Kolom Sastra

Mochtar Pabottingi Mencari Makna: Komunitarianisme dalam Burung-Burung Cakrawala1

Kategori: Kolom Sastra
Ditulis oleh Amin Mudzakkir Dilihat: 2588

Mochtar Pabottingi Mencari Makna: Komunitarianisme dalam Burung-Burung Cakrawala1

Oleh Amin Mudzakkir2

Pendahuluan
Andi Tarigan  adalah  orang  pertama  yang  memberi  tahu  saya  perihal  Burung-Burung Cakrawala (BBC)3  sekira tiga bulan sebelum diluncurkan ke hadapan sidang pembaca. Dia adalah  editor  di  Gramedia  dan  teman  sekelas  saya  di  Driyarkara.  “Min,  aku  sedang menyunting bukunya Pak Mochtar. Dia  seniormu di LIPI ya? Bahasanya asyik banget. Tidak membuat bosan sama sekali!” katanya pada suatu sore sebelum kami masuk kuliah. “Dan yang paling keren adalah kejujurannya itu loh! Dia cerita tentang  pengalamannya tergelincir!” tukasnya dengan logat Batak yang masih tersisa sedikit. “Wah! Oya?” kira- kira  demikian tanggapan  cepat  saya  ketika  itu.  Oleh  karena  kelas  segera  dimulai, perbincangan singkat itu terhenti. 
 
Pada tanggal 19 Januari 2013 saya membeli BBC di Gramedia Plaza Semanggi dengan harga 75 ribu rupiah. Segera saja saya membaca halaman demi halaman demi niat awal  yang  kurang  mulia,  yaitu  apalagi  kalau  bukan  untuk  menemukan  cerita  tentang “tergelincir”-nya Pak Mochtar seperti dikatakan oleh Andi Tarigan tiga bulan sebelumnya. Dengan sangat cepat saya mengkhatamkan karya ini,  dua hari satu malam, pada akhir pekan yang cukup mencekam bagi banyak orang karena dua hari  sebelumnya Jakarta diterjang  banjir  yang  sudah  biasa  tetapi  tetap  saja  mengejutkan.  Pada  halaman  277 akhirnya saya menemukan apa yang saya cari itu. Juga, saya sampai pada halaman 291 yang seolah menjadi anti-tesis/anti-klimaks dari halaman 277, “Pada malam itu nyata betul bahwa  gratifikasi  kasmaran   itu  sudah  lama  tertunda  dan  sudah  begitu  lama  kami dambakan.  Hingga  kini  tetap  sulit  bagiku  mencari  kapan  selainnya  kami  memasuki resiprositas persetubuhan seindah itu.”
 
Meski sudah pasti menarik, kali ini saya tidak akan menginterogasi Pak Mochtar mengenai hal ini: “Dua bulan kemudian, Nahdia terbukti kembali hamil. Dan, kami sama- sama yakin bahwa itu adalah buah dari percintaan cemerlang pada malam itu”. Lepas dari apakah kalimat-kalimat  tersebut  adalah  fakta  atau  fiksi,  saya  ingin  membiarkan  Pak Mochtar dan Bu Nahdia mengekalkan momen persebadanan itu dalam ingatan mereka. Yang  hendak  saya  sampaikan  di  sini  justru  di  luar  niat  awal  membaca  BBC,  yaitu perbincangan tentang komunitarianisme yang menggenangi hampir seluruh samudera ide dalam bab terakhir, Menjelang Pulang: Tentang Sarang dan Burung-Burung. Dalam bab ini, Mochtar Pabottingi tidak hanya melakukan analisis  sosiologis terhadap masyarakat Amerika dan situasi modernitas pada umumnya, tetapi juga mengajukan  doktrin-doktrin etika. Dengan mengerjakan dua tugas tersebut, dia tidak hanya hendak menjelaskan dunia, tetapi juga berusaha untuk mengubahnya—paling tidak mengarahkannya. Tulisan serba- ringkas ini diarahkan sepenuhnya untuk menelaah bab pamungkas tersebut.

