Kolom Sastra

Meresapi Perjalanan Intelektual Kampung

Kategori: Kolom Sastra
Ditulis oleh Wahyudi Akmaliah Muhammad Dilihat: 2231

Pengantar

Saya tak mengenal Mochtar Pabottingi secara dekat. Saya bertemu secara langsung saat ada diskusi dan pemutaran film Bersaudara Kembali dan the Act of Killings pada akhir 2012, diadakan oleh Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI di lantai 11. Jauh sebelum itu, saya lebih mengenal produk tulisan, baik artikel dan puisi-puisinya saat kuliah di strata satu, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1999-2003). Saya mengenalnya lebih baik saat membaca BBC yang disosialisasikan secara informal oleh teman-teman peneliti muda P2P-LIPI. Persoalan jarak ini memudahkan saya dapat menimbang BBC lebih leluasa. Dalam membaca BBC, saya berusaha menempatkan Mochtar Pabottingi sebagai teks yang berdiri sendiri; sebuah teks yang menjadi ‘anak kandung sejarah’ yang memiliki takdirnya sendiri. Dengan demikian, posisi Mochtar sebagai penulis, saya anggap sudah tidak ada. Saya memiliki kebebasan dalam memberikan interprestasi, mendekonstruksi, memamah, dan ataupun mencacah novel otobiograpis ini sesuai dengan latarbelakang, konteks, dan kehendak saya. 
 
Sebagai novel otobiograpis, narasi merupakan senjata utama bagi seorang penulis. Dengan kekuatan narasi, ia membangun alur cerita, menentukan tokoh, dan juga memilih diksi untuk menghidupkan kalimat. Tujuannya agar pembaca merasa terlibat dari narasi yang dituliskan. Narasi sendiri memiliki keragaman definisi. Dalam kamus Oxford English (2007), narasi, secara umum, diartikan sebagai alat untuk mengkisahkan dalam bentuk yang kontruktif, seperti dalam pidato, gambar, nyanyian, teater, video game, fiksi dan non fiksi. Narasi juga bisa dipahami sebagai satu usaha untuk mengorganisir rangkaian peristiwa ke dalam kisah, dan urgensi setiap peristiwa tersebut bisa dipahami melalui jalinan relasi yang terbentuk dalam narasi. Dengan kata lain, narasi adalah upaya menyampaikan makna dibalik setiap peristiwa (Elliot, 2005). Kaitannya dengan novel biografis, definisi narasi yang ditawarkan oleh Hinchman (1997) lebih tepat, yaitu “wacana dengan urutan waktu yang jelas, yang menghubungkan setiap peristiwa dalam rangkaian pemaknaan untuk menjelaskannya kepada pembaca. Dengan demikian, narasi tersebut menawarkan beragam pengetahuan mengenai sesuatu ataupun pengalaman seseorang terhadap sesuatu”. Selain memberikan perspektif, definisi tersebut menekankan tiga hal dalam narasi, 1) kronologi yang direpresentasikan melalui rangkaian peristiwa, 2) adanya makna yang terdapat di dalamnya, dan 3) apa yang diproduksi secara sosial tidak bisa terlepas dari audiens ataupun pembacanya.
 
Dengan menggunakan definisi narasi dan menempatkan Mochtar Pabottinggi sebagai sebuah teks, tulisan ini melakukan tinjauan buku terhadap BBC. Pertama, saya akan mendiskusikan BBC, yang terlebih dahulu memberikan pertimbangan terkait dengan tujuan penulisan otobiograpis/biograpi secara umum. Dengan cara ini, saya lantas mengurai isi BBC pada bagian ketiga. Sementara itu, bagian keempat lebih menitik beratkan pada semacam ganjalan yang saya rasakan ketika membaca BBC, baik secara teknis maupun isi buku tersebut. Tujuan bagian ini untuk menunjukkan titik retak agar dipertimbangkan untuk diperbaiki bila BBC mengalami naik cetak untuk kedua kalinya. Bagian ini sekaligus menjadi penutup, berisi ringkasan atas bahasan yang sudah ditulis.
 
