Sosok

Tentang Nabil dan Mas Asvi

Kategori: Sosok
Ditulis oleh Septi Satriani Dilihat: 2818

Beberapa waktu yang lalu mailist Pusat Penelitian Politik LIPI diwarnai oleh membanjirnya ucapan selamat kepada peneliti senior ASVI WARMAN ADAM atas penghargaan yang diterimanya. Mas Asvi panggilan akrabnya telah menerima Nabil Award sebuah penghargaan bagi mereka-mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan pembentukan “nation building” Indonesia. Tulisan ini merupakan liputan khusus tim website P2P LIPI mengenai kiprah Mas Asvi di dunia sejarah dan penghargaan tersebut.

Lahir di Bukittinggi 8 Oktober 1954, Asvi Warman Adam menyelesaikan Sarjana Muda Sastra Perancis di UGM Yogyakarta pada tahun 1977 dan Sarjana Sastra Perancis UI pada tahun 1980. Gelar doktor diraih Mas Asvi di EHESS (Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales) Paris pada tahun 1990. Beristrikan seorang perempuan Minang Nuzli Hayati, Mas Asvi dikaruniai seorang putri  bernama Tessi Fathia Adam. Kecintaannya pada sejarah berakar dari kekagumannya pada seorang guru sejarah SMP Xaverius Bukittinggi yang mampu menyampaikan pelajaran tersebut secara menarik. Sebelum bergabung dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Mas Asvi pernah bekerja sebagai wartawan di Majalah Sportif. Tenggat waktu yang begitu ketat dalam dunia seorang jurnalis membawa keuntungan tersendiri bagi Mas Asvi hingga tidak mengherankan berbagai peristiwa yang ada  cepat diresponya ke dalam berbagai tulisan dia yang tersebar di media massa-media massa di dalam dan luar negeri. Berikut petikan wawancara dengan Mas Asvi beberapa waktu lalu di Ruang 11.08 Pusat Penelitian Politik LIPI.

Mengapa Mas Asvi perlu untuk meluruskan sejarah?

Sejak tahun 1965 sejarah itu hanya memiliki versi tunggal dan muncul kesempatan untuk melakukan revisi setelah tahun 1998. Ada gugatan dari korban 1965 untuk meluruskan sejarah.  Berangkat dari keprihatinan saya terhadap para korban maka saya ikut bersama mereka untuk meluruskan sejarah melalui kurikulum pendidikan yang dahulu tidak pernah diajarkan atau bahkan haram diberikan di bangku sekolah. Dahulu ada hal-hal yang tidak boleh diketahui pada jaman Soeharto menemukan kesempatan untuk direvisi pada setelah 1998. Maka saya berpikir pentingnya untuk meluruskan sejarah. Memang pelurusan ini bisa dibilang tidak terlalu ilmiah tetapi bagi para korban menimbulkan semacam harapan atau healing (obat) bagi para korban yang tidak bisa berbuat apa-apa atau tidak bisa menyuarakan pendapat mereka. Saat inilah mereka diberi kesempatan untuk bersuara dan menyampaikan penderitaan mereka.

Apa pentingya meluruskan sejarah bagi Mas Asvi jika kita lihat Mas Asvi tidak memiliki latar belakang sebagai korban?

Saya merasa trenyuh dengan satu kelompok yang pada tahun 1998 baru saya pelajari yang sebetulnya tidak jelas bersalah dalam peristiwa tahun 1965. Seharusnya jika peristiwa 65 itu dianggap kudeta seyogyanya orang yang ikut makar itu yang diadili. Mengapa semua orang harus bertanggung jawab sedangkan mereka tidak ikut memberontak. Kita tahu bahwa pemberontakan di masa lampau tidak diberi sanksi sedemikian rupa seperti PRRI Permesta dan lain-lain tidak ada stigma bagi mereka yang ayahnya terlibat peristiwa tersebut, tidak ada larangan untuk sekolah maupun menjadi pegawai negeri. Stigma itu muncul baru kemudian ketika peristiwa G30S. Itu menurut saya sangat tidak adil dan sangat tidak manusiawi.