Tentang komunitarianisme: tinjauan filsafat
Cukup  mengherankan,   di   Indonesia   tidak   berkembang   diskusi   yang   luas   tentang ‘komunitarianisme’. Sependek pelacakan saya, bahkan tidak ada satu pun buku dalam bahasa  Indonesia  yang  menggunakan  kata  ini  dalam  judulnya.  Lebih  dari  itu,  istilah komunitarianisme  sering  dikacaukan  dengan  ‘komunalisme’  dan  bahkan  ‘komunisme’. Lalu    ketika    banyak    orang    di    negeri    ini    ramai-ramai    mempromosikan    konsep ‘multikulturalisme’, debat tentang komunitarianisme tidak kunjung datang juga. Memang Gerry van  Klinken menyebut munculnya politik komunitarian dalam konteks otonomi daerah  dan  desentralisasi  pasca-Soeharto,  tetapi  amatan  dia  tertuju  pada  kebangkitan keraton-keraton  lokal. 4   Di  tempat  lain,   Vedi  Hadiz  dan  Robert  Hefner  mencoba mengaitkan  beberapa  gagasan  dan  aksi  politik  Indonesia   dengan  komunitarianisme sebagaimana  diperdebatkan  khsuusnya  dalam  filsafat  politik,  meskipun  analisis  awal mereka berangkat dari pembahasan tentang kontras antara demokrasi Barat dan demokrasi berbasis ‘Asian values’—secara sinis sering disebut ‘illiberal democracy’—yang menjadi kerangka umum dalam buku bunga-rampai suntingan Chua Beng Huat itu.5
 
Pak    Mochtar    sendiri    tidak    pernah    secara    terang    menggunakan    istilah komunitarianisme. Mengaku mengikuti jalan pikiran liberalisme John Rawls, dari siapa perdebatan  komunitarianisme  filosofis  memulai  perjalanannya,  pendirian  Pak  Mochtar cukup bisa dimengerti. John  Rawls mengusulkan bahwa ‘keadilan sebagai kewajaran’ hanya akan bisa dicapai jika kita, terkhusus  lagi  adalah negara, memastikan kedudukan individu    pada    ‘posisi    asali’-nya.    Dengan    menggunakan    sudut    pandang    ‘cadar ketidaktahuan’, Rawl sejatinya hendak menolak gagasan individualisme libertarian dan pasar bebas.  Akan  tetapi, implisit dari itu adalah pandangan Rawls tentang kedudukan metafisik  manusia  sebagai  mahkluk  rasional  yang  mempunyai  pilihan  bebas  terhadap cakrawala di sekitarnya. Secapa hipotetis,  manusia diandaikan lepas dari posisi apapun. Dengan ini manusia mempunyai ‘prinsip kebebasan’ pada satu sisi dan ‘prinsip perbedaan’ pada sisi yang lain.6

Robert Nozick adalah filsuf libertarian yang pertama kali menantang pandangan Rawls tersebut, tetapi kita tidak akan membahasnya. Di sini kita akan melihat tanggapan para filsuf komunitarian, seperti  Charles Taylor, Michael Sandel, Michael Walzer, dan Alasdair MacIntyre.7 Berbeda dengan Rawls,  rombongan filsuf terakhir ini berpendapat bahwa rasionalitas manusia tidak terletak pada posisi asali yang menggantung pada langit metafisika, melainkan berpijak pada tanah air tradisi tertentu. Hanya dengan pengandaian inilah, menurut mereka, etika menjadi relevan dan mungkin dikerjakan. Apa yang disebut ‘baik’ dan ‘benar’ adalah ‘baik’ dan ‘benar’ menurut narasi yang tersituasikan secara historis.  Terselip dalam etika komunitarian ini adalah orientasi telelologis mengenai ke mana hidup ini diarahkan. Persis pada titik ini kita akan berjumpa dengan Aristoteles yang menegaskan    sentralnya    keutamaan    (virtue).    Moralitas    Aristotelian—yang    diadopsi terutama oleh MacIntyre—tertuju pada pembentukan karakter manusia yang baik, bukan pada imperatif kategoris sebagaimana ditekankan oleh Immanuel Kant dan etika modern pada umumnya. Akhirnya,   apa yang  disebut makna, dengan demikian, tidak dihasilkan melalui  permenungan  skepstis  Cartesian,  tetapi  diperoleh  melalui  keterlibatan  praktis dalam  laku  kehidupan  sehari-hari.  Dengan  ungkapan  lain,  etik  dan  politik  bukan  dua barang yang terpisah, tetapi satu kesatuan utuh yang saling mengandaikan.
 