Menimbang Buku Otobiograpis/Biograpi
Ada beragam alasan mengapa seseorang menuliskan/dituliskan tentang diri dan perjalanan hidupnya dalam sebuah buku, dikenal dengan otobiograpis/biograpi. Pertama, selain ingin berbagi dinamika pengalaman hidup, mengenang, dan mengapresiasi jasa hidup orang-orang disekitarnya yang membuat si penulis/tokoh menjadi “bernilai di mata publik”, tujuan menuliskan autobiograpis/biograpi, juga sebagai proses penyembuhan dalam mengatasi trauma masa lalu yang disebabkan oleh pelbagai hal. Menginsprasi dan menggerakan, dengan demikian, adalah kosa kata implisit yang ingin disampaikan mengapa sebuah karya tersebut layak dibaca publik. Walaupun  diakui, setiap pembaca memiliki pengalaman subyektif dalam memaknai sebuah buku perjalanan hidup. Subyektivitas ini didominasi dengan terlembaganya akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang dialami oleh pembaca. Di tangan si A, misalnya, sebuah buku yang dibaca bisa dianggap bagus, sementara bagi si B, buku itu mengandung kelemahan. Jika seperti ini ‘hukum massa’ akan berlaku. Bila buku otobiograpis/biograpi itu bagus, maka akan disambut hangat oleh publik. Ganjarannya, buku tersebut akan dianggap laris manis (best seller). Akan tetapi, sebelum ke tangan pembaca untuk menilai. Di balik itu, agensi, sebagai rantai distribusi, dalam hal ini bagian percetakan, pemasaran, dan promosi buku menjadi hal penting untuk dipertimbangkan. Di tangan merekalah sebuah buku bisa sampai di tangan para pembaca.
 
Kedua, upaya memenuhi selera pasar. Ada banyak tokoh-tokoh publik Indonesia dan non Indonesia yang begitu terkenal dengan beragam profesi. Kesuksesan dan popularitas yang mereka dapatkan ini mengundang keinginantahuan orang untuk mengetahui latarbelakang perjalanan hidup mereka. Rasa keingintahuan inilah yang diendus oleh para pebinis yang bergerak di dunia industri buku. Meninggalnya Steven Paul Johnson, pendiri dan CEO besutan teknologi Apel, pada 5 Oktober 2011, misalnya, mengundang para penerbit dalam dan luar negeri untuk berlomba-lomba menuliskan catatan pengalaman hidupnya terkait dengan proses  membangun industri teknologi perangkat media terbesar di Amerika Serikat. Naiknya Jokowi dan Dahlan Iskan ke pentas publik nasional beberapa tahun belakangan, yang ‘dianggap’ mewakili aspirasi masyarakat Indonesia dengan gayanya yang ‘merakyat’, dianggap pegiat industri perbukuan sebagai cerminan ‘keingintahuan publik’. Karena itu, buku-buku biograpi mengenai kedua orang tersebut berserakan di toko-toko buku dengan ragam judul. Di sini, logika keuntungan yang digunakan industri penerbitan lebih dikedepankan ketimbang pilihan rasional dan bijak mengapa sebuah buku layak diperuntukkan untuk publik Indonesia. Akibatnya, pilihan untuk mencerdaskan publik dengan buku bergizi akan tergerus seiring dengan munculnya tren terbaru yang muncul.     
 
