kepala Lembaga Sandi Negara. Pasangan ini mengusung isu bahwa selama ini jalanya roda pemerintahan di DKI Jakarta sudah cukup baik sehingga perlu dilanjutkan. Pasangan ini juga mengklaim pasangan asli betawi yang merupakan penduduk asli Jakarta. 

 
Di barisan penantang, semua cenderung mengusung isu perubahan. Koalisi PDIP dan Partai Gerindra mengajukan Joko Widodo (Walikota Surakarta) bergandengan dengan Basuki Tjahja Purnama/Ahok (mantan Bupati Belitung Timur). Pasangan ini tampil nyentrik dengan kostum yang khas bercorak kotak-kotak. Filosofi dari corak kostum itu konon diartikan mewakili keberagaman warga Jakarta.  

Mantan Ketua MPR-RI, Hidayat Nurwahid maju dari partainya sendiri, PKS. Dengan menggandeng Didik J Rahbini yang merupakan akademisi kondang, pasangan ini tampil percaya diri. PKS merupakan partai yang cukup kuat di DKI Jakarta berdasarkan perolehan suara pada pemilu legislatif 2009. Menapilkan citra santun, cerdas, dan religius, pasangan ini sempat dipredisksi akan mendapat dukungan besar, terutama dari kalangan muslim modernis ibukota. 

Dari Partai Golkar, muncul Alex Noerdin. Gubernur Sumatera Selatan ini menggandeng Nono Sampono yang merupakan pensiunan perwira tinggi Korps Marinir TNI AL. Pasangan Alex-Nono sering mengkampanyekan keberhasilan Alex dalam memimpin Sumatera Selatan. Diharapkan, jika pasangan ini terpilih, model-model pengelolaan pemerintahan seperti di Sumatera Selatan akan diterapkan di DKI Jakarta. 

Bukan hanya calon-calon dari partai saja yang ikut berkompetisi dalam Pemilukada DKI Jakarta 2012. Dari jalur independen mucul 2 pasangan calon. Yang pertama adalah pasangan Faisal Basrie – Biem Benyamin. Pasangan ini mengusung isu pemberdayaan msyarakat dengan jargon “mari berdaya bareng-bareng”. Sementara itu pasangan independen lain adalah Hendarji Supanji  - Riza Patria yang juga mengusung isu perubahan. 

Sebelum dilaksanakan pemungutan suara pemilukada DKI Jakarta 2012, setidaknya ada dua lembaga survey terkenal  yang melansir hasil surveynya. Keduanya menempatkan pasangan nomor urutan 1 yaitu Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli (Foke – Nara )sebagai pihak yang paling berpotensi unggul.  Indobarometer dan The Cyrus Network menyatakan Foke (Panggilan akrab Fauzi Bowo) didukung lebih dari 40% pemilih. Lingkaran Suvey Indonesia (LSI) bahkan mengeluarkan pernyataan yang lebih bombastis. Foke disebutkan berpotensi memenangkan pemilukada dalam 1 putaran saja.1 

Kenyataan pada hari pemungutan suara berkata lain. Hasil quick count pemilukada 2012 dari berbagai lembaga menyatakan justru pasangan nomor urut 3 yaitu Joko Widodo – Basuki Tjahya Purnama (Jokowi – Ahok) mempimpin perolehan suara dengan kisaran suara diatas 40 %. Prediksi keunggulan Foke – Nara justru meleset dan hanya meperoleh suara sekitar 33% – 34% saja, kalah dari perolehan suara Jokowi - Ahok. Hasil quick count ini juga mengisyaratkan pemilukada mesti berlangsung 2 putaran.