Dalam perkembangannya, terutama seperti diperlihatkan oleh Amitai Etzioni yang kerap  dikutip   oleh  Pak  Mochtar,  komunitarianisme  tidak  hanya  merupakan  aliran pemikiran, tetapi juga gerakan sosial politik. Etzioni berargumen bahwa aspirasi dan hak individu   sudah   seharusnya   dijaga,   tetapi   itu   mesti   dimasukkan   ke   dalam   tujuan berkomunitas secara spesifik. Masyarakat, termasuk di dalamnya  keluarga dan sekolah, perlu  memperkuat  diri,  kemudian  menyebarkan  nilai-nilai  kebaikan  sedemikian  rupa kepada   anggotanya.   Gerakan   komunitarian   ini   pada   dasarnya   hendak   memediasi ketegangan antara  kaum  liberal  dan  konservatif  dalam  tradisi  politik  Amerika,  tetapi kecenderungan ‘kiri’ sangat jelas terlihat dalam keseluruhan langkahnya. Oleh karena itu, kritik terhadap kapitalisme menempati tangga teratas dalam minat teoritis dan politisnya. Setelah itu, diusulkanlah beberapa jalan alternatif untuk mengatasinya.
 
Kembali ke Pak Mochtar, saya cukup kaget karena pada bab terakhir yang lebih sering  terpapar  justru  traktat-traktat  komunitarian  daripada  ide-ide  Rawlsian.  Secara benderang  beliau  menunjukkan  perhatian  yang  besar  terhadap  keluarga  baik  sebagai institusi maupun norma. Kritik terhadap individualisme tanpa batas terhampar di banyak tempat,  tetapi  terutama  terhadap  ‘laku-lepas’   seksual  yang  menjadi  ciri  terpenting liberalisme kultural. Memang rasionalitas Pencerahan tetap  dipelihara, juga objektifitas, tetapi lebih dari perkara epistemologi, hal-hal tersebut adalah bagian yang tak terpisahkan dari etika dan politik keseharian.