Ketiga, penulisan otobiograpis/biograpi ditujukan untuk glorifikasi diri. Penulisan seperti ini biasanya ingin menunjukkan dua hal; 1) memperlihatkan eksistensi diri agar orang lain tahu bahwa hidupnya memang (merasa) penting dan pantas untuk diketahui oleh publik terkait dengan laku hidup yang dijalani, 2) tampaknya, memiliki tujuan politis untuk menyosialisasikan diri di tengah masyarakat jelang momen-momen pemilihan umum 2014 terkait dengan anggapan kontribusi yang telah dilakukan dalam membangun komunitas, masyarakat, bangsa, dan bahkan negara. Dua tujuan penulisan otobiograpis/biograpi semacam inilah yang makin mengemuka di Indonesia. Bahkan, dengan kekuatan finansial yang memadai, buku semacam ini perlu mengiklankan diri layaknya produk sabun mandi yang perlu digunakan sehari tiga kali. Buku Chaerul Tanjung Si Anak Singkong adalah contoh nyata dalam kategori ini.  Meskipun diakui, menuliskan catatan pengalaman melalui buku untuk glorifikasi diri adalah ‘kemewahan’ di tengah masih kuatnya budaya lisan di Indonesia. Menerbitkan buku, apalagi itu kisah pribadi, dengan demikian, lebih diperuntukkan untuk kalangan kelas terdidik. Kelebihan menerbitkan buku semacam ini di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang ‘rabun’ membaca adalah hal itu bisa menjadi gossip publik sebagai bagian dari eksistensi gaya hidup. Artinya, orang tahu bahwa si A menerbitkan buku, tetapi tidak (mau tahu) isi dalam buku tersebut. Buku si A tersebut sekedar menjadi legitimasi publik bahwa ia adalah seorang tokoh yang (dianggap) penting.
 
Ketiga kategori di atas tidak bisa diterapkan secara ketat. Dalam buku-buku otobiograpis/biograpi yang saya baca seringkali ketiga kategori tersebut saling beririsan. Dari irisan tersebut, hanya porsinya saja yang berbeda. Ada kategori pertama yang lebih dominan, sementara kategori kedua dan ketiga tidak. Begitu juga sebaliknya. Dengan narasi, alur cerita, pilihan kata, dan tokoh-tokoh yang terdapat di dalamnya dalam keseluruhan sebuah buku, sebagai pembaca, saya akan dapat relatif memahami dalam menilai irisan porsi ketiga kategori tersebut. Lantas bagaimana menempatkan buku BBC dalam ketiga kategori tersebut? Apakah sosok Mochtar Pabottingi sebagai intelektual sekaligus sastrawan yang memiliki jaringan dan reputasi internasional berusaha melakukan glorifikasi diri? Ataukah itu sebagai bentuk refleksi dinamika perjalanan hidupnya sebagai upaya berbagi sehingga akan terpetik hikmah bagi orang yang membaca? Saya akan menguraikan jawabannya melalui bahasan di bawah ini.    
 
Aku, Rumah (home), dan ‘Si Burung’
Novel otobiograpis ini terdiri dari delapan bab, dimulai dengan penggunaan kata ganti orang pertama sebagai tokoh yang berkisah, Aku. Sesekali tokoh Aku menggunakan nama Mochtar Kecil. Aku memulai mengkisahkan perjalanan hidupnya dari Desa Barebba, yang terletak sekitar tiga kilometer di sebelah Barat Bulukumba—kota pantai di ujung paling Selatan Sulawesi Selatan. Di desa yang subur, asri, dan penuh imajinasi suasana tropis inilah kecintaannya terhadap hidup dan kehidupan mulai tumbuh. Di desa itu, tepatnya di rumah panggung khas Bugis, ia pertama kali mengeja huruf alif sebelum membaca Al-Quran dan “meraba serat-serat buku dengan jari-jari kecil serta menelusuri huruf-hurufnya yang perawan”. Mochtar kecil adalah anak keempat dari delapan bersaudara. Ayahnya adalah seorang gerilyawan saat zaman Revolusi Kemerdekaan (1945-1949), sebelum menjadi pengusaha angkutan hasil bumi dari Bulukumba ke Makassar. Sementara itu, selain kerap memberikan pengajian kepada organisasi Aisyiah, sayap perhimpunan organisasi Muhammadiyah,  sang ibu menjadi perempuan tangguh yang menjaga dan meneduhkan anak-anaknya ketika sang suami sedang bergerilya.
 