Rakyat Jakarta melawan hasil survey? Mungkin pertanyaan inilah yang kemudian muncul. Ataukah survey-survey yang muncul mempunyai muatan politis dalam arti dibiayai oleh pihak pihak tertentu untuk kepentingan tertentu? Lansiran Lingkaran Survey Indonesia yang mengunggulkan Foke – Nara banyak disebut dibiayai oleh pasangan nomor satu itu. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari pernyataan peneliti seniornya,  Toto Izul Fatah yang menuturkan bahwa sejak awal pihaknya sudah dikontrak oleh pasangan Foke – Nara sebagai konsultan politik. Toto juga menyebutkan bahwa mereka dibiayai  oleh pasangan nomor urut satu tersebut.2 Pernyataan ini kemudian dibantah oleh Nachrowi Ramli (Nara) yang menyatakan bahwa pihaknya tidak menyewa lembaga survey dan hanya melakukan survey internal.3

Satu lembaga melansir hasil survey berbeda dari tren yang ada. Hanya 4 hari sebelum pemungutan suara digelar,  Indonesian Network Election Survey (INES) memaparkan bahwa justru pasangan Jokowi – Ahok yang menempati posisi unggul. Anehnya paparan hasil survey ini tidak dimuat di media-media yang “mapan” seperti  Kompas, Detik, Tribun, Tempo, OkeZone dan sebagainya, tapi hanya dimuat oleh media-media yang kurang terkenal seperti DavinaNews, AntaraNews, PesatNews.

Beberapa jam setelah pemungutan suara, berbagai lembaga survey terkenal mengeluarkan hasil quick count yang hasilnya menempatkan Jokowi – Ahok di posisi teratas mengungguli Incumbent. Tentunya mengejutkan ketika hasil quick cout ini membalik hasil survey yang selama ini beredar. Namun lagi-lagi Quick Cout INES yang mengambil sampel di 10.408 TPS mengambil kesimpulan berbeda dengan lembaga survey lain. Jika lembaga survey lain mengindikasikan pemilukada DKI mesti berlangsung 2 putaran, INES menyatakan bahwa Pasangan Jokowi – Ahok sudah menang dalam satu putaran.4 Pemaparannya sebagai berikut:

1.       Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli                : 25,03 %

2.       Hendraji Supanji – Riza Patria                 : 2, 65 %

3.       Joko Widodo – Basuki Tjahja Purnama   : 55,30 %

4.       Hidayat Nurwahid – Didik J Rahbini        : 8,46 %

5.       Faisal Basri – Biem Benyamin                : 3,91 %

6.       Alex Nurdin – Nono Sampono                : 4,55. 

Peneropongan LSI, Indobarometer, JSI dan lembaga survey lain yang lebih terkenal dari INES tentunya lebih mendapat banyak kepercayaan. Namun berbekal prediksi jitu kemenangan Jokowi – Ahok, yang kemudian terbukti pada pemungutan suara 11 Juli 2012, hasil quick count INES sepertinya perlu mendapat perhatian. Dan yang lebih penting adalah mengawal penghitungan suara secara manual di KPU DKI Jakarta mengingat proses itu rawan terjadi penggelembungan suara. 

Cukup 1 Putaran?

Ditengah berita keunggulan Jokowi – Ahok atas Foke – Nara, serta sinyal berlangsungnya pemilukada dua putaran, muncul gugatan terhadap UU Nomor  29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. UU inilah yang menyebabkan  Pilkada DKI Jakarta kemungkinan dilanjutkan pada putaran kedua yang diikuti pasangan Jokowi-Ahok dan Foke-Nachrowi. UU Nomor 29 Tahun 2007 mengatur, pilkada dua putaran harus digelar jika tidak ada calon yang mendapatkan suara 50 persen plus satu. Judicial review mengenai UU ini diajukan oleh  Mohamad Huda, A Havid Permana dan Satrio F Damardjati dengan alasannya, UU Nomor 29 Tahun 2007 tumpang tindih  dengan UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pilkada. Dalam UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pilkada disebutkan bahwa penetapan dua putaran hanya dilakukan jika tidak ada calon yang memperoleh 30 persen plus satu. Jika gugatan ini dimenangkan oleh MK, secara otomatis, pasangan Jokowi – Ahok dianggap memenangkan pemilukada dalam 1 putaran saja.5