Apakah hal inilah yang membuat Mas Asvi merasa perlu meluruskan sejarah yang terkait persoalan peristiwa 65 karena memakan korban tidak saja dalam satu generasi padahal peristiwa sejarah yang mungkin membutuhkan pelurusan tidak hanya peristiwa ini?

Sebenarnya fokus pelurusan sejarah tidak hanya pada peristiwa ini tetapi saya awali dari peristiwa ini karena bagi saya ini merupakan peristiwa yang sangat penting, korbannya sangat banyak setengah juta orang terbunuh dan kemudian jutaan orang kemudian ditangkap dan ditahan kemudian anaknya mendapat stigma. Korbannya sangat banyak karena dalam sejarah Indonesia peristiwa 65 ini yang memakan korban paling banyak. Saya juga memperhatikan keluarga Tionghoa yang menurut hemat saya sejak tahun 1965 mengalami diskriminasi meskipun sebelumnya mereka sudah mengalami hal yang sama. Tetapi setelah 1965 lebih lagi karena mereka tidak boleh mempertunjukkan ritual mereka, kebudayaan mereka serta disuruh dipaksa untuk mengganti nama yang berarti mengganti identitas mereka sendiri. Ini sangat berat. Belum lagi diskriminasi dalam bidang pendidikan ada semacam quota bagi orang Tionghoa untuk masuk perguruan tinggi negeri. Nah ini menurut hemat harus diselesaikan secara dini supaya persoalan bangsa ini bisa diatasi dengan baik karena saya beranggapan selama diskriminasi terhadap orang Tionghoa ini tidak dihentikan kita tidak bisa juga meminta kepada mereka untuk berpartisipasi lebih besar untuk bangsa Indonesia. Berikanlah hak kepada orang Tionghoa sepenuhnya dan tagih kewajiban mereka untuk berbakti kepada Indonesia. Itu juga menurut hemat saya adalah salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan bangsa termasuk persoalan 65 maupun persoalan orang-orang Tionghoa. Saya tidak mengerti persoalan mengenai  kesenjangan ekonomi itu mungkin orang lain yang bisa bicara dan mengatasi tapi dari segi kultural stigma terhadap orang-orang 65 dan orang-orang Tionghoa itu harus dihilangkan.

Apakah ini yang membuat Mas Asvi begitu getol meluruskan sejarah 65?

Korban peristiwa 65 tidak saja menimpa dua generasi tetapi generasi-generasi setelahnya yang hingga kini masih dilekati oleh stigma tersebut. Dan itu perlunya pelurusan sejarah menurut hemat saya. Barusan saya mendapat sebuah buku, ini seorang kapten kapal Gita Ardjakusuma seorang lulusan akademi angkatan laut tetapi karirnya hanya sampai kapten karena bapak dia adalah seorang letnan kolonel yang pada tahun 65 tanggal 1 Oktober ditugaskan menjemput Soebandrio dari Medan ke Jakarta Halim Perdana Kusuma. Hanya karena bapak dia yang membawa pesawat tersebut. Anak yang secara akademis menjadi lulusan terbaik angkatan laut dan berprestasi serta kelak memimpin kapal Pinisi Nusantara hanya berhenti sampai kapten. Dan kemudian disuruh keluar. Ini menggambarkan betapa dahsyatnya peristiwa 65 hanya karena dia kebetulan anak dari seorang ayah yang menerbangkan pesawat menjemput Soebandrio, karirnya harus terhenti padahal dia seorang yang berprestasi secara akademis merupakan lulusan terbaik.

Jalan yang Mas Asvi tempuh untuk meluruskan sejarah selain melalui tulisan juga melalui jalur apa?