Selain desa Barebba, kota Makassar menjadi ‘rumah’ kedua (tahun 1953) yang membentuk karakter sikap dan memperkuat dasar cakrawala pengetahuannya. Ini bisa dilihat dari akses buku-buku yang dibaca, mulai dari buku teks pelajaran bahasa Indonesia untuk anak Sekolah Rakyat, Bahasaku, roman klasik dari Balai Pustaka, hingga serial komik semacam Siti Gahara, Flash Gordon, Lutung Kasarung, dan lain sebagainya. Di kota ini juga (tahun 1957-1962), ia sudah mengenal dan menonton bioskop berkali-kali sejak usia 12-17 tahun, seperti film Indonesia Jenderal Kancil, Tiga Dara, Juwita, dan Wajah Seorang Lelaki; film India, seperti, Radha Krishna, Hatim Tai, Awara, dan Sujata; film Amerika Serikat, seperti the Vikings, Buccaneer, the Alamo, the longest Day, dan the Commandcheros. Tidak dipungkiri,  permainan mengadu ayam hasil pemberian sang kakek dan adu layangan dengan benang gelasan, di mana ia sangat piawai, turut memberikan pola sikap petarung dalam diri Mochtar yang berguna untuk perjalanan karir hidup selanjutnya. Ini bisa dilihat cara Mochtar memberikan porsi narasi penjelasan permainan adu layang dengan cukup detail dan ingatan yang kuat, yaitu sekitar delapan halaman (lihat, hal. 24-31).
 
Akses bacaan, konsumsi film, kemauan yang kuat, dan didukung dengan kemampuan finansial keluarga yang cukup ini memudahkannya untuk menjadi intelektual publik, yaitu  menjadi penyair muda di Makassar ketika berada di kampus Universitas Hasanuddin. Ini terlihat dari diterbitkannya beberapa cerita pendek, puisi, dan artikel di Pos Minggu Pagi, (hal.56). Hal ini kemudian mendorongnya untuk terlibat aktif dan menjadi Pembina di kelompok teater kecil di lingkungan Fakultas Sastra Unhas. Modal sosial dan kapital inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi salah satu dari enam mahasiswa Unhas yang lulus dalam perlombaaan terbuka memperoleh beasiswa tiga tahun dari PT Caltext Pacific Indonesia untuk melanjutkan studi di Yogyakarta, UGM pada tahun 1968. Di kota pelajar ini cakrawala pengetahuannya semakin bertumbuh seiring dengan makin luasnya jejaring intelektual dan kebudayaan yang dibangun serta akses buku-buku yang didapatkan. Contohnya, perkenalan secara tekstual dengan gagasan Nurcholish Majid tentang Pembaharuan Pemikiran Islam, Goenawan Muhammad tentang Keberanian dan Pengkhianatan Intelektual, pertemuan secara fisik dengan W.S Rendra, dan intelektual muslim, Mukti Ali. Dengan demikian, tiga titik transisi perjalanan kehidupan ini meluaskan dan memudahkan jalan cakrawala pengetahuan si Aku/Mochtar Kecil menuju kota Jakarta. Dari kota Jakarta ini hidup sebagai seorang maskulin dimulai; mengenal seorang perempuan secara mendalam untuk menjadi isteri, membangun bahtera rumah tangga dan melahirkan buah hati hingga bekerja keras dengan kerja-kerja akademis—dalam hal ini menerjemahkan artikel, mengajar bahasa Inggris di salah satu tempat kursusan, menjadi editor salah satu majalah, hingga menjadi peneliti LIPI—tanpa lelah layaknya petarung di ring tinju.  
 
