Timur Tengah

Mengamati Pola Hubungan Iran-AS

Kategori: Middle East Affairs
Ditulis oleh Sandy Nur Ikfal Raharjo Dilihat: 2158
Meningkatnya ketegangan hubungan Iran-Amerika Serikat (AS) menandai dinamika politik internasional di awal tahun 2012. Pamer kekuatan militer dan saling membalas ancaman telah meresahkan dunia akan kemungkinan terjadinya perang, yang langsung berdampak pada naiknya harga minyak mentah di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih dari krisis finansial global dan krisis utang Eropa. Dampak yang lebih mengerikan akan terjadi jika perang tak bisa dihindarkan karena bukan hanya untuk Iran dan AS, namun untuk dunia secara keseluruhan. Lalu, seberapa besar kemungkinannya? Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengamati pola hubungan Iran-AS selama ini untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang.
 
Hubungan Iran-AS Masa Lalu
Iran dan AS pernah menjalin hubungan mesra pada periode 1941-1979 pada saat Iran di bawah Dinasti Pahlevi. Pada masa inilah, hubungan diplomatik secara resmi dibuka pada tahun 1944. AS pulalah yang membantu Shah Mohammad Reza Pahlevi untuk berkuasa penuh di Iran melalui kudeta terhadap Perdana Menteri Mohammad Mossadeq pada tahun 1953 melalui skenario CIA. Dinasti Pahlevi kemudian membangun Iran dengan gaya kebarat-baratan dimana hal ini memunculkan kritik dari kaum ulama Shiah, yang kemudian diredam dengan mengasingkan pemimpin utamanya, Ayatullah Ruhollah Khomeini ke Irak pada tahun 1964.

Hubungan mesra ini kemudian berakhir yang ditandai dengan Revolusi Iran 1979, di mana kaum fundamentalis pimpinan Khomeini merebut posisi kekuasaan. Akibatnya, hubungan Iran-AS semakin memburuk ketika terjadi Perang Teluk I antara Irak dengan Iran, dimana AS dianggap mengizinkan Saddam Husein untuk menyerang Iran dan mengawali perang dari tahun 1980 hingga 1988. Memburuknya hubungan Iran-AS juga ditandai dengan pemberlakuan embargo oleh AS, yang bertahan dari masa Bill Clinton tahun 1995 hingga sekarang. Walaupun hubungan kedua negara sejak Revolusi 1979 hingga akhir tahun 1990-an ditandai dengan banyak ketegangan, namun tidak pernah terjadi insiden bersenjata besar-besaran dalam waktu lama yang bisa disebut sebagai perang.
 
Hubungan Iran-AS Masa Kini
Ketika memasuki abad 21, hubungan kedua negara juga semakin memburuk. Kelompok ulama yang kini dipimpin Ali Khamenei masih belum lupa atas tiga dosa utama yang disematkan ke Amerika, yaitu kudeta 1953, diktator boneka AS di bawah Shah Reza Pahlevi, dan Perang Irak-Iran 1980-an. Isu terkini yang mendominasi hubungan kedua negara adalah pengembangan nuklir Iran dimana AS khawatir bahwa Iran akan mengembangkan senjata nuklir yang bisa mengancam negara-negara sekitarnya khususnya terhadap Israel yang menjadi sekutu utama AS. Mahmud Ahmadinejad, presiden Iran tahun 2005 hingga sekarang, bahkan pernah mengatakan ingin menghapus Israel dari peta dunia. Selain itu, AS juga menuduh Iran menyokong kelompok-kelompok militan di kawasan Timur Tengah yang melawan Amerika. Salah satu peristiwa yang menyita perhatian adalah Perang Hizbullah-Israel tahun 2006, di mana AS membantu persenjataan Israel, sementara Iran disinyalir menyuplai rudal-rudal untuk Hizbullah.