Selain membuat tulisan dan memoar juga membuat semacam film dokumenter, pembuatan program di televisi tentang sejarah masa lalu seperti yang dilakukan oleh MetroTV dan TVOne serta TVRI, ini menurut hemat saya perlu dilakukan terus menerus karena manipulasi sejarah itu dilakukan oleh Orde Baru selama sekian tahun (32 tahun) dan untuk meluruskan hal tersebut butuh waktu yang tidak sedikit.

Apa arti sejarah bagi Mas Asvi?

Sejarah artinya sesuatu yang terjadi pada masa lampau dan bisa terulang lagi hari ini dan pada masa yang akan datang. Kita bisa belajar dari sana, kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang terjadi pada masa silam tersebut dan kita bisa memetik pelajaran dari sana dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama sekarang. Menurut saya itu yang sangat penting belajar dari kesalahan masa lampau sehingga bisa kita perbaiki kesalahan itu sekarang. Dan yang kedua berjalan ke depan tanpa beban sejarah tanpa memikul stigma diskriminasi dan segalanya. Ini menurut saya baik bagi bangsa ini dalam melangkah ke depan. Jika beban sejarah dihilangkan.

Jika mendasarkan sejarah seperti yang tadi Mas Asvi tuturkan, berarti di sini sejarah itu tidak berjalan pada ruang yang hampa dan bisa’dimaknai’ ataupun ‘dimanipuasi’ oleh penguasa?

Iya jelas bahwa sejarah G30S dimanipulasi oleh rejim yang berkuasa untuk menjadi alat pemukul politik terutama jika ada orang yang kritis terhadap pemerintah, Mereka  dengan gampang dicap PKI. Kemudian yang kedua itu juga bisa digunakan untuk kepentingan praktis pembangunan seperti mengambil tanah dengan harga murah dan jika yang diambil tanahnya menolah maka akan dicap sebagai PKI dan anti pembangunan, anti pancasila dan segala macam. Sejarah dimanipulasi untuk kepentingan politik sebagai alat legitimasi politik orang yang berkuasa dan sebagai alat pukul kepada orang yang kritis dan terakhir untuk kebutuhan praktis seperti justifikasi untuk menggusur dan mengambil tanah orang dengan sejarah. Dan ini terjadi di mana-mana seperti di Bojong Gede Jawa Barat, penduduk yang tidak mau tanahnya dipakai dicap sebagai PKI. Padahal ini tidak ada hubungannya.

Dalam perjalanan melakukan pelurusan sejarah ini tentulah banyak resiko yang dihadapi oleh Mas Asvi. Bagaimana pandangan dan pendapat keluarga pada profesi Mas Asvi tersebut?

Tentunya ada resiko yang harus diambil dan setiap keluarga wajar tentunya merasa takut, merasa kuatir ya tapi mereka juga tetap mendukung saya karena upaya saya ini betul tidak untuk kepentingan tertentu, untuk lillahi ta’ala memang untuk mengungkapkan sesuatu dan dengan ini tidak punya kepentingan untuk partai atau tidak punya kepentingan untuk lain-lain. Dukungan dari keluarga tetap ada sungguhpun mereka juga kuatir dan takut seperti ketika saya didemo di kantor LIPI sendiri.

Apakah keluarga pernah mempertanyakan mengapa Mas Asvi memilih meluruskan salah satunya sejarah tentang peristiwa 65 yang lekat dengan komunis?

Saya bilang saya juga membela orang-orang Islam yang dijadikan kambing hitam seperti kasus Talangsari, kasus Tanjungpriok, saya juga prihatin dan menulis juga tentang mereka tentang Talangsari bahkan saya di dalam beberapa kesempatan selalu mengusulkan pengusutan kembali kasus Talangsari itu walaupun itu menyangkut nama Hendropriyono misalnya, bagi saya tidak persoalan karena ini kasus yang menimpa umat Islam yang dijadikan sasaran dengan catatan golongan Islam garis keras. Tapi bagi saya mereka dikorbankan pada saat itu. Jadi bukan hanya PKI dan Tionghoa tetapi juga kalangan Islam. Bahkan saya juga melihat kita anti terorisme tetapi juga jangan menyamaratakan pesantren dengan teroris dan sebagainya.