Perjalanan narasi Aku menemukan refleksinya secara kuat ketika mendapat beasiswa S2 dan S3 di Amerika Serikat. Selama tinggal dan hidup di negeri Paman Sam selama bertahun-tahun cakrawala pengetahuan dan keluasan visi dalam memaknai diri dan yang lain serta atsmospir kehidupan memang bertambah. Namun, di sisi lain, alih-alih mengalami kegagapan budaya dalam menjalin relasi dengan orang-orang dan struktur kebudayaan Amerika Serikat dan membentuk sikap kebudayaan Amerika Serikat dalam diri si Aku, tarikan masa lalu dan ikatan apa yang disebut dengan rumah (home) sebagai tempat titik perjalanan hidupnya yang membentuk identitas kedirian sang Aku sebagai seorang muslim, bugis, dan intelektual publik Indonesia justru semakin menguat. Ini terlihat dengan cara pandangnya terhadap kebudayaan Amerika Serikat yang bersifat kritis terkait dengan prinsip hidup yang diterapkan. Sikap kritis ini juga menunjukkan bagaimana imajinasinya mengenai ‘rumah’ sebagai sesuatu yang melekat dan bagian dari urat nadi yang mengakar adalah bentuk kecintaannya terhadap Indonesia. Meskipun ia sangat tahu bahwa pada tahun pada tahun 1980-an keinginan untuk pindah menjadi warga negara adidaya sangat memungkinkan. Namun, kesempatan itu ia tampik, sambil terngiang-ngiang catatan Malin Kundang-nya Goenawan Muhammad dan Puisi Anak Hilang-nya Sitor Sitomurang.
 
Di sini, sikap hibriditas dalam diri si Aku sebagai diaspora terbentuk kuat dalam diri Mochtar Pabottinggi. Ungkapan setinggi-tingginya burung terbang, ia akan kembali ke sangkarnya, seakan melekat kuat dalam ingatan si aku dalam membangun relasinya dengan si liyan, yang membentuk dan memperkaya kapasitas kemampuan si aku. Tentu saja, ungkapan lawas ini didukung dengan kuatnya karakter Rendra yang melekat dalam ingatan si Aku terkait dengan ungkapan, “Di setiap negara ada penjara”. Konteks ucapan itu adalah Rendra pernah ditawari untuk tinggal di Amerika Serikat di tengah rejim Orde Baru yang despotik, tetapi ia tetap memilih kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan si Aku. Ia kembali ke Indonesia karena kecintaannya atas apa yang disebut dengan rumah. Rumahlah tempat ia berpijak dan kepada rumah Indonesia ia kembali untuk mengembangkan dan terlibat membangun Indonesia dengan cara dan pengetahuan yang dimiliki.
 
Selain disuguhkan dengan narasi yang elegan, kalimat yang tertata rapi, dan pengungkapan kosa kata yang khas seorang Mochtar-ian (meminjam istilah Amin Mudzakir, 2013), dalam buku setebal 386 halaman, saya, sebagai pembaca, seolah-olah terlibat dalam setiap adegan cerita yang dibangun. Ini khususnya mengenai narasi kejujuran sang penulis yang sempat tersungkur melakukan laku lepas saat ia menyelesaikan disertasinya di jurusan Politik, Universitas Hawai. Walaupun, dalam setiap tuturan novel otobiograpis ini, ia sudah berusaha keras menjaga komitmen bagaimana membangun relasi dengan perempuan dan menghargai perempuan layaknya ibu yang telah melahirkan. Cermin kejujurannya bisa dilihat dalam narasi di bawah ini:  
Aku tidak setegar Nahdia. Setelah berkali-kali berhasil lolos atau berkelit dari perangkap, setelah dalam sekian pengalaman aku tak perpancing oleh fatamorgana yang silih berganti, sekali waktu aku keserimpung juga. Seorang mahasiswi sarjana Amerika bersimpati pada disertasiku dan banyak membantuku dalam pengumpulan bahan-bahan penulisan. Dengan dialah aku tersentuh dan terjatuh. Dan, itu menorehkan luka yang sangat dalam di hati isteriku (hal. 277) 
Pada titik ini, alih-alih sebagai buku otobiograpis untuk memenuhi selera pasar dan glorifikasi diri, dalam setiap catatan lembaran narasi ini, saya disuguhkan mengenai guratan pengalaman seorang anak kampung yang bertumbuh menjadi sosok kosmopolitan yang memegang teguh nilai-nilai ‘lokal’ yang telah membentuk karakter dirinya sebagai seorang muslim-bugis dan intelektual publik. Refleksi yang diguratkan dengan ketegasan bahasa dalam tulisan ini juga menunjukkan betapa jalan hidup ini seringkali tak segaris lurus dengan angan-angan, tetapi usaha keras layaknya petarung dengan dukungan keluarga penuh seluruh memungkinkan hal itu menjadi kenyataan. Novel ini juga menyiratkan terkait dengan rambu-rambu yang mesti dilakukan untuk menapaki karir seorang akademisi, khususnya menjaga agar ‘burung’, baik secara metaforik maupun asosiasi, agar tetap  terjaga menghadapi ‘rimba globalisasi yang tak menentu’.  Selain itu, ragamnya kenyataan yang dihadapi, bervariasinya hidup yang mesti dijalani, sementara perjalanan usia tak tentu kapan akan berhenti atau semakin panjang, novel ini setidaknya bisa mempersingkat saya dalam memahami laku kehidupan dan bagaimana bernegosiasi dan membangun relasi dengan yang lain. Melalui buku ini, saya juga dapat memposisikan bagaimana dan dengan cara apa saya dapat mencintai dan merayakan Indonesia dan keindonesiaan.    
 