Burung yang bersarang
Sekarang kita masuk ke dalam teks BBC. Pada halaman 322, Pak Mochtar menjelaskan apa   yang   dimaksud   dengan   nalar   (reason).   Dengan   sangat   yakin   Pak   Mochtar menempatkan nalar sebagai bagian dari pengalaman historisnya menjadi orang Indonesia. Lebih  dari  apapun,  cita  keindonesiaan  merangkum,  tetapi  juga  pada  saat  yang  sama mengeluarkan, cita-cita yang lain. Secara tidak langusng terlihat penolakan diam-diam Pak Mochtar terhadap universalisasi nalar. Dalam kenyataannya, nalar tidak hanya berurusan dengan pikiran yang rasional, tetapi juga perasaan yang intim.  
Kendati menyepakati nalar eksplisit Rendra, aku berpegang pada suatu nalar yang  lain—nalar yang berkaitan lebih pada soal afeksi, pada ikatan hangat menyangkut aneka tempat dan manusia yang sudah terbangun luas dan dalam di Tanah Air, yang tak ingin  kutinggalkan selamanya. Tak kalah penting, nalarku juga menukik pada soal nilai-nilai,  pandangan hidup, hasrat akan kebahagiaan sejati, dan panggilan dari cita keindonesiaan (hlm. 322). 
Akan tetapi, perasaan yang intim terhadap nalar keindonesiaan justru didapatkan Pak Mochtar  setelah hidup sekian lama di Amerika. Di sana dia menyaksikan banalitas kehidupan  dan,  sebagai   konsekuensinya,  merindukan  keintiman  hubungan-hubungan pribadi yang diandaikan masih tersedia di tanah airnya di Indonesia. Rupanya Pak Mochtar adalah bagian dari generasi yang resah dengan perubahan sosial pasca-revolusi ‘Generasi Bunga’ pada akhir 1960-an di negara-negara Barat yang diawali dengan penjungkirbalikan norma-norma seksual. 
Di Amerika yang kualami dan kusaksikan relasi antar-warga sebagaimana digambarkan oleh Tocqueville sudah menjadi moda yang kian tergerus oleh relasi-relasi  pribadi  yang  selalu  seperti  sekadar  melintas  dan  karena  itu dangkal. Dan, keterbetotan oleh  anonimitas serta semangat individualisme lebih memperdangkal lagi relasi-relasi sosial tradisionalnya (hlm. 326). 
Seperti telah dikatakan, Pak Mochtar sangat khawatir dengan gambaran kehidupan sehari-hari di  Amerika yang seolah berjalan tanpa tujuan moral yang jelas. Manusia tak lebih dari ‘animal rationale’  yang hanya mengikuti hasrat belaka. Dalam hal ini, Pak Mochtar tidak sendirian sebab kekhawatiran  serupa diungkapkan pula oleh para pemikir komunitarian  lainnya.  Alasdair  MacIntyre,  misalnya,  setuju   dengan  Nietzsche  yang menyebut manusia modern Pencerahan berjalan semata menuruti ‘will’-nya, keinginannya. Tidak ada lagi telos yang dituju, tidak ada lagi surga dan neraka yang dibayangkan oleh manusia  Abad  Pertengahan.  Di  atas  segalanya,  Pak  Mochtar  sungguh  tidak  rela  jika gambaran banalitas tersebut pada akhirnya terjadi juga di Indonesia.  
Jika tak hati-hati, masyarakat Indonesia pun bisa terjerumus ke dalam kondisi kehidupan  pahit demikian. Dan aku sungguh tak bisa memastikan apakah kehidupan keluarga yang  hingga kini pada umumnya masih sehat di Tanah Air akan sanggup mengempangnya (hlm. 326). 
Cukup    pasti    keluarga    dan    perkawinan    adalah    normativitas    yang    hendak dipertahankan  eksistensinya  oleh  kaum  komunitarian.  Hanya  dengan  tegaknya  dua lembaga ini masa  depan anak-anak sebagai pemilik masa depan bisa dijaga sedemikian rupa dari agresi keburukan  individualisme. Dalam dunia pasca-patriarkhal yang ditandai denga  feminisasi  angkatan  kerja,  nasib   anak-anak  memang  sangat  krusial.  Hal  ini diperparah  dengan  runtuhnya  praktik  negara-kesejahteraan  yang  bertugas  menyiapkan fasilitas pengasuhan anak ketika orang tua mereka bekerja. Melihat  kenyataan ini Pak Mochtar tampak gentar. 
Nahdia dan aku sama-sama menyaksikan fragmen-fragmen rapuh-kelabu dari kehidupan  banyak  orang  atau  keluarga  di  Amerika.  Itu  pada  umumnya berkaitan dengan retaknya  kehidupan keluarga dan terkikisnya arti lembaga perkawinan (hlm. 327). 
Hidup  bertahun-tahun  di  Amerika  membuatku  cukup  kerap  bersentuhan dengan   fragmen-fragmen   rapuh-kelabu   yang   tak   mudah   kucerna   dari kehidupannya,    fragmen-fragmen    yang    rata-rata    sarat        dengan    tindihan kesepian    dan      kesendirian—rangkaian        pengalaman    yang    diam-diam mengendap   seperti   bongkah-bongkah   es   yang   kumulatif   menggigilkan kesadaranku (hlm. 328). 
Penghormatan kami pada individualitas, prinsip kesetaraan, hasrat memburu kebahagiaan    berhenti   tepat    di    ambang     individualisme.    Aku        tidak menghendaki      atomisasi     dari       ketiganya.    Akan    sulit    bagiku    untuk mengutamakan individualitas, atau prinsip kesetaraan, atau hasrat mengejar kebahagiaan dengan mengorbankan keluarga atau masyarakat (hlm. 346). 
Lebih lanjut  Pak  Mochtar  mengarahkan  lensa  analisisnya  terhadap  cara  kerja kapitalisme.  Mengikuti  Bellah,  Pak  Mochtar  menunjuk  pada  teknikalisasi  dunia  yang merupakan konsekuensi dari logika internal kapitalisme sebagai biang keladi dari ‘fear and trembling’—meminjam istilah filsuf  eksistensialis Kierkegaard—manusia modern. Dunia yang    ditempati    Pak    Mochtar    adalah    dunia    yang    sedang  memudar    pesonanya (disenchantment  of  the  world)  seperti   dalam  bayangan  Weber. Profesionalitas  yang dijadikan  ukuran  prestasi  dalam  dunia  kerja  justru  telah  mengalienasi  manusia  dari kesadaran kritisnya. Oleh karena itu, Pak Mochtar dan para pemikir komunitarian lainnya menolak etika utilitarian yang berpegang pada prinsip ‘the greatest good to the greatest number’ tersebut.  Di atas prinsip utilitarian inilah kapitalisme korporartis mendudukkan legitimasi etisnya.  
Aku sependapat dengan Robert Bellah bahwa di sini juga berperan tekanan- tekanan  berlebihan pada profesionalitas dan pada prinsip kebebasan dalam kesetaraan,   serta—lagi-lagi—tarikan-tarikan  tanpa  perasaan  dari  struktur kapitalisme korporatis pada dunia di sekelilingnya (hlm. 337). 
Bellah  menulis  bahwa  kehidupan  orang  Amerika  di  abad  ke-20  pada umumnya  bergerak dalam tiga tujuan sentral, yakni kesuksesan, kebebasan, dan keadilan. Namun ketiga-tiganya diukur dalam paradigma individualisme atau semangat utilitarian (hlm. 340). 