Namun dari sekian usaha yang dilakukan oleh Mas Asvi dalam persoalan pelurusan sejarah kesan yang ditangkap Mas Asvi sangat getol memperjuangkan pelurusan sejarah yang terkait dengan peristiwa G30S?

Ya saya pikir itu peristiwa yang sangat penting menurut hemat saya, tahun 65 merupakan watersheet batas jaman pembeda antara masa sebelum 65 dan setelah 65 yang menjadi berubah seketika baik ekonomi, politik dalam negeri, luar negeri, kebudayaan dan lain-lain. Masa ini merupakan tonggak sejarah yang sangat penting sama pentingnya dengan tahun 45 ketika kita memutuskan untuk merdeka dari kaum penjajah. Tahun ini juga menandai terjadinya perubahan secara serentak dalam bidang ekonomi, politik dan kebudayaan. Jadi itu masa-masa yang menurut hemat kami perlu diperhatikan oleh sejarawan. Bukan hanya masa kolonial saja. Pada masa orde baru sebagian sejarawan kita karena faktor takut mengkritik pemerintah memilih mengkaji masa penjajahan Belanda dan kurang memperdulikan sejarah yang kontemporer atau setelah Indonesia merdeka.

Dalam beberapa referensi yang saya baca memang ada beberapa kejadian yang mempengaruhi hidup Mas Asvi untuk terjun sebagai sejarahwan. Namun kapan titik awal dalam hidup Mas Asvi hingga Mas Asvi merasa inilah hidup saya, sejarah adalah pilihan hidup saya?

Bagi saya pengalaman sebagai wartawan Sportif yang membuat saya suka menulis artikel. Keharusan menulis secara singkat tetapi cepat ini sangat compatible dengan penulisan tentang sejarah. Pelurusan sejarah menjadi lebih bermakna ketika ditulis di koran atau di  majalah, ketimbang pelurusan sejarah itu dilakukan terbatas di dalam kelas saja. Dengan disebarkan melalui media massa di koran, di majalah, di televisi ini akan menjadi pelurusan sejarah yang menurut hemat saya itu lebih luas jangkauannya. Selain itu hal yang saya kerjakan dengan senang hati, kecintaan saya menulis artikel dan menyampaikannya ke kalangan luas sesuatu yang menurut saya relatif baru tentang masa lampau, tentang persoalan-persoalan yang mungkin bisa merubah perspektif orang tentang misalnya ketika terjadi konflik tentang Muhammadiyah dan Ahmadiyah maka saya menulis bahwa pendiri Ahmadiyah di Yogyakarta itu adalah salah satunya adalah anak dari Kyai Ahmad Dahlan. Saya sengaja menulis tentang itu karena sebenarnya pendiri organisasi keagamaan tersebut bersaudara Ahmadiyah, Muhammadiyah, NU. Kalau pendiri ajaran tersebut bersaudara meskipun mereka berbeda pendapat tetapi tidak saling membunuh mengapa sekarang kita seperti ini. Beda pendapat boleh tetapi mengapa harus diselesaikan dengan kekerasan.

Menurut pendapat Mas Asvi mengapa Nabil memilih Mas Asvi sebagai salah satu orang yang berhak menerima penghargaan?