Penutup: Titik Retak Burung-Burung Cakrawala
Bagian ini melihat titik  retak dalam otobiograpis BBC. Dalam melakukan penilaian ini sangat subyektif, dan bahkan cenderung bias. Penilaian ini berasal dari akumulasi pengalaman hasil bacaan saya terkait dengan dunia perbukuan. Bisa jadi, apa yang saya anggap mengalami titik retak, justru dianggap sebuah kelebihan bagi orang lain yang membacanya. Setidaknya, ada tiga hal pada BBC yang mengganjal saya sebagai pembaca. Pertama, persoalan perwajahan (cover) buku. Ada ungkapan yang terkenal terkait dengan buku, “Do not judge a book by its cover”. Ungkapan ini menyiratkan bahwa menilai sebuah buku itu harus membaca isinya terlebih dahulu, tidak sekedar melihat perwajahannya. Ungkapan itu benar, tapi tak seluruhnya bisa dianggap sebagai kebenaran. Bagi saya, perwajahan buku merupakan persoalan yang sangat krusial.  Itu merupakan salah satu pintu masuk utama menarik perhatian pembaca agar ‘tergoda’ untuk melihat, membuka, dan kemudian membeli buku tersebut. Apalagi bila penulisnya dihadapkan pada pembaca-pembaca muda yang secara umur dan konteks pengetahuan yang dikonsumsi jauh berbeda. Wajah depan BBC berwarna dasar jingga. Di tengah-tengahnya ada lima burung yang sedang melakukan perjalanan dalam suasana senja. Di bawahnya ada garis warna biru yang menutupi sepertiga wajah BBC yang menandakan laut. Wajah buku itu seakan menegaskan isi buku tersebut, yaitu orang-orang yang melakukan pengembaraan, sedang dalam  perjalanan menuju pulang di tengah samudera luas. Dengan sentuhan seni dan perpaduan warna yang sederhana, BBC sekilas terlihat meneduhkan bagi orang yang melihat. Namun, wajah buku BBC kurang memiliki visualisasi karakter yang kuat untuk menarik keingintahuan saya mengenal dan mengetahuinya lebih mendalam. Pilihan komentar apresiatif (endorsement) dari Riri Reza, seorang sinematograpi, meskipun itu ‘menjual’, juga serasa tidak pas dalam buku yang berjenis sastra ini. Ada baiknya dalam wajah buku tersebut ditaruh komentar apresiatif Seno Gumira Ajidarma, yang sudah terdapat dalam lembaran awal dalam buku ini. Ini karena figur Seno, sebagai sastrawan kawakan, dapat menguatkan dan menambahkan daya tarik keingintahuan pembaca.
 