Kaum komunitarian melihat adanya ketimpangan dalam diskursus tentang keadilan yang terlalu melebihkan konsepsi tentang hak daripada tanggung jawab. Di sini kita harus cermat membedakan antara konsepsi ‘tanggung jawab’ dan ‘kewajiban’ yang berakar pada pengandaian filosofis yang berbeda.  Tanggung jawab merupakan turunan dari konsepsi manusia  Aristotelian  sebagai  ‘zoon politikon’.  Manusia  disebut  manusia  jika  dia  aktif dalam  kehidupan  polis.  Aspek  keterlibatan  aktif  inilah  yang   dinilai  oleh  kalangan komunitarian telah sirna dari kehidupan manusia modern. Mereka mengerjakan kewajiban tetapi tidak menaruh perhatian yang cukup terhadap proses politis pembuatan kewajiban tersebut. Dengan demikian, konsepsi kewajiban yang berasal dari rumusan etika Kant ini cenderung jatuh pada positivisme hukum belaka. 
Bagi  Etzioni,  akar  permasalahan  sosial  Amerika  terletak  pada  semakin timpangnya  rasio antara peningkatan tuntutan akan hak-hak dan kebebasan terutama di sepanjang tahun 1990-an dengan kemampuan masyarakat Amrika untuk mengimbanginya dengan tanggung jawab (hlm. 341). 
Akan tetapi, Pak Mochtar menyadari bahwa analisis sosiologis dan rumusan etis yang    disodorkannya    bukanlah    ‘klaim    kesucian’,    melainkan    ‘empatiku’    terhadap permasalahan moral yang menghadap masyarakat Amerika. Cukup menarik, pernyataan Pak Mochtar ini  ternyata sedikit banyak mirip dengan pernyataan Alasdair MacIntyre ketika  menutup  tulisannya   tentang   rasionalitas-berbasis-tradisi.  Menurutnya,  “I  am suggesting, then, that the best account that can be given of why some scientific theories are superior to others presupposes the possibility of constructing  an intelligible dramatic narrative which can claim historical truth and in which such theories are the subject of succesive  episode”. 8   Dengan  ungkapan  lain,  baik  Pak  Mochtar  maupun  MacIntyre sejatinya    sedang    menerapkan    logika    Hegelian    tentang    dialektika.    Dalam perkembangannya, logika ini menyusup ke dalam analisis Marxian, termasuk eksponen Madzhab Frankfurt Erich Fromm, yang juga disebut-sebut oleh Pak Mochtar.  
Dalam rangkaian ilustrasi, pengamatan, serta bacaan kontemplatif di atas, aku  sama  sekali  tak  berniat  untuk  mengisyaratkan,  apalagi  menekankan, klaim kesucian atau kesan sebagai pemangku superioritas moral. Kartu-kartu hidupku sudah dan memang selalu terbuka. Empatiku dalam pada masyarakat Amerika sebab aku bisa melihat diriku sendiri  takkan beda dengan mereka begitu aku terpatok berdiam di tengah kondisi kehidupan  yang  sama (hlm. 344). 
Menoleh kembali kepada etika keutamaan Aristoteles berarti membuka peluang untuk mengaktualisasikan kembali nilai-nilai keagamaaan dalam ruang publik. Oleh karena itu, di dunia Barat sendiri, makna keutamaan sangat dekat dengan kesalehan relijius. Hal ini  merupakan  serangan  balik  terhadap  penafsiran  ateistik  terhadap  Pencerahan  yang sampai  paruh  pertama  abad  ke-20  masih  sangat  dominan.  Sekarang  semakin  disadari bahwa agama memainkan peran penting dalam pembentukan moralitas publik. Dikotomi keras yang menempatkan agama hanya pada ruang privat dinilai kurang relevan lagi. Bagi Pak  Mochtar,  Islam  dan  nilai-nilai  kebajikan  Aristotelian  bisa  berdampingan  demi menciptakan Arete, yaitu manusia unggul dengan karakter budi yang luhur.  
Di sini aku selalu teringat bukan hanya pada ajaran-ajaran Islam, melainkan juga  pada  pesan  inti  Aristoteles  dalam  Ethica Nicomachea.  Ada  tuntutan  untuk  senantiasa  memelihara  jiwa  dan  dalam  rangka  pemeliharaan  itu memadukan  laku  indah  dan  laku  benar.  Pada  ideal  itu  pulalah  aku  dan agaknya juga Nahdia ingin  memproyeksikan masa depan anak-anak (hlm. 344) 
Akhirnya, burung bernama Mochtar Pabottingi tiba pada waktunya untuk pulang ke sarang. Akan tetapi, momen itu tidak mudah dilewati begitu saja. Berbagai tarikan dengan sebab-musababnya  masing-masing muncul ke atas meja pertimbangan. Sekali lagi, pada paragraf-paragraf  terakhir  dari  novelnya,  Pak  Mochtar  menegaskan  posisinya  terhadap problematik moral yang menurut saya  merupakan  pandangan khas kaum komunitarian. Dengan   kembali   ke   sarang,   yaitu   ‘Indonesia  cita’,   Pak   Mochtar   mungkin   ingin menggantungkan tujuan akhir pencarian makna hidupnya. Di sanalah Mochtar kecil belajar membaca “Ini Si Didi. Si Didi sakit gigi. Ini Si Minah. Si Minah sakit salesma”, dan di sana pula Mochtar tua masih belajar membaca cakrawala, sehingga melahirkan karya yang cemerlang ini.  
Aku pulang karena tiga pertimbangan utama. Aku pulang karena terlepas dari penilaian positif Tocqueville tentang pengutamaan keluarga di Amerika, rasa gamangku tentang kehidupan keluarga yang kusaksikan di sana tak kunjung reda.  Dalam  diriku  suara  Etzioni  bergema  lebih  nyaring  daripada  suara Tocqueville...
Kedua, aku pulang karena secara intuitif aku percaya bahwa kehidupan di Tanah Air  belum dan menurut harapanku takkan terjerat pada kedalaman kapitalisme korporatis yang telah menandai Amerika, paling tidak sepanjang masa hidupku...
Dan,  ketiga,  tak  kalah  pentingnya,  aku  pulang  karena  kekuatan  afeksi membuatku  merasa sangat terpanggil untuk berbakti kepada Tanah Air dan bangsaku demi Indonesia cita. Jauh melampaui impian “to have”, Indonesia pertama  sekali  adalah  impian  “to  be”   yang  amat  sangat  mulia  untuk diperjuangkan! (hlm. 364-5) 
Penutup
Komunitarianisme adalah paham yang tidak bisa mengelak dari kritik, tetapi dalam kesempatan ini saya memilih untuk tidak membahasnya. Tugas utama saya kali ini adalah menyuguhkan  unsur-unsur komunitarianisme itu dalam bab paling bungsu dari karya Pak Mochtar Pabottinggi,  Burung-Burung Cakrawala. Tentu saja saya sangat sadar bahwa tugas ini mempunyai resiko keliru—lebih celaka lagi kalau Pak Mochtar kemudian tidak berkenan. Akan tetapi, saya yakin  sekarang bukan lagi zaman “Si Anak Hilang” atau “Si Malin Kundang”. Terima kasih! (Amin Mudzakkir) 