Karena saya secara berkala, secara teratur saya menulis di media massa tentang sejarah. Itu satu poin tersendiri. Tidak semua sejarawan menulis di media massa. Banyak sejarawan lain tetapi yang menulis di media massa sangat terbatas. Saya termasuk diantaranya. Saya dianggap ikut mempopulerkan sejarah yang intinya macam-macam seperti pengajaran masa lampau, nilai-nilai yang baik pada masa lampau, contoh kepribadian yang bagus dan patut atau harus kita contoh pada masa lalu yang saya sampaikan melalui tulisan. Itu yang mereka hargai. Disamping itu juga saya juga berusaha mengusulkan John Lie meskipun saya tidak berlatar belakang keluarga Tionghoa sebagai pahlawan nasional. Saya berpandangan sejak tahun 1959 hingga tahun 2009 tidak ada orang Tionghoa yang menjadi pahlawan nasional. Padahal seharusnya ini merupakan representasi segenap komponen bangsa sebagai etnis yang ikut berjuang. John Lie pasca tahun 1945 berjuang untuk memerpertahankan kemerdekaan Indonesia. Ini berhasil tahun lalu. Penghargaan Nabil ini baangkali terkait pula dengan  penghargaan atas upaya saya dalam mengusulkan John Lie sebagai pahlawan nasional yang sudah saya rintis bertahun-tahun sebelumnya. Di samping itu saya terus berupaya agar di dalam kurikulum tentang sejarah itu diajarkan di bangku sekolah tentang pentingnya kebudayaan atau sumbangan kebudayaan Tionghoa. Selama ini yang diajarkan di bangku sekolah hanyalah sumbangan kebudayaan Islam, Hindu, Budha dan kebudayaan barat. Padahal sangat besar sumbangan kebudayaan Tionghoa dalam perkembangan teknologi yang sederhana pada saat itu seperti bagaimana cara membuat kuali, cara membuat kebutuhan dapur, tambak, budidaya berbagai tanaman, pembuatan garam dsb.

Siapa itu Eddy Lembong?

Eddy Lembong adalah pemilik sebuah perusahaan obat Pharos. Dia bergerak dalam bidang farmasi tetapi dia sejak dari era reformasi ini dia memang mulai berpikiran untuk mempertemukan etnis yang berbeda. Hal ini didasari pada proses reformasi tahun 1998 yang memakan korban banyak dari etnis Tionghoa termasuk kasus perkosaan meskipun disangkal tetapi dalam kenyataannya itu terjadi. Eddy Lembong ini kemudian berpikir tidak ada jalan lain untuk mempertemukan kedua etnis dari Tionghoa dan non Tionghoa untuk saling berkomunikasi. Kemudian dia mendirikan  Perhimpuan INTI (Indonesia Tionghoa) yang setelah dua kali menjabat dalam organisasi tersebut dia merasa tidak enak jika harus menduduki jabatan tersebut. Kemudian Eddy Lembong mendirikan Yayasan Nabil (Nation Building) antara lain memberikan award disamping penerbitan buku pada orang-orang yang berjasa mengembangkan komunikasi atau hubungan timbal balik antara Tionghoa dan Non Tionghoa. Orang-orang seperti Ibu Mely Tan itu tahun  lalu mendapat penghargaan ini, Leo Suryadinata tahun sebelumnya, Claudine Salmon juga. Mereka adalah orang-orang yang menulis tentang kebudayaan Tionghoa dan perannya di dalam kebudayaan Nusantara ini.

Penyandang dana dari yayasan ini siapa?

Penyandang dana dari Eddy Lembong karena dia adalah pemilik perusahaan Pharos.

Seberapa penting Nabil bagi Mas Asvi?

Penting karena ini lembaga yang memberi perhatian pada hal-hal yang telah saya ceritakan tadi. Dari namanya saja Nation Building  terlepas dari dia didukung oleh seorang pengusaha tetapi tujuan dari yayasan ini adalah penguatan Nation Building yang menurut saya sangat penting. Kalau boleh ditambah character building selain nation building yang dahulu pada masa Soekarno selalu dipidatokan, bagaimana kita meningkatkan nation character building yang akhir-akhir ini semakin lemah. Maka perlu bagaimana meningkatkan pembangunan karakter bangsa dan yayasan ini menyumbang sedikit untuk itu melalui penerbitan buku dengan rencananya akan memberikan beasiswa dan sebagainya. Selain juga memberikan hadiah setiap tahun kepada orang-orang di bidang ilmu sosial yang mencoba menjembatani hubungan antara Tionghoa dan orang non Tionghoa.

Siapa saja yang terlibat  dalam yayasan tersebut?