Hubungan yang buruk itu tergambar dari pernyataan Presiden AS George W. Bush pada tahun 2002 yang memasukkan Iran ke dalam The Axis of Evils bersama dengan Irak dan Korea Utara. Persepsi Iran sebagai ancaman utama bagi keamanan nasional AS ini masih dipakai oleh pemerintahan Obama, sehingga tak heran apabila sejak akhir tahun 2011 kedua negara kembali terlibat ketegangan terkait isu nuklir Iran.

Walaupun sejak tahun 2000-an memburuknya hubungan kedua negara tampak semakin nyata, tetapi lagi-lagi AS tidak pernah menyerang wilayah Iran, demikian pula Iran tidak menyerang obyek vital AS maupun Israel di kawasan Timur Tengah. Bahkan AS lebih memilih menginvasi Afghanistan dan Irak daripada Iran.

Hubungan Iran-AS Masa Depan: Sebuah Prediksi
Dengan mengamati dinamika hubungan kedua negara diatas, ada keengganan dari kedua pihak untuk bergerak lebih jauh dari sekedar perang kata-kata menuju perang di medan pertempuran yang sesungguhnya. Keengganan ini sangat mungkin didasari pada kalkulasi rasional terhadap harga yang harus mereka bayar sebagai dampak perang.

Potensi dampak perang bisa ditelusuri dari posisi Iran dan AS dalam percaturan ekonomi politik dunia. Pada sisi Iran, negara yang menduduki tanah Persia ini memiliki posisi yang strategis dalam geopolitik Timur Tengah. Kedekatan Iran dengan Hizbullah di Lebanon menjadi ancaman tersendiri bagi AS dan Israel karena jika Iran diserang, maka Hizbullah yang berbasis di Libanon Selatan kemungkinan tak segan menyerang Israel yang berbatasan langsung dengannya. Bahkan tidak mungkin negara-negara Timur Tengah lain yang kini banyak dikuasai kelompok Islam pasca Revolusi Arab juga akan turut serta, sehingga menciptakan Timur Tengah yang semakin rumit dan mengganggu kepentingan negara-negara besar di kawasan ini. Secara ekonomi, Iran merupakan negara pemasok minyak terbesar kedua di OPEC, dengan negara tujuan utamanya adalah China, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa. Jika ekspor minyak ini terganggu, maka negara-negara di atas akan mengalami krisis energi, padahal China bersama-sama dengan negara Asia Timur lainnya menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dunia pasca krisis finansial 2008, yang masih melanda AS dan Uni Eropa.

Sementara itu, dari sisi AS, hingga kini pasar domestiknya masih menjadi penyerap terbesar barang-barang produksi dari seluruh dunia. Krisis ekonomi yang masih berlangsung akan semakin parah apabila AS harus menanggung biaya perang yang mahal dari anggaran negara. Daya beli masyarakat AS akan semakin menurun dan dapat berujung pada menurunnya permintaan impor. Ekonomi AS akan makin merosot yang segera diikuti oleh negara-negara lainnya di dunia yang masih sangat bergantung pada AS, baik pada sisi finansial maupun sisi pedagangan. Hal ini akan semakin parah apabila AS mengajak sekutu-sekutunya di NATO yang juga berasal dari Uni Eropa untuk turut serta, padahal krisis utang Eropa masih belum terselesaikan sepenuhnya.

Berdasarkan kalkulasi di atas, penulis memprediksi bahwa perang yang saat ini dikhawatirkan oleh dunia internasional tidak akan terjadi, setidaknya hingga masa pemerintahan Obama berakhir pada tahun 2012. Namun demikian, insiden bersenjata masih mungkin terjadi, tetapi tidak akan berskala besar dan masif. Prediksi ini akan runtuh jika Iran secara irasional menyerang Israel dengan roket jarak jauhnya, sehingga membuat kelompok Lobi Yahudi di Parlemen AS menekan pemerintahan Obama untuk melakukan pembalasan. (Sandy Nur Ikfal Raharjo)