Politik Nasional

Profil Ustadz Sambo, “Guru Spiritual” Prabowo: Jalan Panjang Menuju Kursi Presiden

Kategori: Politik Nasional
Ditulis oleh Wahyudi Akmaliah Dilihat: 128

Artikel pendek ini menelisik profil Ustadz Sambo dan kiprahnya di pentas politik. Sosok ini menarik untuk dilihat jika diletakkan dalam konteks peta politik Indonesia yang dikaitkan dengan peran agama  pasca Pilpres 2014 dan khususnya, Pilkada DKI 2017.

Sosok Sambo akhir-akhir ini sering muncul di media massa cetak, juga online, terkait aksi-aksi politik jalanan khususnya sebagai ketua “Presidium 212” ketika membela media moghul Harry Tanoe, dengan mengadukan “krimininalisasi” atas kasus yang menimpanya kepada Komnas HAM.   Pada 2013, Ansufri Idris Sambo memproklamirkan dirinya sebagai calon Presiden Republik Indonesia melalui jalur independen. Namun, pernyataan tersebut tenggelam di tengah kemunculan sosok-sosok lainnya, mulai dari Aburizal Bakrie, Prabowo, Mahfud MD, Wiranto, Jusuf Kalla, Hatta Rajasa, dan Joko Widodo di tengah berita media massa cetak dan online. Meskipun saat itu Sambo mendapatkan dukungan dari Muhammad Arifin Ilham dan Mayjen TNI (Purn) Agus Gunaedi Pribadi (Mantan Pangdam Kodam II Sriwijaya), tetapi pernyataan politiknya kerap dianggap sebagai lelucon.

Alasan utamanya mencalonkan menjadi presiden, sebagaimana dapat dilihat dalam akun youtube nya pada 28 Maret 2013 adalah “...karena melihat fenomena bangsa kita saja, ada keterpanggilan begitu, dimana di negeri kita kok dari dulu sejak merdeka sampai sekarang pemimpin sudah berganti berkali-kali, bahkan lebih dari lima kali, awalnya yang kita dambakan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang reformer, yang juga akan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, ternyata setelah reformasi pun tidak demikian, kemiskinan masih di mana-mana, kebodohan, orang-orang yang lapar masih ada, bencana dan lain sebagainya”.[i]

Kepercayaan dirinya untuk mencalonkan diri sebagai presiden ini tampaknya didukung oleh posisinya sebagai anggota pengajian majelis taklim di samping keberadaan murid-muridnya di pondok pesantren. Meskipun bukan berasal dari ekonomi yang mapan dan tidak memiliki dukungan dari partai politik, Sambo memiliki jamaah yang semakin hari semakin banyak. Rekognisi sosial diperoleh setelah meningkatnya frekuensi mengisi pengajian di majelis-majelis taklim di wilayah Jabodetabek.  Kapasitas memberi ceramah agama ini diperolehnya saat ia nyantri selama dua tahun di Pondok Pesantren Ulil Albab, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, bersamaan dengan statusnya sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak tahun 1989. Alih-alih meneruskan profesinya sebagai pengajar Matematika, ia kemudian mengkhidmatkan diri sebagai penceramah agam Islam.

Berbekal kemampuannya dalam berceramah agama ini, Sambo lalu menimba ilmu Bahasa Arab dan ilmu Agama Islam pada tahun 1998 di Yordania. Selama di Yordania, menurut penuturan Taufik Ridho (almarhum), Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang saat itu bertugas dua tahun sebagai wartawan, Sambo menjadi guru spiritual agama Islam Prabowo, saat menjadi Danjen Kopassus di Yordania (www.hidayatullah.com, 24 Mei 2014). Setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1999 dan kembali ke Indonesia pada tahun 2005 Sambo mempopulerkan pelatihan shalat khusu’. Ia kemudian mendirikan pondok pesantren “Hilal” tahun 2008 untuk mencetak kader ustadz dan imam masjid. Kemudian pada tahun 2010, ia bercita-cita menjadi Presiden Republik Indonesia. Sejak tahun 2011-2012 ia benar-benar mempersiapkan diri untuk menjadi Presiden (Akun youtube Ustadz sambo, 2013). Laki-laki kelahiran kampung Runding, Kota Subulussalam, Nangroe Aceh Darussalam 20 November 1970 ini berupaya meraih cita-citanya sambil terus mengisi sesi-sesi ceramah di berbagai majelis taklim dan pelatihan shalat khusu’ yang diadakan pelbagai instansi, baik swasta maupun pemerintah.