Menghitung prosentase partai ternyata tidak cocok

Jika kita melihat perolehan suara Partai di DKI Jakarta pada pemilu 2009, mungkin kita akan menduga bahwa Pasangan Hidayat Nurwahid – Didik J Rahbini akan mendapat suara sekitar 25%. Itu adalah estimasi dari gabungan suara PKS dan PAN. Nyatanya hasil quick count memperlihatkan pasangan ini hanya mendapatkan sekitar 11% suara pada pemilukada DKI Jakarta 2012. Sebaliknya, apabila kita menghitung gabungan suara PDIP dan Gerindra di DKI Jakarta pada pemilu 2009, maka angka yang didapat adalah sekitar 18%. Artinya potensi suara pasangan Jokowi – Ahok yang diusung oleh PDIP dan Gerindra berkisar diangka itu. Kenyataanya, hasil quick count memperlihatkan Jokowi mendapat suara diatas 40 %. Kedua hitungan itu menunjukkan bahwa motivasi pemilih dalam menentukan calon Gubernur DKI lebih diwarnai oleh faktor figur, bukan dukungan partai.  Ini tentunya menjadi peringatan kepada partai politik agar segera introspeksi dan berbenah, atau mereka akan semakin ditinggalkan dan dianggap tidak signifikan, hanya berfungsi menjual tiket pencalonan semata.

Isu Putra Daerah sudah tidak relevan

Dalam deklarasi pencalonannya bersama Nachrowi Ramli, Fauzi Bowo sempat berkata "Pilih yang kenal Jakarta, bukan yang tidak kenal Jakarta dan sudah teruji. Mari kita lanjutkan yang sudah ada. Kami berdua tidak ikhlas Jakarta diacak-acak orang lain, mari kembali menata Jakarta dengan orang Jakarta,".6 Dan begitulah yang terjadi selama masa kampanye, calon-calon dari luar daerah banyak disudutkan dengan isu putra daerah jauh lebih mengenal daerahnya. Kemenangan Jokowi – Ahok membalik semua itu. Ternyata isu putra daerah tidak lagi relevan dilemparkan pada pemilukada DKI Jakarta. Seperti kita tahu, Jokowi berasal dari Solo, sedangkan Basuki (Ahok) adalah etnis tionghoa yang berasal dari Belitung. Kenyataanya mereka berhasil mengungguli calon-calon yang berasal dari etnis Betawi. (Pandu Yuhsina Adaba)

Endnote:

1  Pemilukada DKI Jakarta 2012 diikuti oleh 6 pasangan calon yaitu: Fauzi Bowo – 1. Nachrowi Ramli, 2. Hendraji Supanji – Riza Patria, 3. Joko Widodo – Basuki Thahja, 4. Hidayat Nurwahid – Didik Rahbini, 5. Faisal Basri – Biem Benyamin, 6. Alex Nurdin – Nono Sampono. Kecenderungan lembaga survey menempatkan Foke pada posisi unggul. http://fokus.news.viva.co.id/news/read/331660-hasil-survei--posisi-foke-belum-bisa-digoyang

2 Berita ini dapat dibaca di http://berita.liputan6.com/read/417489/lsi-akui-survei-didanai-foke-nara diakses 12 Juli 2012. Dalam berita lain, peneliti LSI mengakui mendapat aliran dana sebesar 250 Juta dari pasangan Foke – Nara. Berita bisa dibaca di http://pesatnews.com/read/2012/07/11/8681/finish-jokowibasuki-peroleh-suara-553-persen.

3 Berita dapat dibaca di http://id.berita.yahoo.com/nara-bantah-pengakuan-lsi-145328490.html. diakses 12 Juli 2012.

4 Berita mengenai quick count INES muncul di http://pesatnews.com/read/2012/07/11/8681/finish-jokowibasuki-peroleh-suara-553-persen diakses 12 Juli 2012.

5 Berita bisa dibaca lengkap di http://metro.news.viva.co.id/news/read/335059-pilkada-digugat--jokowi-bisa-menang-1-putaran diakses 13 Juli 2012.

6 Berita bisa dilihat di http://news.detik.com/read/2012/03/20/104316/1871735/10/sindir-cagub-luar-jakarta-foke-dinilai-khawatir-kalah-saing-dengan-jokowi diakses 13 Juli 2012.