Kedua, tidak adanya kata pengantar dan biograpi singkat. Lazimnya sebuah buku, entah apapun itu jenisnya, dua hal tersebut selalu ada menyertai untuk membantu para pembaca mengetahui lebih jauh untuk apa buku ini ditulis dan siapa yang menuliskan buku tersebut. Dalam BBC, saya tidak menemukan kedua hal tersebut. Hanya ada satu kalimat, yang barangkali sebagai kata pengantar untuk membantu memberikan imajinasi untuk pembaca,  “sebuah kisah sejati tentang rumah, karakter, buku-buku, dan cakrawala, yang merayakan Indonesia”. Padahal, memberikan kata pengantar 1-2 halaman akan membantu memberikan kerangka dan peta petunjuk bagi pembaca terkait dengan hutan teks belantara pengetahuan yang akan dijelajahi. Di sisi lain, selain memberikan gambaran terkait dengan karir kepenulisan dan perjalanan akademis penulisnya, adanya biograpi singkat juga membantu pembaca untuk mengetahui sejauhmana jaringan yang terbangun oleh si penulis dan posisinya di tengah-tengah sastrawan dan akademisi yang diketahui publik Indonesia. Diakui, dengan membaca keseluruhan BBC, pembaca akan mengetahui hal tersebut. Namun, ketiadaan dua hal tersebut memungkinkan BBC memiliki keterbatasan jangkauan publik lebih luas, kecuali mereka yang sudah mengenal terlebih dahulu sepak terjang Mochtar Pabottingi dan jejaringnya di sosial media. Memang, diterbitkannya BBC oleh penerbit raksasa semacam Gramedia Pustaka Utama, dengan dukungan finansial dan distribusi jaringan yang kuat, memudahkan buku tersebut dapat bertebaran di toko-toko buku Gramedia. Walaupun dalam tingkat sosialisasi hingga sampai ke tangan pembaca itu perlu dilakukan riset kecil-kecilan. Salah satu caranya adalah mengetahui jumlah BBC yang terjual di toko-toko buku, bukan melalui tangan ke tangan.  
 
Ketiga, antara novel otobiograpis dan studi pemikiran. Selain berbeda, dua jenis buku tersebut memiliki pangsa pasarnya sendiri. Sebelum membaca BBC, saya memiliki harapan yang tinggi akan mendapatkan suguhan ciamik mengenai narasi personal pengalaman Mochtar Pabottingi sebagai intelektual sekaligus sastrawan dalam menapaki jejak-jejak dan menggapai cakrawala ilmu, baik saat menjadi anak kampung di Barebba, mahasiswa di Yogyakarta, dan intelektual di Jakarta dan Amerika Serikat. Saya memang merasakan dan seakan terlibat dalam pengalaman tersebut. Tetapi, di tengah itu semua, ada sesuatu yang mengganjal kenikmatan saya membaca, yaitu jelontoran penggalan kutipan-kutipan pemikiran mengenai tokoh ilmu sosial dan politik serta penjelasan mengenai disertasi dengan analisisnya (hal. 305-311). Kutipan, sanggahan, dan ataupun penjelasan akademis itu penting untuk menguatkan argumentasi yang ingin disampaikan. Apalagi kalau jenis buku yang ingin ditulis adalah semacam buku esai ataupun akademisi diperuntukkan untuk kalangan tertentu. Tetapi, bila dikupas apa adanya dengan menyebutkan sumber referensi dan ditambah dengan catatan kaki (lihat, hal. 377-386) tanpa dikupas dengan strategi narasi yang halus dan disesuaikan dengan jalan cerita, hal itu akan memudahkan pembaca menangkap pesan yang ingin disampaikan dari penulis dengan narasi yang mengalir dan tanpa unsur dipaksakan. Di sini, alangkah lebih baik, bila BBC dipenggal menjadi dua buku; 1) mengkhususkan lebih pada dinamika pengalaman dan 2) lebih menitikberatkan dengan artikel dan esai terkait dengan sejumlah pemikiran tokoh sosial dan politik kaitannya dengan studi Indonesia. Dengan demikian, sebagai pembaca, saya akan benar-benar siap untuk menikmatinya.
 
Terlepas dari catatan titik retak di atas, buku ini memiliki kekuatan menginspirasi dan menggerakan untuk saya, khususnya laku kerja keras, komitmen, dan sikap petarung dalam menghadapi situasi yang tak mudah, baik sebagai seorang ayah, suami, dan juga intelektual, meskipun minus sastrawan. (Wahyudi Akmaliah Muhammad) 

Penulis adalah Kandidat Peneliti PMB-LIPI