Namanya mencuat saat Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa mendeklarasikan diri dalam Pilpres 2014 di Rumah Polonia (Tirto.id, 19 April 2017). Dalam konteks Pilkada DKI 2017, namanya  tidak muncul meskipun ada rangkaian demonstrasi yang kontroversial menuntut pemerintah memenjarakan Ahok dengan tuduhan penistaan agama. Tapi nama Sambo hadir saat menjadi “Ketua Pelaksana Tamasya Al-Maidah” menjelang hari pencoblosan Pilkada DKI putaran kedua, 19 Mei 2017.

Ketika kemudian para aktivis aksi-aksi “212” dan “411” satu persatu terkena kasus hukum, tidak ada lagi tokoh yang dianggap berpengaruh dalam panggung publik nasional. Apalagi, setelah simbol “Aksi Bela Islam” yang disematkan kepada Rizieq Shihab terkena pelbagai kasus hukum yang membuatnya kemudian melarikan diri ke Arab Saudi, Malaysia, dan kini Yaman. Kondisi ini menciptakan kekosongan sosok “elite agama” pasca “Aksi 212” dan “411”. Kekosongan ini tampaknya diisi Sambo dengan menampilkan diri sebagai “ketua Presidum Alumni 212”. Meskipun, ada lagi sosok-sosok seperti Bachtiar Nasir, lalu pendirian “Partai Syariah 212” yang digagas oleh Ma'ruf Halimuddin.

Jika dibandingkan dengan Rizieq Shihab, ada dua kelebihan yang dimiliki Sambo. Pertama, tidak memiliki latar belakang kasus hukum terkait dengan aksi-aksi intoleransi. Maka, klaimnya, aksi-aksi politik jalanannya bukanlah bagian dari politik praktis, sebagaimana diungkapkannya ketika menjadi Ketua Pelaksana “Tamasya Al-Maidah” dan aksi demonstrasinya dalam membela Harry Tanoe yang terkena kasus ancaman pesan pendek sebagai ketua “Presidium Alumni 212”. Kedua, tampilan sebagai orang yang sederhana dan berpihak. Tempat tinggal Sambo sederhana, masih mengontrak rumah dan tidak memiliki mobil pribadi, tidak seperti mobil yang dimiliki Rizieq Shihab. Ini menguatkan ucapan-ucapan keberpihakannya selama ini ketika melakukan aksi demonstrasi.

Meskipun diwarnai kontroversi mengenai nilai-nilai teladan yang disampaikan lewat aksi-aski politiknya, membangun “karir politik” seperti yang dilakukan oleh Rizieq tidak mudah. Dalam ruang demokrasi Indonesia pasca Orde Baru, menguatnya “populisme kanan” dengan mengklaim sebagai “mewakili umat Islam”, sebagaimana disitir oleh berbagai media massa dalam dan luar negeri yang ditandai dengan dua demonstrasi besar  yaitu “Aksi 411”, “212” dan di tengah kekosongan simbol representasi “imam besar”, memungkinkan Sambo menempuh cara popularitas seperti Rizieq, dengan cepat.

Meskipun, tanpa dukungan ekonomi, selain dinamika kekuasaan dalam tubuh partai politik dan elektabilitasnya, sulit untuk mencalonkan diri dalam bursa Presiden 2019. Mungkin pula Sambo dapat memberi “warna lain” dengan perannya menjelang perhelatan Presiden 2019, karena memiliki kedekatan dengan Prabowo, Ketua Umum Partai Gerindra, sehingga berpotensi menggantikan pengauh Rizieq Shihab.

Kekalahan Ahok dalam Pilkada Jakarta 2017 kemarin membuktikan bahwa prestasi  dengan kata kunci “kerja” untuk menarik hati masyarakat ternyata tidak cukup di tengah “populisme Islam” yang tampaknya menguat. Apalagi, jika hal ini diletakkan dalam konteks “arena” kompetisi politik elektoral, di mana para avonturir dan predator politik tampil karena ingin mengakses sumber-sumber ekonomi, bukannya menjaga ideologi bangsa di satu sisi, sementara di sisi lain, ada potensi penetrasi pasar yang berpihak kepada mereka yang menang. (Wahyudi Akmaliah/Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI)    

Endnote:

[i] Pidato Politik dan Pencalonan Ustad Sambo Sebagai Presiden RI 2014, https://www.youtube.com/watch?v=c3vXPhBsnfw, 28 Maret 2013.