Yang jelas ini organisasi non profit tetapi dananya dari mana saja saya sendiri kurang tahu. Mungkin dana terbesar dari perusahaan obat tersebut. Kiprah yayasan ini selain memberikan penghargaan dan memberikan beasiswa, juga membeli buku-buku milik Syafii Ma’arif, Siti Musdah Mulia yang dianggap bisa memperkuat pemahaman orang tentang Indonesia dan Islam untuk kemudian disebarkan. .  

Kontribusi Nabil terhadap karir Mas Asvi k edepannya apa?

Ini semacam penghargaan yang harus disyukuri. Sekali lagi melalui penghargaan ini justru mendorong saya untuk meneruskan upaya yang belum selesai ini. Seperti misalnya bagaimana menerbitkan buku-buku tentang sumbangan budaya Tionghoa terhadap perkembangan Indonesia, kemudian menerbitkan buku-buku yang lain tentang korban sejarah sehingga bagi saya ini merupakan momentum awal untuk meneruskan upaya yang sudah dilakuan selama ini. Penghargaan ini memperlihatkan bahwa upaya atau jerih payah itu tidak sia-sia. Paling tidak ada sedikit orang yang menghargai dan itu cukup bagi saya untuk meneruskan gerakan-gerakan atau apa saja yang lakukan selama ini. Saya sendiri juga melihat bahwa pendekatan yang saya lakukan mungkin berbeda dengan teman-teman di sini yang mungkin mereka masih membedakan politik yang seperti diterima dalam bangku perkuliahan. Saya sangat setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Muridan waktu seminar akhir tempo dulu bahwa politik tidak serta merta apa yang ada di dalam lembaga-lembaga seperti DPR, politik itu banyak dan cakupannya sangat luas. Sejarah itu menurut saya adalah politik pada masa lampau yang sebetulnya kita pelajari untuk mengambil hikmahnya.

Berapa bersaudara dalam keluarga?

Empat bersaudara dan saya anak ketiga. Kakak saya seorang profesor di UNRI (Universitas Riau) tetapi sudah pensiun. Kakak saya yang paling tua kerja di swasta. Sementara adik saya kerja di Caltex, lulusan arsitek UGM lalu kemudian pindah ke swasta.

Jika melihat latar belakang keluarga Mas Asvi sangat kental dengan pendidikan?

Mereka (orang tua) adalah orang-orang yang dididik dalam lingkungan Belanda. Meski sebagai pedagang kecil tetapi sangat menganggap penting pendidikan. Kakak tertua saya tidak sampai selesai pendidikan karena ikut PRRI. Dia dahulu di Fakultas Kedokteran di Bukittinggi tetapi ikut PRRI dan pulang tidak lagi bisa sekolah. Hanya dia yang tidak selesai pendidikan sarjana sementara adik-adiknya bisa menyelesaikan pendidikan hingga sarjana.

Apakah istri di LIPI juga?

Istri saya di PDII tetapi sekarang sudah tidak lagi bekerja di sana. Dahulu ketika saya mau sekolah ke luar negeri, istri saya baru dua tahun kerja di sana dan belum boleh cuti di luar tanggungan negara. Sementara di Perancis saya sekolah selama enam tahun dan ketika kembali ke Indonesia istri saya tidak bisa kembali lagi ke LIPI. Kebijakan di LIPI pada tahun 1990 setelah enam tahun saya tinggalkan sekolah di Perancis telah mengalami perubahan dalam arti pegawai LIPI minimal berpendidikan  sarjana sementara istri saya baru sarjana muda.

Apa benar latar belakangnya sebagai pustakawati?

Tidak, background pendidikannya dari sarjana muda ekonomi. Memang dahulu keberadaan istri di PDII sangat mendukung pekerjaan saya terutama dalam mensupport dalam mencari data tetapi sekarang sudah tidak lagi.

Demikian petikan wawancara tim web dengan Mas Asvi. 

Ditulis oleh: Septi Satriani