Endnote 

1  Disampaikan  pada  diskusi  buku  ‘Burung-Burung Cakrawala’  di  Pusat  Penelitian  Politik-LIPI,  Jakarta, Selasa, 12 Februari 2012.
2  Tercatat  sebagi  peneliti  PSDR-LIPI,  sedang  mempelajari  filsafat,  menyukai  karya-karya  sejarah,  dan sesekali membaca sastra.
3  Mochtar Pabottingi, Burung-Burung Cakrawala (Jakarta: Gramedia: 2013).
4  Gerry  van  Klinken,  “Return  of  the  sultans:  the  communitarian  turn  in  local  politics”,  dalam  Jamie  S. Davidson dan David Henley (ed.), The revival of tradition in Indonesian Politics: the deployment  of  adat from colonialism to indigenism (London/New York: Routledge, 2007).
5  Chua Beng Huat, Communitarian Politics in Asia (London/New York: Routledge, 2004).
6  John Rawls, A Theory of Justice (Cambridge: Harvard University Press, 1999 [revised edition])
7  John Christman, Social and Political Philosophy: A Contemporary Introduction (London/New York, 2002), hlm. 130-145.
8  Alasdair MacIntyre, “Epistemological Crises, Dramatic Narrative, and the Philosophy of Science”, The Monist, Vol. 60, No. 4,  1977, hlm. 470.